alexametrics
32.5 C
Jember
Friday, 22 October 2021

Antusias Pengusaha Kopi Terkait Reaktivasi Bondowoso Republik Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sambutan hangat diberikan oleh para pelaku usaha yang bergerak di bidang perkopian, terkait usaha yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso untuk membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar.

Seperti diketahui, kurang lebih selama dua tahun terakhir program BRK kurang mendapatkan perhatian pemkab setempat. Padahal brand BRK sudah mengantongi hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Hal tersebut diungkapkan oleh Syamsi, salah seorang pemilik kafe di Kampung Kopi Pelita. Dia mengaku sangat bahagia jika branding dan program BRK kembali digaungkan oleh pemerintah. “BRK sejatinya tidak pernah hilang. Pelaku usaha tetap menggunakan branding itu, meski selama ini tidak ada perhatian pemerintah,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (3/9) siang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Owner kafe Tjap Daoen itu mengatakan, sejauh ini memang pemerintah cenderung tidak hadir sama sekali. Belum lagi diterpa pandemi Covid-19. “Kalau Bondowoso Republik Kopi mau di-branding lagi, saya sangat berterima kasih. Sebab, dengan adanya BRK, banyak para pelaku usaha baru. Banyak anak muda bergerak di bidang perkopian,” jelasnya.

Jika betul-betul ingin mem-branding BRK, pihaknya menyarankan agar pemerintah gencar lagi memberikan pendampingan kepada SDM pelaku kopi, khususnya petani. “Agar kualitas kopi Bondowoso tetap terjaga. Tentu juga disediakan fasilitas yang dibutuhkan,” harapnya.

Sementara itu, lanjut dia, untuk kafe bisa didukung dengan branding. Apalagi terdapat area kafe yang dikenal dengan Kampung Kopi Pelita di Tamansari dan Kopi Kluncing. “Kampung Kopi Pelita itu lahir dari bawah. Mereka kompak sampai sekarang dan sudah ada legal formal. Sehingga dengan sedikit sentuhan dari pemerintah, maka akan sangat membantu menghidupkan kembali branding BRK,” imbuhnya.

Baginya, BRK tidak sekadar branding. Terpenting, kata dia, juga penyiapan SDM di bawah atau petani, eksportir, hingga pemilik kafe. “Saya mendukung rencana pemerintah dalam mengorbitkan kembali BRK,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Muhlis Ady Rangkul. Penjual bubuk kopi Bondowoso ini sangat mendukung langkah pemkab. Menurutnya, kopi itu memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, dan pasarnya juga sudah jelas.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sambutan hangat diberikan oleh para pelaku usaha yang bergerak di bidang perkopian, terkait usaha yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso untuk membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar.

Seperti diketahui, kurang lebih selama dua tahun terakhir program BRK kurang mendapatkan perhatian pemkab setempat. Padahal brand BRK sudah mengantongi hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Hal tersebut diungkapkan oleh Syamsi, salah seorang pemilik kafe di Kampung Kopi Pelita. Dia mengaku sangat bahagia jika branding dan program BRK kembali digaungkan oleh pemerintah. “BRK sejatinya tidak pernah hilang. Pelaku usaha tetap menggunakan branding itu, meski selama ini tidak ada perhatian pemerintah,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (3/9) siang.

Owner kafe Tjap Daoen itu mengatakan, sejauh ini memang pemerintah cenderung tidak hadir sama sekali. Belum lagi diterpa pandemi Covid-19. “Kalau Bondowoso Republik Kopi mau di-branding lagi, saya sangat berterima kasih. Sebab, dengan adanya BRK, banyak para pelaku usaha baru. Banyak anak muda bergerak di bidang perkopian,” jelasnya.

Jika betul-betul ingin mem-branding BRK, pihaknya menyarankan agar pemerintah gencar lagi memberikan pendampingan kepada SDM pelaku kopi, khususnya petani. “Agar kualitas kopi Bondowoso tetap terjaga. Tentu juga disediakan fasilitas yang dibutuhkan,” harapnya.

Sementara itu, lanjut dia, untuk kafe bisa didukung dengan branding. Apalagi terdapat area kafe yang dikenal dengan Kampung Kopi Pelita di Tamansari dan Kopi Kluncing. “Kampung Kopi Pelita itu lahir dari bawah. Mereka kompak sampai sekarang dan sudah ada legal formal. Sehingga dengan sedikit sentuhan dari pemerintah, maka akan sangat membantu menghidupkan kembali branding BRK,” imbuhnya.

Baginya, BRK tidak sekadar branding. Terpenting, kata dia, juga penyiapan SDM di bawah atau petani, eksportir, hingga pemilik kafe. “Saya mendukung rencana pemerintah dalam mengorbitkan kembali BRK,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Muhlis Ady Rangkul. Penjual bubuk kopi Bondowoso ini sangat mendukung langkah pemkab. Menurutnya, kopi itu memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, dan pasarnya juga sudah jelas.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sambutan hangat diberikan oleh para pelaku usaha yang bergerak di bidang perkopian, terkait usaha yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso untuk membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar.

Seperti diketahui, kurang lebih selama dua tahun terakhir program BRK kurang mendapatkan perhatian pemkab setempat. Padahal brand BRK sudah mengantongi hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Hal tersebut diungkapkan oleh Syamsi, salah seorang pemilik kafe di Kampung Kopi Pelita. Dia mengaku sangat bahagia jika branding dan program BRK kembali digaungkan oleh pemerintah. “BRK sejatinya tidak pernah hilang. Pelaku usaha tetap menggunakan branding itu, meski selama ini tidak ada perhatian pemerintah,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (3/9) siang.

Owner kafe Tjap Daoen itu mengatakan, sejauh ini memang pemerintah cenderung tidak hadir sama sekali. Belum lagi diterpa pandemi Covid-19. “Kalau Bondowoso Republik Kopi mau di-branding lagi, saya sangat berterima kasih. Sebab, dengan adanya BRK, banyak para pelaku usaha baru. Banyak anak muda bergerak di bidang perkopian,” jelasnya.

Jika betul-betul ingin mem-branding BRK, pihaknya menyarankan agar pemerintah gencar lagi memberikan pendampingan kepada SDM pelaku kopi, khususnya petani. “Agar kualitas kopi Bondowoso tetap terjaga. Tentu juga disediakan fasilitas yang dibutuhkan,” harapnya.

Sementara itu, lanjut dia, untuk kafe bisa didukung dengan branding. Apalagi terdapat area kafe yang dikenal dengan Kampung Kopi Pelita di Tamansari dan Kopi Kluncing. “Kampung Kopi Pelita itu lahir dari bawah. Mereka kompak sampai sekarang dan sudah ada legal formal. Sehingga dengan sedikit sentuhan dari pemerintah, maka akan sangat membantu menghidupkan kembali branding BRK,” imbuhnya.

Baginya, BRK tidak sekadar branding. Terpenting, kata dia, juga penyiapan SDM di bawah atau petani, eksportir, hingga pemilik kafe. “Saya mendukung rencana pemerintah dalam mengorbitkan kembali BRK,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Muhlis Ady Rangkul. Penjual bubuk kopi Bondowoso ini sangat mendukung langkah pemkab. Menurutnya, kopi itu memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, dan pasarnya juga sudah jelas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca