alexametrics
30.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Umi Khalifah Perias Make-Up Karakter, Kini Banyak yang Minta Menjadi Model

Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Prinsip tersebut dipegang teguh oleh Umi Khalifah, seorang perias make-up karakter yang konsisten merias wajahnya sedemikian rupa. Meski sempat dilarang orang tua dan diejek oleh temannya, dia membuktikan bahwa usahanya tidak sia-sia.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hiasan warna-warni terlihat di wajah Umi Khalifah. Sepintas, gambar riasan pada wajahnya tampak seperti hasil filter kamera. Tapi, jika diperhatikan, ternyata lukisan di wajah tersebut asli dari karya tangannya. Perempuan kelahiran Negara, Bali, yang saat ini tinggal di Bondowoso ini memang rutin setiap hari merias wajahnya sebelum mandi.

Alumnus UIN KHAS Jember ini memang sudah menyukai make-up sejak kecil. Tapi, hobinya sempat dilarang oleh orang tua dan keluarganya. Sebab, dia masih kecil dan dianggap tidak pantas untuk make-up menor, sebagaimana orang dewasa pada umumnya.

Meski demikian, dia tidak berhenti untuk merias wajahnya. Biasanya sebelum mandi dia merias di kamarnya. Sebelum itu, semua pintu kamar dikunci. Karena takut ketahuan orang tuanya. “Dulu pas SMP sudah mulai coba make-up,” ungkap Umi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, untuk melakukan hobinya, Umi pernah melakukan make-up menggunakan krayon karena dilarang membeli peralatan make-up oleh keluarganya. Akhirnya, warna-warna krayon dia aplikasikan pada wajahnya. Namun, make-up menggunakan krayon itu hanya dilakukan di kamarnya. Jika akan keluar kamar, maka riasan di wajahnya dibersihkan terlebih dahulu.

Setelah beberapa waktu, dia kemudian vakum untuk make-up. Terlebih, dia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Baru setelah kuliah di UIN KHAS Jember, Umi mulai kembali merias wajahnya di tempat kosnya. Pada waktu itu, dia belum menyentuh pada make-up artist profesional. Artinya, belum bisa membuat ukiran alis dan sebagainya.

Kemudian, saat pandemi 2020 lalu, dia mulai menyentuh ke make-up karakter. Karena kebingungan melakukan kegiatan di tengah pembatasan kegiatan masyarakat oleh pemerintah, akhirnya Umi memutuskan untuk belajar make-up melalui YouTube. Hasil dari belajar dan proses make-up itu diunggah ke akun media sosial miliknya.

Mirisnya, bukannya mendapatkan dukungan dari warganet, Umi justru mendapatkan cacian dan perkataan kurang enak didengar. Terutama hasil make-up yang diunggah ke akun media sosial. Namun, dia tidak membalas respons komentar negatif tersebut. “Ada yang komen begini, kok tambah stres ya sekarang,” katanya.

Tidak hanya di media sosial, tetangga sekitar juga melontarkan kalimat-kalimat negatif kepada Umi. Hal itu membuatnya sempat berhenti membuat konten di media sosial, baik Instagram, TikTok, ataupun Facebook. Namun, karena dukungan dan semangat dari suami dan keluarganya, Ia memutuskan kembali membuat konten make-up karakter di TikTok dan Instagram. Karena tidak nyaman dengan banyak komentar negatif terkait kegiatannya itu. “Bisa bangkit karena dukungan mereka semua,” paparnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hiasan warna-warni terlihat di wajah Umi Khalifah. Sepintas, gambar riasan pada wajahnya tampak seperti hasil filter kamera. Tapi, jika diperhatikan, ternyata lukisan di wajah tersebut asli dari karya tangannya. Perempuan kelahiran Negara, Bali, yang saat ini tinggal di Bondowoso ini memang rutin setiap hari merias wajahnya sebelum mandi.

Alumnus UIN KHAS Jember ini memang sudah menyukai make-up sejak kecil. Tapi, hobinya sempat dilarang oleh orang tua dan keluarganya. Sebab, dia masih kecil dan dianggap tidak pantas untuk make-up menor, sebagaimana orang dewasa pada umumnya.

Meski demikian, dia tidak berhenti untuk merias wajahnya. Biasanya sebelum mandi dia merias di kamarnya. Sebelum itu, semua pintu kamar dikunci. Karena takut ketahuan orang tuanya. “Dulu pas SMP sudah mulai coba make-up,” ungkap Umi.

Bahkan, untuk melakukan hobinya, Umi pernah melakukan make-up menggunakan krayon karena dilarang membeli peralatan make-up oleh keluarganya. Akhirnya, warna-warna krayon dia aplikasikan pada wajahnya. Namun, make-up menggunakan krayon itu hanya dilakukan di kamarnya. Jika akan keluar kamar, maka riasan di wajahnya dibersihkan terlebih dahulu.

Setelah beberapa waktu, dia kemudian vakum untuk make-up. Terlebih, dia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Baru setelah kuliah di UIN KHAS Jember, Umi mulai kembali merias wajahnya di tempat kosnya. Pada waktu itu, dia belum menyentuh pada make-up artist profesional. Artinya, belum bisa membuat ukiran alis dan sebagainya.

Kemudian, saat pandemi 2020 lalu, dia mulai menyentuh ke make-up karakter. Karena kebingungan melakukan kegiatan di tengah pembatasan kegiatan masyarakat oleh pemerintah, akhirnya Umi memutuskan untuk belajar make-up melalui YouTube. Hasil dari belajar dan proses make-up itu diunggah ke akun media sosial miliknya.

Mirisnya, bukannya mendapatkan dukungan dari warganet, Umi justru mendapatkan cacian dan perkataan kurang enak didengar. Terutama hasil make-up yang diunggah ke akun media sosial. Namun, dia tidak membalas respons komentar negatif tersebut. “Ada yang komen begini, kok tambah stres ya sekarang,” katanya.

Tidak hanya di media sosial, tetangga sekitar juga melontarkan kalimat-kalimat negatif kepada Umi. Hal itu membuatnya sempat berhenti membuat konten di media sosial, baik Instagram, TikTok, ataupun Facebook. Namun, karena dukungan dan semangat dari suami dan keluarganya, Ia memutuskan kembali membuat konten make-up karakter di TikTok dan Instagram. Karena tidak nyaman dengan banyak komentar negatif terkait kegiatannya itu. “Bisa bangkit karena dukungan mereka semua,” paparnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hiasan warna-warni terlihat di wajah Umi Khalifah. Sepintas, gambar riasan pada wajahnya tampak seperti hasil filter kamera. Tapi, jika diperhatikan, ternyata lukisan di wajah tersebut asli dari karya tangannya. Perempuan kelahiran Negara, Bali, yang saat ini tinggal di Bondowoso ini memang rutin setiap hari merias wajahnya sebelum mandi.

Alumnus UIN KHAS Jember ini memang sudah menyukai make-up sejak kecil. Tapi, hobinya sempat dilarang oleh orang tua dan keluarganya. Sebab, dia masih kecil dan dianggap tidak pantas untuk make-up menor, sebagaimana orang dewasa pada umumnya.

Meski demikian, dia tidak berhenti untuk merias wajahnya. Biasanya sebelum mandi dia merias di kamarnya. Sebelum itu, semua pintu kamar dikunci. Karena takut ketahuan orang tuanya. “Dulu pas SMP sudah mulai coba make-up,” ungkap Umi.

Bahkan, untuk melakukan hobinya, Umi pernah melakukan make-up menggunakan krayon karena dilarang membeli peralatan make-up oleh keluarganya. Akhirnya, warna-warna krayon dia aplikasikan pada wajahnya. Namun, make-up menggunakan krayon itu hanya dilakukan di kamarnya. Jika akan keluar kamar, maka riasan di wajahnya dibersihkan terlebih dahulu.

Setelah beberapa waktu, dia kemudian vakum untuk make-up. Terlebih, dia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Baru setelah kuliah di UIN KHAS Jember, Umi mulai kembali merias wajahnya di tempat kosnya. Pada waktu itu, dia belum menyentuh pada make-up artist profesional. Artinya, belum bisa membuat ukiran alis dan sebagainya.

Kemudian, saat pandemi 2020 lalu, dia mulai menyentuh ke make-up karakter. Karena kebingungan melakukan kegiatan di tengah pembatasan kegiatan masyarakat oleh pemerintah, akhirnya Umi memutuskan untuk belajar make-up melalui YouTube. Hasil dari belajar dan proses make-up itu diunggah ke akun media sosial miliknya.

Mirisnya, bukannya mendapatkan dukungan dari warganet, Umi justru mendapatkan cacian dan perkataan kurang enak didengar. Terutama hasil make-up yang diunggah ke akun media sosial. Namun, dia tidak membalas respons komentar negatif tersebut. “Ada yang komen begini, kok tambah stres ya sekarang,” katanya.

Tidak hanya di media sosial, tetangga sekitar juga melontarkan kalimat-kalimat negatif kepada Umi. Hal itu membuatnya sempat berhenti membuat konten di media sosial, baik Instagram, TikTok, ataupun Facebook. Namun, karena dukungan dan semangat dari suami dan keluarganya, Ia memutuskan kembali membuat konten make-up karakter di TikTok dan Instagram. Karena tidak nyaman dengan banyak komentar negatif terkait kegiatannya itu. “Bisa bangkit karena dukungan mereka semua,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/