alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pekan Depan Sekolah Tatap Muka di Bondowoso Enam Jam Sehari

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada SD hingga SMP di Bondowoso akan dilaksanakan sesuai dengan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini kabupaten yang terkenal dengan sebutan Kota Tape ini sudah masuk dalam level dua. Oleh sebab itu, waktu belajar di sekolah dapat ditambah menjadi enam jam dalam satu hari, dari yang sebelumnya hanya dua jam saja.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Bondowoso Sugiono Eksantoso menyampaikan, pembelajaran selama enam jam akan diberlakukan mulai pekan depan. Meski demikian, untuk sekolah yang siswanya lebih dari seratus orang tetap tidak boleh dilakukan secara bersamaan atau PTM 100 persen. “Kebijakan saya kalau di bawah seratus (siswa, Red) tak suruh masuk semua,” katanya.

Menurut Sugiono, satu kelas maksimal diisi oleh 20 hingga 30 siswa. Dengan jumlah itu, dinilai masih memungkinkan untuk dilakukan pembatasan tempat duduk dan sebagainya. “Itu masih bisa tertata dengan baik,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikonfirmasi terkait PTM yang masih akan digelar secara bertahap, Sugiono menegaskan para kepala sekolah harus memiliki inovasi-inovasi di tengah sistem pendidikan Merdeka Belajar. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah dengan membentuk kelompok belajar (pokjar) di sekitar tempat tinggal para siswa. Serta dapat bekerja sama dengan desa, sehingga pembelajaran juga dapat dilakukan di balai desa. “Gurunya datangi ke sana. Gantian, sehingga tetap enam jam,” ucapnya.

Dari hal itu, dirinya menjelaskan, para siswa tidak hanya menunggu belajar di sekolah. Sebab, dalam Merdeka Belajar, para siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar tidak harus dibatasi oleh ruang kelas.

Selain itu, mantan kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Situbondo-Bondowoso ini juga menyampaikan, kegiatan belajar diharapkan tidak lagi dilakukan dengan sistem online (daring). Sebab, hal itu dinilai tidak maksimal bagi para siswa. “Akhirnya saya suruh (guru, Red) bikin modul. Sehingga dia (siswa, Red) belajar pakai itu,” cetusnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada SD hingga SMP di Bondowoso akan dilaksanakan sesuai dengan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini kabupaten yang terkenal dengan sebutan Kota Tape ini sudah masuk dalam level dua. Oleh sebab itu, waktu belajar di sekolah dapat ditambah menjadi enam jam dalam satu hari, dari yang sebelumnya hanya dua jam saja.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Bondowoso Sugiono Eksantoso menyampaikan, pembelajaran selama enam jam akan diberlakukan mulai pekan depan. Meski demikian, untuk sekolah yang siswanya lebih dari seratus orang tetap tidak boleh dilakukan secara bersamaan atau PTM 100 persen. “Kebijakan saya kalau di bawah seratus (siswa, Red) tak suruh masuk semua,” katanya.

Menurut Sugiono, satu kelas maksimal diisi oleh 20 hingga 30 siswa. Dengan jumlah itu, dinilai masih memungkinkan untuk dilakukan pembatasan tempat duduk dan sebagainya. “Itu masih bisa tertata dengan baik,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terkait PTM yang masih akan digelar secara bertahap, Sugiono menegaskan para kepala sekolah harus memiliki inovasi-inovasi di tengah sistem pendidikan Merdeka Belajar. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah dengan membentuk kelompok belajar (pokjar) di sekitar tempat tinggal para siswa. Serta dapat bekerja sama dengan desa, sehingga pembelajaran juga dapat dilakukan di balai desa. “Gurunya datangi ke sana. Gantian, sehingga tetap enam jam,” ucapnya.

Dari hal itu, dirinya menjelaskan, para siswa tidak hanya menunggu belajar di sekolah. Sebab, dalam Merdeka Belajar, para siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar tidak harus dibatasi oleh ruang kelas.

Selain itu, mantan kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Situbondo-Bondowoso ini juga menyampaikan, kegiatan belajar diharapkan tidak lagi dilakukan dengan sistem online (daring). Sebab, hal itu dinilai tidak maksimal bagi para siswa. “Akhirnya saya suruh (guru, Red) bikin modul. Sehingga dia (siswa, Red) belajar pakai itu,” cetusnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada SD hingga SMP di Bondowoso akan dilaksanakan sesuai dengan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini kabupaten yang terkenal dengan sebutan Kota Tape ini sudah masuk dalam level dua. Oleh sebab itu, waktu belajar di sekolah dapat ditambah menjadi enam jam dalam satu hari, dari yang sebelumnya hanya dua jam saja.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Bondowoso Sugiono Eksantoso menyampaikan, pembelajaran selama enam jam akan diberlakukan mulai pekan depan. Meski demikian, untuk sekolah yang siswanya lebih dari seratus orang tetap tidak boleh dilakukan secara bersamaan atau PTM 100 persen. “Kebijakan saya kalau di bawah seratus (siswa, Red) tak suruh masuk semua,” katanya.

Menurut Sugiono, satu kelas maksimal diisi oleh 20 hingga 30 siswa. Dengan jumlah itu, dinilai masih memungkinkan untuk dilakukan pembatasan tempat duduk dan sebagainya. “Itu masih bisa tertata dengan baik,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terkait PTM yang masih akan digelar secara bertahap, Sugiono menegaskan para kepala sekolah harus memiliki inovasi-inovasi di tengah sistem pendidikan Merdeka Belajar. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah dengan membentuk kelompok belajar (pokjar) di sekitar tempat tinggal para siswa. Serta dapat bekerja sama dengan desa, sehingga pembelajaran juga dapat dilakukan di balai desa. “Gurunya datangi ke sana. Gantian, sehingga tetap enam jam,” ucapnya.

Dari hal itu, dirinya menjelaskan, para siswa tidak hanya menunggu belajar di sekolah. Sebab, dalam Merdeka Belajar, para siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar tidak harus dibatasi oleh ruang kelas.

Selain itu, mantan kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Situbondo-Bondowoso ini juga menyampaikan, kegiatan belajar diharapkan tidak lagi dilakukan dengan sistem online (daring). Sebab, hal itu dinilai tidak maksimal bagi para siswa. “Akhirnya saya suruh (guru, Red) bikin modul. Sehingga dia (siswa, Red) belajar pakai itu,” cetusnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/