alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Keberadaan Pengrajin Kuningan Kian Menipis

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tempat-tempat usaha pengrajin kuningan dengan berbagai bentuk di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, kini banyak yang harus menghentikan produksinya. Serta tidak jarang para pengrajin harus gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan pengrajin lainnya. Ditambah dengan adanya pandemi yang melanda Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, jumlah toko pengrajin yang ada di desa tersebut, saat ini hanya tinggal tiga toko saja. Padahal sebelumnya ditempat tersebut terdapat tujuh toko pinggiran yang memasarkan berbagai hasil kerajinan kuningan dengan berbagai bentuk.

Salah satu pengrajin Kuningan yang masih tetap bertahan adalah keluarga Abdullah. Selama masa pandemi usahanya sangat sepi dari pembeli. Bahkan pernah pada awal masuknya pandemi ke Indonesia, beberapa bulan tidak ada pembeli sama sekali. “Selama hampir tiga bulan gak ada sama sekali pembeli, saat habis lebaran tahun lalu,” terang Nyonya Abdullah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya juga menjelaskan, dari sepinya para pembeli, membuat pihaknya baru memproduksi kuningan kalau sudah ada pesanan dari luar. Serta ketika mendapatkan rejeki tambahan pihaknya baru akan memproduksi, digunakan sebagai stok cetakan. “Jadi cetakannya itu yang lama. Bahkan bisa mencapai satu bulan prosesnya,” terangnya.

“Kalau kuningannya murah, dalam satu kilonya paling mahal Rp 55 ribu. Tapi cara kerjanya yang susah. Serta prosesnya yang membutuhkan waktu yang lama. Itu yang membuat harga kerajinan ini lumayan tinggi,” lanjutnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tempat-tempat usaha pengrajin kuningan dengan berbagai bentuk di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, kini banyak yang harus menghentikan produksinya. Serta tidak jarang para pengrajin harus gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan pengrajin lainnya. Ditambah dengan adanya pandemi yang melanda Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, jumlah toko pengrajin yang ada di desa tersebut, saat ini hanya tinggal tiga toko saja. Padahal sebelumnya ditempat tersebut terdapat tujuh toko pinggiran yang memasarkan berbagai hasil kerajinan kuningan dengan berbagai bentuk.

Salah satu pengrajin Kuningan yang masih tetap bertahan adalah keluarga Abdullah. Selama masa pandemi usahanya sangat sepi dari pembeli. Bahkan pernah pada awal masuknya pandemi ke Indonesia, beberapa bulan tidak ada pembeli sama sekali. “Selama hampir tiga bulan gak ada sama sekali pembeli, saat habis lebaran tahun lalu,” terang Nyonya Abdullah.

Dirinya juga menjelaskan, dari sepinya para pembeli, membuat pihaknya baru memproduksi kuningan kalau sudah ada pesanan dari luar. Serta ketika mendapatkan rejeki tambahan pihaknya baru akan memproduksi, digunakan sebagai stok cetakan. “Jadi cetakannya itu yang lama. Bahkan bisa mencapai satu bulan prosesnya,” terangnya.

“Kalau kuningannya murah, dalam satu kilonya paling mahal Rp 55 ribu. Tapi cara kerjanya yang susah. Serta prosesnya yang membutuhkan waktu yang lama. Itu yang membuat harga kerajinan ini lumayan tinggi,” lanjutnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tempat-tempat usaha pengrajin kuningan dengan berbagai bentuk di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, kini banyak yang harus menghentikan produksinya. Serta tidak jarang para pengrajin harus gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan pengrajin lainnya. Ditambah dengan adanya pandemi yang melanda Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, jumlah toko pengrajin yang ada di desa tersebut, saat ini hanya tinggal tiga toko saja. Padahal sebelumnya ditempat tersebut terdapat tujuh toko pinggiran yang memasarkan berbagai hasil kerajinan kuningan dengan berbagai bentuk.

Salah satu pengrajin Kuningan yang masih tetap bertahan adalah keluarga Abdullah. Selama masa pandemi usahanya sangat sepi dari pembeli. Bahkan pernah pada awal masuknya pandemi ke Indonesia, beberapa bulan tidak ada pembeli sama sekali. “Selama hampir tiga bulan gak ada sama sekali pembeli, saat habis lebaran tahun lalu,” terang Nyonya Abdullah.

Dirinya juga menjelaskan, dari sepinya para pembeli, membuat pihaknya baru memproduksi kuningan kalau sudah ada pesanan dari luar. Serta ketika mendapatkan rejeki tambahan pihaknya baru akan memproduksi, digunakan sebagai stok cetakan. “Jadi cetakannya itu yang lama. Bahkan bisa mencapai satu bulan prosesnya,” terangnya.

“Kalau kuningannya murah, dalam satu kilonya paling mahal Rp 55 ribu. Tapi cara kerjanya yang susah. Serta prosesnya yang membutuhkan waktu yang lama. Itu yang membuat harga kerajinan ini lumayan tinggi,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/