alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Sehari, Petani Bisa Panen Empat Kuintal Kopi

Hasil Melimpah, Penjualan Menurun

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi masih memanen buah kopi dari tanamannya. Buah yang berwarna merah itu mereka petik langsung dari kebun. Masa panennya pun belum usai.

Masa panen kopi dimulai dari sekitar bulan Juni lalu hingga sekarang. “Masa panen bisa memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Di masa panen itulah mereka mendapatkan buah kopi segar. Nantinya, diolah menjadi biji kopi hingga produk kemasan berupa bubuk kopi. “Bahkan, dalam sehari kami memanen buah kopi sekitar empat kuintal lebih,” beber petani kopi kawakan ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski hasil panen kopi melimpah, tetapi tidak sebanding dengan penjualannya. Pria yang akrab disapa Pak Yit ini mengaku, di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini, penjualan bubuk kopinya menurun drastis. “Yang jelas, penjualan sangat menurun. Tidak seperti biasanya. Karena banyak kafe-kafe yang tutup. Itu memengaruhi sekali,” jelasnya.

Suyitno memanen kopi di kebunnya, di Desa Kluncing, Kecamatan Sumberwringin. Seperti diketahui, Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, para petani kopi sudah masuk dalam tahapan memanen buah kopi. Diperkirakan panen kopi sampai Agustus hingga September.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi masih memanen buah kopi dari tanamannya. Buah yang berwarna merah itu mereka petik langsung dari kebun. Masa panennya pun belum usai.

Masa panen kopi dimulai dari sekitar bulan Juni lalu hingga sekarang. “Masa panen bisa memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Di masa panen itulah mereka mendapatkan buah kopi segar. Nantinya, diolah menjadi biji kopi hingga produk kemasan berupa bubuk kopi. “Bahkan, dalam sehari kami memanen buah kopi sekitar empat kuintal lebih,” beber petani kopi kawakan ini.

Meski hasil panen kopi melimpah, tetapi tidak sebanding dengan penjualannya. Pria yang akrab disapa Pak Yit ini mengaku, di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini, penjualan bubuk kopinya menurun drastis. “Yang jelas, penjualan sangat menurun. Tidak seperti biasanya. Karena banyak kafe-kafe yang tutup. Itu memengaruhi sekali,” jelasnya.

Suyitno memanen kopi di kebunnya, di Desa Kluncing, Kecamatan Sumberwringin. Seperti diketahui, Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, para petani kopi sudah masuk dalam tahapan memanen buah kopi. Diperkirakan panen kopi sampai Agustus hingga September.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi masih memanen buah kopi dari tanamannya. Buah yang berwarna merah itu mereka petik langsung dari kebun. Masa panennya pun belum usai.

Masa panen kopi dimulai dari sekitar bulan Juni lalu hingga sekarang. “Masa panen bisa memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Di masa panen itulah mereka mendapatkan buah kopi segar. Nantinya, diolah menjadi biji kopi hingga produk kemasan berupa bubuk kopi. “Bahkan, dalam sehari kami memanen buah kopi sekitar empat kuintal lebih,” beber petani kopi kawakan ini.

Meski hasil panen kopi melimpah, tetapi tidak sebanding dengan penjualannya. Pria yang akrab disapa Pak Yit ini mengaku, di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini, penjualan bubuk kopinya menurun drastis. “Yang jelas, penjualan sangat menurun. Tidak seperti biasanya. Karena banyak kafe-kafe yang tutup. Itu memengaruhi sekali,” jelasnya.

Suyitno memanen kopi di kebunnya, di Desa Kluncing, Kecamatan Sumberwringin. Seperti diketahui, Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, para petani kopi sudah masuk dalam tahapan memanen buah kopi. Diperkirakan panen kopi sampai Agustus hingga September.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/