alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ratusan Pasangan Jalani Isbat Nikah

Akhirnya Pernikahan Tercatat Setelah Puluhan Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Fathul Mu’in, 70, warga Desa Klabang, Kecamatan Tegalampel, menunggu dengan sabar di antara ratusan pasangan lainnya. Dia dan istrinya tengah menunggu panggilan untuk menjalani isbat nikah. Setelah 23 tahun menikah tanpa dokumen, kini dia bakal memiliki surat nikah lewat isbat tersebut.

Dirinya mengaku kurang lebih sudah 23 tahun menikah tanpa tercatat secara perundang-undangan. Saat ini ia tidak hanya memiliki anak, bahkan sudah memiliki cucu. Oleh sebab itu, Mu’in mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Dengan isbat nikah ini, secara resmi pernikahan saya akan tercatat sesuai perundangan-undangan,” ujarnya.

Mu’in menceritakan, pertama dia menikah pada tahun 1978. Pada kesempatan itu, dia masih mendapatkan buku nikah. “Namun, ketika menikah lagi pada tahun 1998, saya tidak dapat. Padahal saya bayar waktu itu,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah puluhan tahun tidak tercatat secara resmi, ia kemudian menyadari bahwa buku nikah sangat berguna baginya. Dari hal itu ia juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan tersebut. Sebab, dengan ini maka pernikahannya tercatat secara resmi sesuai peraturan perundang-undangan. “Buku nikah ini penting,” imbuhnya.

Ya, ratusan orang berkumpul di Aula Gus Dur, Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. Mereka berkumpul bukan dalam rangka vaksinasi Covid-19 atau antrean sembako. Melainkan untuk melakukan isbat nikah atau permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum.

Para peserta isbat nikah ternyata tidak hanya dari pasangan yang baru menikah. Bahkan, pasangan yang sudah menikah hingga puluhan tahun juga ikut dalam kegiatan itu.

H Tohari, inisiator acara isbat nikah tersebut, mengatakan, awalnya acara itu digelar karena banyaknya keluhan dari masyarakat tentang pembuatan administrasi kependudukan, terutama dalam mengurus akta kelahiran anak. Permasalahan tersebut, menurut dia, karena bapak atau ibunya tidak melakukan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA), sebelumnya. “Kalau bahasa di Bondowoso, pernikahan siri,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bondowoso ini.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Fathul Mu’in, 70, warga Desa Klabang, Kecamatan Tegalampel, menunggu dengan sabar di antara ratusan pasangan lainnya. Dia dan istrinya tengah menunggu panggilan untuk menjalani isbat nikah. Setelah 23 tahun menikah tanpa dokumen, kini dia bakal memiliki surat nikah lewat isbat tersebut.

Dirinya mengaku kurang lebih sudah 23 tahun menikah tanpa tercatat secara perundang-undangan. Saat ini ia tidak hanya memiliki anak, bahkan sudah memiliki cucu. Oleh sebab itu, Mu’in mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Dengan isbat nikah ini, secara resmi pernikahan saya akan tercatat sesuai perundangan-undangan,” ujarnya.

Mu’in menceritakan, pertama dia menikah pada tahun 1978. Pada kesempatan itu, dia masih mendapatkan buku nikah. “Namun, ketika menikah lagi pada tahun 1998, saya tidak dapat. Padahal saya bayar waktu itu,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

Setelah puluhan tahun tidak tercatat secara resmi, ia kemudian menyadari bahwa buku nikah sangat berguna baginya. Dari hal itu ia juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan tersebut. Sebab, dengan ini maka pernikahannya tercatat secara resmi sesuai peraturan perundang-undangan. “Buku nikah ini penting,” imbuhnya.

Ya, ratusan orang berkumpul di Aula Gus Dur, Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. Mereka berkumpul bukan dalam rangka vaksinasi Covid-19 atau antrean sembako. Melainkan untuk melakukan isbat nikah atau permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum.

Para peserta isbat nikah ternyata tidak hanya dari pasangan yang baru menikah. Bahkan, pasangan yang sudah menikah hingga puluhan tahun juga ikut dalam kegiatan itu.

H Tohari, inisiator acara isbat nikah tersebut, mengatakan, awalnya acara itu digelar karena banyaknya keluhan dari masyarakat tentang pembuatan administrasi kependudukan, terutama dalam mengurus akta kelahiran anak. Permasalahan tersebut, menurut dia, karena bapak atau ibunya tidak melakukan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA), sebelumnya. “Kalau bahasa di Bondowoso, pernikahan siri,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bondowoso ini.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Fathul Mu’in, 70, warga Desa Klabang, Kecamatan Tegalampel, menunggu dengan sabar di antara ratusan pasangan lainnya. Dia dan istrinya tengah menunggu panggilan untuk menjalani isbat nikah. Setelah 23 tahun menikah tanpa dokumen, kini dia bakal memiliki surat nikah lewat isbat tersebut.

Dirinya mengaku kurang lebih sudah 23 tahun menikah tanpa tercatat secara perundang-undangan. Saat ini ia tidak hanya memiliki anak, bahkan sudah memiliki cucu. Oleh sebab itu, Mu’in mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Dengan isbat nikah ini, secara resmi pernikahan saya akan tercatat sesuai perundangan-undangan,” ujarnya.

Mu’in menceritakan, pertama dia menikah pada tahun 1978. Pada kesempatan itu, dia masih mendapatkan buku nikah. “Namun, ketika menikah lagi pada tahun 1998, saya tidak dapat. Padahal saya bayar waktu itu,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

Setelah puluhan tahun tidak tercatat secara resmi, ia kemudian menyadari bahwa buku nikah sangat berguna baginya. Dari hal itu ia juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan tersebut. Sebab, dengan ini maka pernikahannya tercatat secara resmi sesuai peraturan perundang-undangan. “Buku nikah ini penting,” imbuhnya.

Ya, ratusan orang berkumpul di Aula Gus Dur, Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. Mereka berkumpul bukan dalam rangka vaksinasi Covid-19 atau antrean sembako. Melainkan untuk melakukan isbat nikah atau permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum.

Para peserta isbat nikah ternyata tidak hanya dari pasangan yang baru menikah. Bahkan, pasangan yang sudah menikah hingga puluhan tahun juga ikut dalam kegiatan itu.

H Tohari, inisiator acara isbat nikah tersebut, mengatakan, awalnya acara itu digelar karena banyaknya keluhan dari masyarakat tentang pembuatan administrasi kependudukan, terutama dalam mengurus akta kelahiran anak. Permasalahan tersebut, menurut dia, karena bapak atau ibunya tidak melakukan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA), sebelumnya. “Kalau bahasa di Bondowoso, pernikahan siri,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bondowoso ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/