alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Dispensasi Nikah di Bondowoso Masih Marak

Tidak Semua Dispensasi Diproses

Mobile_AP_Rectangle 1

Lebih lanjut, dia kemudian menegaskan, jika tanpa alasan mendesak, kemudian usia dari calon pengantin belum memenuhi sesuai dengan undang-undang, maka biasanya ia akan meminta calon pengantin untuk menunda menikah, hingga usianya mencukupi. “Berdasarkan undang-undang yang sekarang ini harus 19 tahun. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan itu sama 19 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso H Tohari menyampaikan, untuk mencegah pernikahan dini, pihaknya mengaku akan terus menggencarkan sosialisasi ke desa-desa. “Pertama Desa Sumberpakem, Maesan, kemudian Desa Mengen, Tamanan. Terus satunya Desa Sumberanyar, Maesan,” imbuhnya.

Dipilihnya tiga desa itu ternyata bukan tanpa alasan. Menurut dia, dalam tiga desa yang ia pilih, banyak kasus pernikahan yang tidak melewati Kantor Urusan Agama (KUA) atau sering disebut pernikahan siri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam kesempatan itu, lanjut Tohari, akan diberikan pemahaman terkait bahaya pernikahan dini serta bahaya dari pernikahan siri. “Dispensasi itu oleh pengadilan bisa dikabulkan, bisa tidak juga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

Lebih lanjut, dia kemudian menegaskan, jika tanpa alasan mendesak, kemudian usia dari calon pengantin belum memenuhi sesuai dengan undang-undang, maka biasanya ia akan meminta calon pengantin untuk menunda menikah, hingga usianya mencukupi. “Berdasarkan undang-undang yang sekarang ini harus 19 tahun. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan itu sama 19 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso H Tohari menyampaikan, untuk mencegah pernikahan dini, pihaknya mengaku akan terus menggencarkan sosialisasi ke desa-desa. “Pertama Desa Sumberpakem, Maesan, kemudian Desa Mengen, Tamanan. Terus satunya Desa Sumberanyar, Maesan,” imbuhnya.

Dipilihnya tiga desa itu ternyata bukan tanpa alasan. Menurut dia, dalam tiga desa yang ia pilih, banyak kasus pernikahan yang tidak melewati Kantor Urusan Agama (KUA) atau sering disebut pernikahan siri.

Dalam kesempatan itu, lanjut Tohari, akan diberikan pemahaman terkait bahaya pernikahan dini serta bahaya dari pernikahan siri. “Dispensasi itu oleh pengadilan bisa dikabulkan, bisa tidak juga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Lebih lanjut, dia kemudian menegaskan, jika tanpa alasan mendesak, kemudian usia dari calon pengantin belum memenuhi sesuai dengan undang-undang, maka biasanya ia akan meminta calon pengantin untuk menunda menikah, hingga usianya mencukupi. “Berdasarkan undang-undang yang sekarang ini harus 19 tahun. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan itu sama 19 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso H Tohari menyampaikan, untuk mencegah pernikahan dini, pihaknya mengaku akan terus menggencarkan sosialisasi ke desa-desa. “Pertama Desa Sumberpakem, Maesan, kemudian Desa Mengen, Tamanan. Terus satunya Desa Sumberanyar, Maesan,” imbuhnya.

Dipilihnya tiga desa itu ternyata bukan tanpa alasan. Menurut dia, dalam tiga desa yang ia pilih, banyak kasus pernikahan yang tidak melewati Kantor Urusan Agama (KUA) atau sering disebut pernikahan siri.

Dalam kesempatan itu, lanjut Tohari, akan diberikan pemahaman terkait bahaya pernikahan dini serta bahaya dari pernikahan siri. “Dispensasi itu oleh pengadilan bisa dikabulkan, bisa tidak juga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/