alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Wabup Tegaskan SOP Penanganan Pasien Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi sejumlah kasus perebutan jenazah pasien Covid-19 di beberapa kecamatan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rachmat menegaskan akan lebih memperketat standard operating procedure (SOP) penanganan pasien Covid-19 di Bondowoso.

Seperti diketahui, sepanjang Juli lalu tercatat ada tiga kasus perebutan jenazah pasien Covid-19. Yakni di Kecamatan Tamanan, Kecamatan Wonosari, dan Pujer. Latar belakang perebutan jenazah tersebut berbeda-beda.

Di Kecamatan Tamanan, keluarga pasien dan warga termakan hoax bahwa organ tubuh pasien diambil pihak rumah sakit. Sementara itu, di Kecamatan Wonosari, keluarga pasien menganggap proses pemakaman menggunakan peti tidak sesuai syariat Islam. Adapun di Kecamatan Pujer, keluarga pasien merasa pasien di-covid-kan. “Begitu pasien masuk ke rumah sakit dan puskesmas di mana pun, langkah awal dilakukan swab PCR atau antigen,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Apabila yang bersangkutan reaktif atau positif, lanjut Irwan, maka keluarganya dipanggil dan diajak bicara bahwa berdasarkan hasil lab, pasien dinyatakan positif. “Tunjukkan semuanya, kita harus transparan. Sehingga penanganannya harus menggunakan protokol kesehatan. Harus ada pernyataan bahwa akan dirawat sesuai protokol kesehatan,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kepala desa dan camat akan dilibatkan agar juga memberikan tanda tangan. Sebab, selama ini hanya untuk keluarga. Hal itu agar tidak terjadi seperti kemarin. Ketika keluarga termakan informasi bohong, pasien dijemput paksa. “Padahal kasus Pujer itu pernyataannya lengkap semua dari pihak keluarga,” jelas Irwan saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi sejumlah kasus perebutan jenazah pasien Covid-19 di beberapa kecamatan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rachmat menegaskan akan lebih memperketat standard operating procedure (SOP) penanganan pasien Covid-19 di Bondowoso.

Seperti diketahui, sepanjang Juli lalu tercatat ada tiga kasus perebutan jenazah pasien Covid-19. Yakni di Kecamatan Tamanan, Kecamatan Wonosari, dan Pujer. Latar belakang perebutan jenazah tersebut berbeda-beda.

Di Kecamatan Tamanan, keluarga pasien dan warga termakan hoax bahwa organ tubuh pasien diambil pihak rumah sakit. Sementara itu, di Kecamatan Wonosari, keluarga pasien menganggap proses pemakaman menggunakan peti tidak sesuai syariat Islam. Adapun di Kecamatan Pujer, keluarga pasien merasa pasien di-covid-kan. “Begitu pasien masuk ke rumah sakit dan puskesmas di mana pun, langkah awal dilakukan swab PCR atau antigen,” paparnya.

Apabila yang bersangkutan reaktif atau positif, lanjut Irwan, maka keluarganya dipanggil dan diajak bicara bahwa berdasarkan hasil lab, pasien dinyatakan positif. “Tunjukkan semuanya, kita harus transparan. Sehingga penanganannya harus menggunakan protokol kesehatan. Harus ada pernyataan bahwa akan dirawat sesuai protokol kesehatan,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kepala desa dan camat akan dilibatkan agar juga memberikan tanda tangan. Sebab, selama ini hanya untuk keluarga. Hal itu agar tidak terjadi seperti kemarin. Ketika keluarga termakan informasi bohong, pasien dijemput paksa. “Padahal kasus Pujer itu pernyataannya lengkap semua dari pihak keluarga,” jelas Irwan saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi sejumlah kasus perebutan jenazah pasien Covid-19 di beberapa kecamatan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rachmat menegaskan akan lebih memperketat standard operating procedure (SOP) penanganan pasien Covid-19 di Bondowoso.

Seperti diketahui, sepanjang Juli lalu tercatat ada tiga kasus perebutan jenazah pasien Covid-19. Yakni di Kecamatan Tamanan, Kecamatan Wonosari, dan Pujer. Latar belakang perebutan jenazah tersebut berbeda-beda.

Di Kecamatan Tamanan, keluarga pasien dan warga termakan hoax bahwa organ tubuh pasien diambil pihak rumah sakit. Sementara itu, di Kecamatan Wonosari, keluarga pasien menganggap proses pemakaman menggunakan peti tidak sesuai syariat Islam. Adapun di Kecamatan Pujer, keluarga pasien merasa pasien di-covid-kan. “Begitu pasien masuk ke rumah sakit dan puskesmas di mana pun, langkah awal dilakukan swab PCR atau antigen,” paparnya.

Apabila yang bersangkutan reaktif atau positif, lanjut Irwan, maka keluarganya dipanggil dan diajak bicara bahwa berdasarkan hasil lab, pasien dinyatakan positif. “Tunjukkan semuanya, kita harus transparan. Sehingga penanganannya harus menggunakan protokol kesehatan. Harus ada pernyataan bahwa akan dirawat sesuai protokol kesehatan,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kepala desa dan camat akan dilibatkan agar juga memberikan tanda tangan. Sebab, selama ini hanya untuk keluarga. Hal itu agar tidak terjadi seperti kemarin. Ketika keluarga termakan informasi bohong, pasien dijemput paksa. “Padahal kasus Pujer itu pernyataannya lengkap semua dari pihak keluarga,” jelas Irwan saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/