29.3 C
Jember
Friday, 2 December 2022

Jangan Anggap Remeh DBD, 173 Kasus DBD di Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, Radar Ijen – Kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso hingga bulan September ini sudah mencapai sekitar 173 orang. Jumlah tersebut diprediksikan bisa bertambah bila kebersihan lingkungan masyarakat tidak dijaga. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan.

BACA JUGA : Memperbaiki Tata Kelola Pembangunan Infrastruktur Desa

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso Tuhu Suryono mengatakan, hingga September 2022 ada 173 kasus DBD. Dinkes juga terus melakukan antisipasi agar penyebaran DBD bisa dikendalikan. Yaitu dengan cara fogging di beberapa wilayah yang memiliki kasus DBD.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tuhu mengaku, hingga kini selalu ada pasien yang dirawat karena menderita DBD. Oleh sebab itu, kata Tuhu, selain upaya fogging, masyarakat juga perlu melakukan pencegahan sejak dini. Yakni menjaga lingkungan tetap bersih. Di antaranya melindungi air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Dengan cara menutup, menguras, dan menimbun (3M). “Masyarakat harus meningkatkan 3M,” jelasnya

Pencegahan itu harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebagai upaya mengantisipasi keamanan diri dari serangan DBD. Menurutnya, masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan rutin pada setiap genangan air. Baik di kamar mandi maupun di sekitar rumah. “Jika air di bak kamar mandi menjadi sarang nyamuk, maka air harus dikuras,” ucapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat, jika terdapat gejala demam yang tidak sertai flu, maka hendaknya langsung melakukan pemeriksaan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Sebab, bila telat penanganan DBD ini memiliki tingkat fatal hingga kematian. Oleh karena itu, jangan anggap sepele DBD. Dirinya tetap mengupayakan agar tidak ada penambahan DBD, melainkan berupaya untuk menurunkan.  (aln/c2/dwi)

- Advertisement -

DABASAH, Radar Ijen – Kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso hingga bulan September ini sudah mencapai sekitar 173 orang. Jumlah tersebut diprediksikan bisa bertambah bila kebersihan lingkungan masyarakat tidak dijaga. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan.

BACA JUGA : Memperbaiki Tata Kelola Pembangunan Infrastruktur Desa

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso Tuhu Suryono mengatakan, hingga September 2022 ada 173 kasus DBD. Dinkes juga terus melakukan antisipasi agar penyebaran DBD bisa dikendalikan. Yaitu dengan cara fogging di beberapa wilayah yang memiliki kasus DBD.

Tuhu mengaku, hingga kini selalu ada pasien yang dirawat karena menderita DBD. Oleh sebab itu, kata Tuhu, selain upaya fogging, masyarakat juga perlu melakukan pencegahan sejak dini. Yakni menjaga lingkungan tetap bersih. Di antaranya melindungi air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Dengan cara menutup, menguras, dan menimbun (3M). “Masyarakat harus meningkatkan 3M,” jelasnya

Pencegahan itu harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebagai upaya mengantisipasi keamanan diri dari serangan DBD. Menurutnya, masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan rutin pada setiap genangan air. Baik di kamar mandi maupun di sekitar rumah. “Jika air di bak kamar mandi menjadi sarang nyamuk, maka air harus dikuras,” ucapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat, jika terdapat gejala demam yang tidak sertai flu, maka hendaknya langsung melakukan pemeriksaan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Sebab, bila telat penanganan DBD ini memiliki tingkat fatal hingga kematian. Oleh karena itu, jangan anggap sepele DBD. Dirinya tetap mengupayakan agar tidak ada penambahan DBD, melainkan berupaya untuk menurunkan.  (aln/c2/dwi)

DABASAH, Radar Ijen – Kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso hingga bulan September ini sudah mencapai sekitar 173 orang. Jumlah tersebut diprediksikan bisa bertambah bila kebersihan lingkungan masyarakat tidak dijaga. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan.

BACA JUGA : Memperbaiki Tata Kelola Pembangunan Infrastruktur Desa

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso Tuhu Suryono mengatakan, hingga September 2022 ada 173 kasus DBD. Dinkes juga terus melakukan antisipasi agar penyebaran DBD bisa dikendalikan. Yaitu dengan cara fogging di beberapa wilayah yang memiliki kasus DBD.

Tuhu mengaku, hingga kini selalu ada pasien yang dirawat karena menderita DBD. Oleh sebab itu, kata Tuhu, selain upaya fogging, masyarakat juga perlu melakukan pencegahan sejak dini. Yakni menjaga lingkungan tetap bersih. Di antaranya melindungi air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Dengan cara menutup, menguras, dan menimbun (3M). “Masyarakat harus meningkatkan 3M,” jelasnya

Pencegahan itu harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebagai upaya mengantisipasi keamanan diri dari serangan DBD. Menurutnya, masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan rutin pada setiap genangan air. Baik di kamar mandi maupun di sekitar rumah. “Jika air di bak kamar mandi menjadi sarang nyamuk, maka air harus dikuras,” ucapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat, jika terdapat gejala demam yang tidak sertai flu, maka hendaknya langsung melakukan pemeriksaan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.  Sebab, bila telat penanganan DBD ini memiliki tingkat fatal hingga kematian. Oleh karena itu, jangan anggap sepele DBD. Dirinya tetap mengupayakan agar tidak ada penambahan DBD, melainkan berupaya untuk menurunkan.  (aln/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/