alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Usaha Terpuruk Karena Pandemi? Kini Waktunya Manfaatkan Sosial Media

Perajin Batik Mulai Bangkit lewat Pemasaran Daring

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi Covid-19 berimbas besar pada pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak terkecuali pelaku UMKM di Bondowoso. Salah satunya perajin batik. Efek pandemi hingga kini masih dirasakan benar oleh pengusaha batik, yakni Andriyanto, pemilik sanggar Ijen Batik.

Perajin batik asal Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, ini hingga saat ini masih berusaha eksis dengan motif kain batik hasil desainnya sendiri. Meski begitu, dampak pandemi ini berakibat pada penurunan omzet. “Penurunan omzet kami bahkan mencapai 50 persen,” ujarnya.

Untuk menyiasati problem keuangan sanggarnya, Andriyanto menerapkan social distancing kepada karyawannya. “Untuk mengurangi biaya produksi, kami harus mempekerjakan para pekerja di rumahnya masing-masing. Dengan tetap mengerjakan proses batik di rumah mereka. Tetapi, tidak kami kurangi jumlah karyawannya” jelas dia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sanggar milik Andriyanto didominasi para pekerja muda. Sanggar miliknya tersebut menekuni sejumlah jenis batik, yakni batik tulis dan batik cap. Selain itu, lilin pencantingannya sendiri menggunakan limbah kelapa sawit. “Sebelum pandemi banyak pemesanan dari luar Bondowoso. Mulai dari Denpasar, Jakarta, Surabaya, hingga sejumlah kota di Kalimantan,” kata dia.

Penurunan omzet hingga 50 persen itu sangat dirasakan benar. Sebelum pandemi, puluhan kain terjual begitu laris. Mulai dari 50 sampai 80 potong kain per bulannya. Namun, kini tak sampai 40 potong kain dalam jangka waktu 30 hari. “Bahkan, pada bulan Desember 2020 kemarin tidak ada satu pun pemesanan. Bulan itu puncak-puncaknya sepi orderan,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi Covid-19 berimbas besar pada pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak terkecuali pelaku UMKM di Bondowoso. Salah satunya perajin batik. Efek pandemi hingga kini masih dirasakan benar oleh pengusaha batik, yakni Andriyanto, pemilik sanggar Ijen Batik.

Perajin batik asal Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, ini hingga saat ini masih berusaha eksis dengan motif kain batik hasil desainnya sendiri. Meski begitu, dampak pandemi ini berakibat pada penurunan omzet. “Penurunan omzet kami bahkan mencapai 50 persen,” ujarnya.

Untuk menyiasati problem keuangan sanggarnya, Andriyanto menerapkan social distancing kepada karyawannya. “Untuk mengurangi biaya produksi, kami harus mempekerjakan para pekerja di rumahnya masing-masing. Dengan tetap mengerjakan proses batik di rumah mereka. Tetapi, tidak kami kurangi jumlah karyawannya” jelas dia.

Sanggar milik Andriyanto didominasi para pekerja muda. Sanggar miliknya tersebut menekuni sejumlah jenis batik, yakni batik tulis dan batik cap. Selain itu, lilin pencantingannya sendiri menggunakan limbah kelapa sawit. “Sebelum pandemi banyak pemesanan dari luar Bondowoso. Mulai dari Denpasar, Jakarta, Surabaya, hingga sejumlah kota di Kalimantan,” kata dia.

Penurunan omzet hingga 50 persen itu sangat dirasakan benar. Sebelum pandemi, puluhan kain terjual begitu laris. Mulai dari 50 sampai 80 potong kain per bulannya. Namun, kini tak sampai 40 potong kain dalam jangka waktu 30 hari. “Bahkan, pada bulan Desember 2020 kemarin tidak ada satu pun pemesanan. Bulan itu puncak-puncaknya sepi orderan,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi Covid-19 berimbas besar pada pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak terkecuali pelaku UMKM di Bondowoso. Salah satunya perajin batik. Efek pandemi hingga kini masih dirasakan benar oleh pengusaha batik, yakni Andriyanto, pemilik sanggar Ijen Batik.

Perajin batik asal Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, ini hingga saat ini masih berusaha eksis dengan motif kain batik hasil desainnya sendiri. Meski begitu, dampak pandemi ini berakibat pada penurunan omzet. “Penurunan omzet kami bahkan mencapai 50 persen,” ujarnya.

Untuk menyiasati problem keuangan sanggarnya, Andriyanto menerapkan social distancing kepada karyawannya. “Untuk mengurangi biaya produksi, kami harus mempekerjakan para pekerja di rumahnya masing-masing. Dengan tetap mengerjakan proses batik di rumah mereka. Tetapi, tidak kami kurangi jumlah karyawannya” jelas dia.

Sanggar milik Andriyanto didominasi para pekerja muda. Sanggar miliknya tersebut menekuni sejumlah jenis batik, yakni batik tulis dan batik cap. Selain itu, lilin pencantingannya sendiri menggunakan limbah kelapa sawit. “Sebelum pandemi banyak pemesanan dari luar Bondowoso. Mulai dari Denpasar, Jakarta, Surabaya, hingga sejumlah kota di Kalimantan,” kata dia.

Penurunan omzet hingga 50 persen itu sangat dirasakan benar. Sebelum pandemi, puluhan kain terjual begitu laris. Mulai dari 50 sampai 80 potong kain per bulannya. Namun, kini tak sampai 40 potong kain dalam jangka waktu 30 hari. “Bahkan, pada bulan Desember 2020 kemarin tidak ada satu pun pemesanan. Bulan itu puncak-puncaknya sepi orderan,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/