alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Budaya di Kawah Wurung, Pemkab Tak Sekadar Beri Fasilitas

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pergelaran seni tradisi kebudayaan Bondowoso mulai bergeliat lagi di akhir tahun ini. Dua gelaran kesenian serta tradisi desa dipentaskan. Akhir bulan November lalu (29/11), tradisi selamatan gugur gunung di tiga desa di Kecamatan Cermee menjadi salah satu bukti.

Ada tiga desa yang melangsungkan tradisi selamatan gugur gunung tersebut. Yakni Desa Plalangan, Ramban Kulon, dan Ramban Wetan. Tradisi selamatan itu bentuk wujud rasa syukur warga desa tiap tahunnya. Uniknya, harus digelar pada hari Senin pada bulan November. Sementara, kesenian macam Singo Ulung dipentaskan di alam terbuka. Yakni di wisata alam seperti Kawah Wurung, Kecamatan Ijen, sehari sebelumnya.

Pengembangan seni tradisi dan budaya di masa pandemi ini terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso. Namun, pergelaran ataupun pentas para pegiat budaya tak bisa serta-merta dilakukan. Tradisi di masa pandemi yang dilakukan di desa-desa sebenarnya tetap dijalankan. “Yang utamanya kita tetap akan mengembangkan tradisi di Bondowoso dengan segala kegiatannya,” ujar Kepala Seksi Budaya dan Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Endah Listyorini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, beberapa waktu lalu Pemkab Bondowoso juga sudah meresmikan desa budaya yang keempat. Yakni di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Dipilihnya Desa Blimbing karena desa tersebut memiliki banyak warisan budaya yang masih tetap dilestarikan. Seperti di antaranya budaya Topeng Konah, ojhung, macapat, dan beberapa kesenian lainnya

“Ini menjadi desa budaya yang keempat. Setelah sebelumnya ada di Cermee, Prajekan Lor, dan Banyuputih. Kalau program rencana budaya tradisi kami, ya, terus ingin menambah lagi desa budaya,” imbuh Endah.

Sebab, nantinya budaya dan tradisi di tiap-tiap desa tetap bisa dilestarikan dan dikembangkan. “Sehingga lebih banyak bermunculan tradisi yang ada di desa. Masyarakat juga bisa mengetahui bahwa Bondowoso punya bermacam-macam budaya dan tradisi,” bebernya.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso Sinung Sudrajad sempat menyuarakan bahwa pihak legislatif sudah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemajuan Kebudayaan dan Kearifan Lokal sebagai turunan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. “Mengenai aktivitas pelestarian seni tradisi dan kebudayaan lokal, setidaknya kalau kita punya regulasi, segenap upaya pelestarian akan dilindungi oleh undang-undang. Termasuk kewajiban pemerintah dalam rangka memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan oleh pegiat budaya,” urai politisi PDIP ini.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pergelaran seni tradisi kebudayaan Bondowoso mulai bergeliat lagi di akhir tahun ini. Dua gelaran kesenian serta tradisi desa dipentaskan. Akhir bulan November lalu (29/11), tradisi selamatan gugur gunung di tiga desa di Kecamatan Cermee menjadi salah satu bukti.

Ada tiga desa yang melangsungkan tradisi selamatan gugur gunung tersebut. Yakni Desa Plalangan, Ramban Kulon, dan Ramban Wetan. Tradisi selamatan itu bentuk wujud rasa syukur warga desa tiap tahunnya. Uniknya, harus digelar pada hari Senin pada bulan November. Sementara, kesenian macam Singo Ulung dipentaskan di alam terbuka. Yakni di wisata alam seperti Kawah Wurung, Kecamatan Ijen, sehari sebelumnya.

Pengembangan seni tradisi dan budaya di masa pandemi ini terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso. Namun, pergelaran ataupun pentas para pegiat budaya tak bisa serta-merta dilakukan. Tradisi di masa pandemi yang dilakukan di desa-desa sebenarnya tetap dijalankan. “Yang utamanya kita tetap akan mengembangkan tradisi di Bondowoso dengan segala kegiatannya,” ujar Kepala Seksi Budaya dan Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Endah Listyorini.

Bahkan, beberapa waktu lalu Pemkab Bondowoso juga sudah meresmikan desa budaya yang keempat. Yakni di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Dipilihnya Desa Blimbing karena desa tersebut memiliki banyak warisan budaya yang masih tetap dilestarikan. Seperti di antaranya budaya Topeng Konah, ojhung, macapat, dan beberapa kesenian lainnya

“Ini menjadi desa budaya yang keempat. Setelah sebelumnya ada di Cermee, Prajekan Lor, dan Banyuputih. Kalau program rencana budaya tradisi kami, ya, terus ingin menambah lagi desa budaya,” imbuh Endah.

Sebab, nantinya budaya dan tradisi di tiap-tiap desa tetap bisa dilestarikan dan dikembangkan. “Sehingga lebih banyak bermunculan tradisi yang ada di desa. Masyarakat juga bisa mengetahui bahwa Bondowoso punya bermacam-macam budaya dan tradisi,” bebernya.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso Sinung Sudrajad sempat menyuarakan bahwa pihak legislatif sudah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemajuan Kebudayaan dan Kearifan Lokal sebagai turunan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. “Mengenai aktivitas pelestarian seni tradisi dan kebudayaan lokal, setidaknya kalau kita punya regulasi, segenap upaya pelestarian akan dilindungi oleh undang-undang. Termasuk kewajiban pemerintah dalam rangka memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan oleh pegiat budaya,” urai politisi PDIP ini.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pergelaran seni tradisi kebudayaan Bondowoso mulai bergeliat lagi di akhir tahun ini. Dua gelaran kesenian serta tradisi desa dipentaskan. Akhir bulan November lalu (29/11), tradisi selamatan gugur gunung di tiga desa di Kecamatan Cermee menjadi salah satu bukti.

Ada tiga desa yang melangsungkan tradisi selamatan gugur gunung tersebut. Yakni Desa Plalangan, Ramban Kulon, dan Ramban Wetan. Tradisi selamatan itu bentuk wujud rasa syukur warga desa tiap tahunnya. Uniknya, harus digelar pada hari Senin pada bulan November. Sementara, kesenian macam Singo Ulung dipentaskan di alam terbuka. Yakni di wisata alam seperti Kawah Wurung, Kecamatan Ijen, sehari sebelumnya.

Pengembangan seni tradisi dan budaya di masa pandemi ini terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso. Namun, pergelaran ataupun pentas para pegiat budaya tak bisa serta-merta dilakukan. Tradisi di masa pandemi yang dilakukan di desa-desa sebenarnya tetap dijalankan. “Yang utamanya kita tetap akan mengembangkan tradisi di Bondowoso dengan segala kegiatannya,” ujar Kepala Seksi Budaya dan Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Endah Listyorini.

Bahkan, beberapa waktu lalu Pemkab Bondowoso juga sudah meresmikan desa budaya yang keempat. Yakni di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Dipilihnya Desa Blimbing karena desa tersebut memiliki banyak warisan budaya yang masih tetap dilestarikan. Seperti di antaranya budaya Topeng Konah, ojhung, macapat, dan beberapa kesenian lainnya

“Ini menjadi desa budaya yang keempat. Setelah sebelumnya ada di Cermee, Prajekan Lor, dan Banyuputih. Kalau program rencana budaya tradisi kami, ya, terus ingin menambah lagi desa budaya,” imbuh Endah.

Sebab, nantinya budaya dan tradisi di tiap-tiap desa tetap bisa dilestarikan dan dikembangkan. “Sehingga lebih banyak bermunculan tradisi yang ada di desa. Masyarakat juga bisa mengetahui bahwa Bondowoso punya bermacam-macam budaya dan tradisi,” bebernya.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso Sinung Sudrajad sempat menyuarakan bahwa pihak legislatif sudah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemajuan Kebudayaan dan Kearifan Lokal sebagai turunan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. “Mengenai aktivitas pelestarian seni tradisi dan kebudayaan lokal, setidaknya kalau kita punya regulasi, segenap upaya pelestarian akan dilindungi oleh undang-undang. Termasuk kewajiban pemerintah dalam rangka memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan oleh pegiat budaya,” urai politisi PDIP ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/