Beberapa Desa di Bondowoso Kekeringan, Ini Alasannya

Butuh Dropping Air Bersih

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah desa di Kabupaten Bondowoso mulai mengalami kekeringan. Akibatnya, sejumlah warga mulai mengajukan pasokan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

MULAI KEKERINGAN: Salah satu desa di Kecamatan Botolinggo yang sudah mengalami kekeringan. Setiap musim kemarau, daerah tersebut memang sering mengalami kekeringan.

Puluhan desa yang tersebar di beberapa kecamatan itu berada dalam daerah rawan kekeringan. Berdasarkan data dari BPBD Bondowoso, sebanyak 49 desa yang tersebar pada 16 kecamatan di Bondowoso masuk daerah rawan kekeringan. Kecamatan tersebut di antaranya Kecamatan Tamanan, Wonosari, Jambesari Darus Sholah, Tenggarang, Maesan, Grujugan, Pakem, Prajekan, Klabang, Binakal, Curahdami, Taman Krocok, Tega Ampel, Wringin, Cerme, serta Botolinggo.

Kalaksa BPBD Bondowoso Dadan Kurniawan menyampaikan, sejumlah desa yang masuk dalam daerah rawan kekeringan itu sudah masuk dalam draf SK Bupati, tentang siaga dan tanggap darurat penanganan kekeringan di Bondowoso. Setelah SK tersebut ditandatangani, maka pihaknya bisa langsung menjadwal dropping air ke kawasan yang telah masuk dalam daerah rawan kekeringan.

Dikatakan, SK bupati itu sebenarnya masih akan diajukan, karena pihaknya baru menerima surat pemberitahuan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perkiraan kondisi iklim Bondowoso pada 31 Agustus lalu.

Surat tersebut yang menjadi dasar bagi pemerintah daerah menerbitkan SK Bupati. “Kami sudah ngurus SK, selanjutnya nanti akan segera dilakukan dropping ke wilayah-wilayah rawan kekeringan,” tuturnya ketika dikonfirmasi di kantornya, kemarin (02/9).
Kendati demikian, pihaknya telah menerima permintaan air bersih di daerah Kecamatan Botolinggo. “Sudah ada, di daerah Botolinggo,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Logistik, Rehabilitasi, dan Rekontruksi BPBD Tugas Riski Bahana menerangkan, sebenarnya memang untuk dropping air perlu adanya surat permintaan. Tapi, ke depan pihaknya akan jemput bola ke desa-desa yang rawan kekeringan itu dengan bersurat yang akan disertai contact person. Dengan begitu, bisa langsung dilakukan komunikasi dengan BPBD manakala ada desa yang membutuhkan air bersih. “Kan lucu, ada bencana masih nunggu surat,” katanya.