alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Angka Kematian Ibu Melonjak di Bondowoso, Ini Penyebabnya

Jadi Prioritas Dinkes, Berharap Sinergi OPD

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Masalah stunting masih menjadi salah satu prioritas utama di Bondowoso. Lonjakan angka kematian ibu (AKI) tahun lalu cukup signifikan. Tak salah jika Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso menjadikan sebagai prioritas untuk ditangani.

Mochammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bondowoso, mengatakan, aksi konvergensi dalam pencegahan dan penanggulangan harus lebih ditingkatkan. Serta diperlukan keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk dimaksimalkan.

Kasus stunting Bondowoso di Jawa Timur juga tergolong masih cukup tinggi. Tahun 2021 saja ada 43 kasus AKI. Bahkan, kasus tersebut naik cukup signifikan ketimbang tahun 2020. Begitu pun dengan AKB.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pencegahan harus kita mulai dari hulu, sehingga siapa berbuat apa dari masing-masing OPD yang terkait bisa lebih terarah untuk mencapai target nasional, yaitu 14 persen pada tahun 2024,” ungkap pria yang akrab disapa Dokter Imron ini.

Selain intervensi dari banyak OPD, peran organisasi lainnya juga cukup diperlukan. “Dengan pengukuhan bunda GENRE (Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Red) sebagai duta penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso, diharapkan lebih memaksimalkan peran masing-masing pihak,” imbuhnya.

Pada data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), prevalensi stunting Bondowoso di Jawa Timur mencapai 37.40 persen. Meski begitu, pada data Dinkes mulai tahun 2018 hingga bulan Agustus 2021, balita stunting mengalami penurunan. Tercatat tahun 2018 ada 22.88 persen. Hingga bulan Agustus 2021 turun mencapai 9.33 persen.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Masalah stunting masih menjadi salah satu prioritas utama di Bondowoso. Lonjakan angka kematian ibu (AKI) tahun lalu cukup signifikan. Tak salah jika Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso menjadikan sebagai prioritas untuk ditangani.

Mochammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bondowoso, mengatakan, aksi konvergensi dalam pencegahan dan penanggulangan harus lebih ditingkatkan. Serta diperlukan keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk dimaksimalkan.

Kasus stunting Bondowoso di Jawa Timur juga tergolong masih cukup tinggi. Tahun 2021 saja ada 43 kasus AKI. Bahkan, kasus tersebut naik cukup signifikan ketimbang tahun 2020. Begitu pun dengan AKB.

“Pencegahan harus kita mulai dari hulu, sehingga siapa berbuat apa dari masing-masing OPD yang terkait bisa lebih terarah untuk mencapai target nasional, yaitu 14 persen pada tahun 2024,” ungkap pria yang akrab disapa Dokter Imron ini.

Selain intervensi dari banyak OPD, peran organisasi lainnya juga cukup diperlukan. “Dengan pengukuhan bunda GENRE (Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Red) sebagai duta penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso, diharapkan lebih memaksimalkan peran masing-masing pihak,” imbuhnya.

Pada data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), prevalensi stunting Bondowoso di Jawa Timur mencapai 37.40 persen. Meski begitu, pada data Dinkes mulai tahun 2018 hingga bulan Agustus 2021, balita stunting mengalami penurunan. Tercatat tahun 2018 ada 22.88 persen. Hingga bulan Agustus 2021 turun mencapai 9.33 persen.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Masalah stunting masih menjadi salah satu prioritas utama di Bondowoso. Lonjakan angka kematian ibu (AKI) tahun lalu cukup signifikan. Tak salah jika Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso menjadikan sebagai prioritas untuk ditangani.

Mochammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bondowoso, mengatakan, aksi konvergensi dalam pencegahan dan penanggulangan harus lebih ditingkatkan. Serta diperlukan keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk dimaksimalkan.

Kasus stunting Bondowoso di Jawa Timur juga tergolong masih cukup tinggi. Tahun 2021 saja ada 43 kasus AKI. Bahkan, kasus tersebut naik cukup signifikan ketimbang tahun 2020. Begitu pun dengan AKB.

“Pencegahan harus kita mulai dari hulu, sehingga siapa berbuat apa dari masing-masing OPD yang terkait bisa lebih terarah untuk mencapai target nasional, yaitu 14 persen pada tahun 2024,” ungkap pria yang akrab disapa Dokter Imron ini.

Selain intervensi dari banyak OPD, peran organisasi lainnya juga cukup diperlukan. “Dengan pengukuhan bunda GENRE (Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Red) sebagai duta penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso, diharapkan lebih memaksimalkan peran masing-masing pihak,” imbuhnya.

Pada data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), prevalensi stunting Bondowoso di Jawa Timur mencapai 37.40 persen. Meski begitu, pada data Dinkes mulai tahun 2018 hingga bulan Agustus 2021, balita stunting mengalami penurunan. Tercatat tahun 2018 ada 22.88 persen. Hingga bulan Agustus 2021 turun mencapai 9.33 persen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/