alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Komitmen Kemandirian Ekonomi, Optimalkan Sektor Peternakan dan Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kemandirian ekonomi menjadi salah satu komitmen Pemkab Bondowoso. Potensi alam dan ternak yang melimpah bisa menjadi pendukung untuk mewujudkan hal tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh pakar ekonomi Universitas Jember, Dr Moehammad Fathorrazi, kepada Jawa Pos Radar Ijen. Menurut dia, dalam teori ekonomi ada dua cara untuk membangun ekonomi suatu negara. Pertama, melalui supply side atau penawaran. Dalam teori itu dijelaskan, jika mau membangun, maka harus meningkatkan produksi. Jika nanti hasil produksi banyak, masyarakat akan sejahtera. “Efek dari supply side, harga akan turun dan menguntungkan konsumen,” ujarnya.

Pada tahun 1930 ada teori baru yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes, yaitu demand side atau permintaan. Teori tersebut menyebutkan, kalau mau membangun, maka permintaan masyarakat dinaikkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, pemerintah telah melakukan kedua teori tersebut. “Supply side itu di antaranya ada subsidi untuk UMKM. Kemudian ada program Sehati (Sertifikasi Halal Gratis, Red) dan mempromosikan secara digital untuk mendukung supply side,” katanya.

Sementara itu, demand side juga dihidupkan. Salah satunya dengan cara memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Imbasnya, konsumsi masyarakat meningkat, sehingga meningkatkan permintaan. “Contoh demand side di Kabupaten Bondowoso di antaranya adalah menyukseskan insentif guru ngaji dan semacamnya. Dengan begitu, permintaan akan meningkat,” paparnya.

Akademisi Universitas Jember itu juga memaparkan, potensi ternak di Kabupaten Bondowoso sangat luar biasa. Sebab, sudah ada beberapa produsen kambing dan sapi yang cukup besar. “Secara supply side sudah mendukung,” imbuhnya. Di antaranya Al-Fatih Farm di Petung, Al-Barokah di Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Kampung Zakat di Suleg, Al-Islah, dan peternakan yang ada di Koncer.

Dengan potensi yang luar biasa itu seharusnya pemerintah bisa melihat peluang, yakni dengan membuat rumah potong hewan (RPH) halal. “Hal itu juga untuk mendukung keberadaan produksi. Sehingga aktivitas penyembelihan tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat, tapi bermuara pada bisnis daging halal,” paparnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kemandirian ekonomi menjadi salah satu komitmen Pemkab Bondowoso. Potensi alam dan ternak yang melimpah bisa menjadi pendukung untuk mewujudkan hal tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh pakar ekonomi Universitas Jember, Dr Moehammad Fathorrazi, kepada Jawa Pos Radar Ijen. Menurut dia, dalam teori ekonomi ada dua cara untuk membangun ekonomi suatu negara. Pertama, melalui supply side atau penawaran. Dalam teori itu dijelaskan, jika mau membangun, maka harus meningkatkan produksi. Jika nanti hasil produksi banyak, masyarakat akan sejahtera. “Efek dari supply side, harga akan turun dan menguntungkan konsumen,” ujarnya.

Pada tahun 1930 ada teori baru yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes, yaitu demand side atau permintaan. Teori tersebut menyebutkan, kalau mau membangun, maka permintaan masyarakat dinaikkan.

Menurut dia, pemerintah telah melakukan kedua teori tersebut. “Supply side itu di antaranya ada subsidi untuk UMKM. Kemudian ada program Sehati (Sertifikasi Halal Gratis, Red) dan mempromosikan secara digital untuk mendukung supply side,” katanya.

Sementara itu, demand side juga dihidupkan. Salah satunya dengan cara memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Imbasnya, konsumsi masyarakat meningkat, sehingga meningkatkan permintaan. “Contoh demand side di Kabupaten Bondowoso di antaranya adalah menyukseskan insentif guru ngaji dan semacamnya. Dengan begitu, permintaan akan meningkat,” paparnya.

Akademisi Universitas Jember itu juga memaparkan, potensi ternak di Kabupaten Bondowoso sangat luar biasa. Sebab, sudah ada beberapa produsen kambing dan sapi yang cukup besar. “Secara supply side sudah mendukung,” imbuhnya. Di antaranya Al-Fatih Farm di Petung, Al-Barokah di Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Kampung Zakat di Suleg, Al-Islah, dan peternakan yang ada di Koncer.

Dengan potensi yang luar biasa itu seharusnya pemerintah bisa melihat peluang, yakni dengan membuat rumah potong hewan (RPH) halal. “Hal itu juga untuk mendukung keberadaan produksi. Sehingga aktivitas penyembelihan tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat, tapi bermuara pada bisnis daging halal,” paparnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kemandirian ekonomi menjadi salah satu komitmen Pemkab Bondowoso. Potensi alam dan ternak yang melimpah bisa menjadi pendukung untuk mewujudkan hal tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh pakar ekonomi Universitas Jember, Dr Moehammad Fathorrazi, kepada Jawa Pos Radar Ijen. Menurut dia, dalam teori ekonomi ada dua cara untuk membangun ekonomi suatu negara. Pertama, melalui supply side atau penawaran. Dalam teori itu dijelaskan, jika mau membangun, maka harus meningkatkan produksi. Jika nanti hasil produksi banyak, masyarakat akan sejahtera. “Efek dari supply side, harga akan turun dan menguntungkan konsumen,” ujarnya.

Pada tahun 1930 ada teori baru yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes, yaitu demand side atau permintaan. Teori tersebut menyebutkan, kalau mau membangun, maka permintaan masyarakat dinaikkan.

Menurut dia, pemerintah telah melakukan kedua teori tersebut. “Supply side itu di antaranya ada subsidi untuk UMKM. Kemudian ada program Sehati (Sertifikasi Halal Gratis, Red) dan mempromosikan secara digital untuk mendukung supply side,” katanya.

Sementara itu, demand side juga dihidupkan. Salah satunya dengan cara memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Imbasnya, konsumsi masyarakat meningkat, sehingga meningkatkan permintaan. “Contoh demand side di Kabupaten Bondowoso di antaranya adalah menyukseskan insentif guru ngaji dan semacamnya. Dengan begitu, permintaan akan meningkat,” paparnya.

Akademisi Universitas Jember itu juga memaparkan, potensi ternak di Kabupaten Bondowoso sangat luar biasa. Sebab, sudah ada beberapa produsen kambing dan sapi yang cukup besar. “Secara supply side sudah mendukung,” imbuhnya. Di antaranya Al-Fatih Farm di Petung, Al-Barokah di Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Kampung Zakat di Suleg, Al-Islah, dan peternakan yang ada di Koncer.

Dengan potensi yang luar biasa itu seharusnya pemerintah bisa melihat peluang, yakni dengan membuat rumah potong hewan (RPH) halal. “Hal itu juga untuk mendukung keberadaan produksi. Sehingga aktivitas penyembelihan tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat, tapi bermuara pada bisnis daging halal,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/