alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Mampu Mengatasi Hantaman Kedelai dan Minyak Naik

Bondowoso tidak hanya dikenal dengan oleh-oleh khasnya, tape singkong. Ada satu lagi yang bisa jadi referensi, bahkan juga telah jadi jujukan wisata edukasi. Yaitu tahu Tamanan. Dari proses produksi hingga siap santap, semua ada.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – TAHU Tamanan, begitulah tulisan yang tertera pada penjual tahu di SPBU Jelbuk, Jember. tahu dari Kecamatan Tamanan, Bondowoso, memang sudah dikenal oleh masyarakat. Mencari sentra tahu, ya di Kecamatan Tamanan tempatnya. Tepatnya di Desa Kalianyar.

Bahkan, saking banyaknya perajin tahu di Desa Kalianyar tersebut, hingga dusun setempat disebut Dusun Tahuan. Setidaknya ada 35 perajin tahun di desa tersebut dan telah puluhan tahun produksi tahu.

Jawa Pos Radar Ijen mengunjungi sentra pembuatan Tahun Tamanan tersebut. Saat menanyakan ke warga, di mana lokasi pembuatan tahu, jawabannya tidak sama. Maklum saja, tempat produksinya cukup banyak. “Lurus saja, ada perempatan belok kiri. Ada juga dari perempatan lurus terus nanti ada rumah kanan jalan, atau tanya lagi di sana,” ucap Subaidah, warga Tamanan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tahun memang menjadi cerita tersendiri bagi perajin tahu tempe. Sebelum Ramadan, kedelai impor mengalami kenaikan, sedangkan saat ini minyak goreng juga melejit. Namun, ternyata aktivitas produksi tahu Tamanan tidak berhenti. “Sehari menghasilkan 800 kilogram hingga satu kuintal,” ucap Reko Waryandono, pemilik usaha tahu.

Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha dari orang tuanya. Bahkan, saat ini sudah memiliki karyawan hingga enam orang. Menurutnya, proses pembuatan tahu dari kedelai hingga selesai membutuhkan waktu yang relatif panjang. “Jadi, pertama itu kan kedelai direndam sekitar 4 jam. Kemudian dicuci bersih, dibuang kulitnya. Lalu digiling,” jelasnya.

Selain itu, kedelai yang digiling kemudian diperas hingga terpisah antara sari pati dengan ampas. Lalu, sari pati hasil perasan dihangatkan. “Tidak dihangatkan pada api langsung. Tapi pakai uap air,” paparnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – TAHU Tamanan, begitulah tulisan yang tertera pada penjual tahu di SPBU Jelbuk, Jember. tahu dari Kecamatan Tamanan, Bondowoso, memang sudah dikenal oleh masyarakat. Mencari sentra tahu, ya di Kecamatan Tamanan tempatnya. Tepatnya di Desa Kalianyar.

Bahkan, saking banyaknya perajin tahu di Desa Kalianyar tersebut, hingga dusun setempat disebut Dusun Tahuan. Setidaknya ada 35 perajin tahun di desa tersebut dan telah puluhan tahun produksi tahu.

Jawa Pos Radar Ijen mengunjungi sentra pembuatan Tahun Tamanan tersebut. Saat menanyakan ke warga, di mana lokasi pembuatan tahu, jawabannya tidak sama. Maklum saja, tempat produksinya cukup banyak. “Lurus saja, ada perempatan belok kiri. Ada juga dari perempatan lurus terus nanti ada rumah kanan jalan, atau tanya lagi di sana,” ucap Subaidah, warga Tamanan.

Tahun memang menjadi cerita tersendiri bagi perajin tahu tempe. Sebelum Ramadan, kedelai impor mengalami kenaikan, sedangkan saat ini minyak goreng juga melejit. Namun, ternyata aktivitas produksi tahu Tamanan tidak berhenti. “Sehari menghasilkan 800 kilogram hingga satu kuintal,” ucap Reko Waryandono, pemilik usaha tahu.

Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha dari orang tuanya. Bahkan, saat ini sudah memiliki karyawan hingga enam orang. Menurutnya, proses pembuatan tahu dari kedelai hingga selesai membutuhkan waktu yang relatif panjang. “Jadi, pertama itu kan kedelai direndam sekitar 4 jam. Kemudian dicuci bersih, dibuang kulitnya. Lalu digiling,” jelasnya.

Selain itu, kedelai yang digiling kemudian diperas hingga terpisah antara sari pati dengan ampas. Lalu, sari pati hasil perasan dihangatkan. “Tidak dihangatkan pada api langsung. Tapi pakai uap air,” paparnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – TAHU Tamanan, begitulah tulisan yang tertera pada penjual tahu di SPBU Jelbuk, Jember. tahu dari Kecamatan Tamanan, Bondowoso, memang sudah dikenal oleh masyarakat. Mencari sentra tahu, ya di Kecamatan Tamanan tempatnya. Tepatnya di Desa Kalianyar.

Bahkan, saking banyaknya perajin tahu di Desa Kalianyar tersebut, hingga dusun setempat disebut Dusun Tahuan. Setidaknya ada 35 perajin tahun di desa tersebut dan telah puluhan tahun produksi tahu.

Jawa Pos Radar Ijen mengunjungi sentra pembuatan Tahun Tamanan tersebut. Saat menanyakan ke warga, di mana lokasi pembuatan tahu, jawabannya tidak sama. Maklum saja, tempat produksinya cukup banyak. “Lurus saja, ada perempatan belok kiri. Ada juga dari perempatan lurus terus nanti ada rumah kanan jalan, atau tanya lagi di sana,” ucap Subaidah, warga Tamanan.

Tahun memang menjadi cerita tersendiri bagi perajin tahu tempe. Sebelum Ramadan, kedelai impor mengalami kenaikan, sedangkan saat ini minyak goreng juga melejit. Namun, ternyata aktivitas produksi tahu Tamanan tidak berhenti. “Sehari menghasilkan 800 kilogram hingga satu kuintal,” ucap Reko Waryandono, pemilik usaha tahu.

Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha dari orang tuanya. Bahkan, saat ini sudah memiliki karyawan hingga enam orang. Menurutnya, proses pembuatan tahu dari kedelai hingga selesai membutuhkan waktu yang relatif panjang. “Jadi, pertama itu kan kedelai direndam sekitar 4 jam. Kemudian dicuci bersih, dibuang kulitnya. Lalu digiling,” jelasnya.

Selain itu, kedelai yang digiling kemudian diperas hingga terpisah antara sari pati dengan ampas. Lalu, sari pati hasil perasan dihangatkan. “Tidak dihangatkan pada api langsung. Tapi pakai uap air,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/