alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Hutan Kota kok Resapannya Buruk

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KEBERADAAN hutan kota di Alun-Alun RBA Ki Ronggo masih menyisakan kendala hingga saat ini. Utamanya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Pasalnya, biopori yang digunakan sebagai resapan air bermasalah dan tidak berfungsi optimal. Akibatnya, di tempat tersebut sering terjadi genangan air.

Kabid Perlindungan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati Syahrial Fary mengatakan, keberadaan hutan kota saat ini memang sedang mengalami kendala dalam penyerapan air, khususnya saat terjadi hujan lebat. Walaupun demikian, pihaknya belum dapat merevitalisasi secara keseluruhan sumber masalah yang terjadi. Mengingat, anggaran untuk perbaikan itu terbatas, imbas dari refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19.

Menggenangnya air dalam waktu tertentu setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi, lanjut Syahrial, diakibatkan sejumlah biopori yang digunakan untuk resapan air tidak berfungsi secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan rehabilitasi total, bukan sekadar perawatan. “Sehingga itu memiliki daya serap yang bagus,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk melakukan revitalisasi, menurutnya, diperlukan anggaran yang tidak sedikit. Yakni kurang lebih Rp 150–200 juta. Sebab, jika hanya dilakukan perawatan ringan saja, maka dapat dipastikan dalam beberapa waktu biopori tidak berfungsi optimal kembali. “Tapi, tetap bagaimana caranya kondisi yang ada saat ini bisa kami atasi,” ujarnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KEBERADAAN hutan kota di Alun-Alun RBA Ki Ronggo masih menyisakan kendala hingga saat ini. Utamanya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Pasalnya, biopori yang digunakan sebagai resapan air bermasalah dan tidak berfungsi optimal. Akibatnya, di tempat tersebut sering terjadi genangan air.

Kabid Perlindungan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati Syahrial Fary mengatakan, keberadaan hutan kota saat ini memang sedang mengalami kendala dalam penyerapan air, khususnya saat terjadi hujan lebat. Walaupun demikian, pihaknya belum dapat merevitalisasi secara keseluruhan sumber masalah yang terjadi. Mengingat, anggaran untuk perbaikan itu terbatas, imbas dari refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19.

Menggenangnya air dalam waktu tertentu setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi, lanjut Syahrial, diakibatkan sejumlah biopori yang digunakan untuk resapan air tidak berfungsi secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan rehabilitasi total, bukan sekadar perawatan. “Sehingga itu memiliki daya serap yang bagus,” katanya.

Untuk melakukan revitalisasi, menurutnya, diperlukan anggaran yang tidak sedikit. Yakni kurang lebih Rp 150–200 juta. Sebab, jika hanya dilakukan perawatan ringan saja, maka dapat dipastikan dalam beberapa waktu biopori tidak berfungsi optimal kembali. “Tapi, tetap bagaimana caranya kondisi yang ada saat ini bisa kami atasi,” ujarnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KEBERADAAN hutan kota di Alun-Alun RBA Ki Ronggo masih menyisakan kendala hingga saat ini. Utamanya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Pasalnya, biopori yang digunakan sebagai resapan air bermasalah dan tidak berfungsi optimal. Akibatnya, di tempat tersebut sering terjadi genangan air.

Kabid Perlindungan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati Syahrial Fary mengatakan, keberadaan hutan kota saat ini memang sedang mengalami kendala dalam penyerapan air, khususnya saat terjadi hujan lebat. Walaupun demikian, pihaknya belum dapat merevitalisasi secara keseluruhan sumber masalah yang terjadi. Mengingat, anggaran untuk perbaikan itu terbatas, imbas dari refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19.

Menggenangnya air dalam waktu tertentu setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi, lanjut Syahrial, diakibatkan sejumlah biopori yang digunakan untuk resapan air tidak berfungsi secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan rehabilitasi total, bukan sekadar perawatan. “Sehingga itu memiliki daya serap yang bagus,” katanya.

Untuk melakukan revitalisasi, menurutnya, diperlukan anggaran yang tidak sedikit. Yakni kurang lebih Rp 150–200 juta. Sebab, jika hanya dilakukan perawatan ringan saja, maka dapat dipastikan dalam beberapa waktu biopori tidak berfungsi optimal kembali. “Tapi, tetap bagaimana caranya kondisi yang ada saat ini bisa kami atasi,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/