alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Ada 7 Kasus Kekerasan Seksual Selama 2021

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur Kabupaten Bondowoso dari Januari hingga Mei masih tinggi. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso, terdapat tujuh kasus kekerasan yang dilaporkan.

Satu kasus pelecehan seksual hingga menyebabkan kehamilan. Serta satu kasus pencabulan juga sampai menyebabkan kehamilan. Sedangkan lima kasus lainnya adalah kasus pencabulan, tapi tidak sampai menyebabkan kehamilan. Ironisnya, dari lima kasus yang disebutkan, satu kasus di antaranya pelaku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas enam.

Sumariyati, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB Bondowoso, mengatakan, tingginya kasus pelecehan seksual banyak disebabkan penggunaan gawai dan media sosial secara bebas oleh anak. Sebab, menurutnya, penggunaan gawai pada anak memiliki pengaruh yang sangat besar. “Orang tua seharusnya memiliki bekal dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Karena, tanpa bekal yang cukup, maka banyak orang tua yang membiarkan penggunaan HP pada anak tanpa dilakukan pengawasan dan pembatasan secara ketat,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Akibatnya, anak bisa saja mengonsumsi video-video yang memang bukan tayangan selayaknya masuk begitu saja. “Anak bisa cenderung untuk meniru. Namanya juga anak-anak, kan memang cenderung untuk meniru. Tapi, mereka belum paham dampaknya bagaimana,” kata Sumariyati, kemarin.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur Kabupaten Bondowoso dari Januari hingga Mei masih tinggi. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso, terdapat tujuh kasus kekerasan yang dilaporkan.

Satu kasus pelecehan seksual hingga menyebabkan kehamilan. Serta satu kasus pencabulan juga sampai menyebabkan kehamilan. Sedangkan lima kasus lainnya adalah kasus pencabulan, tapi tidak sampai menyebabkan kehamilan. Ironisnya, dari lima kasus yang disebutkan, satu kasus di antaranya pelaku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas enam.

Sumariyati, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB Bondowoso, mengatakan, tingginya kasus pelecehan seksual banyak disebabkan penggunaan gawai dan media sosial secara bebas oleh anak. Sebab, menurutnya, penggunaan gawai pada anak memiliki pengaruh yang sangat besar. “Orang tua seharusnya memiliki bekal dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Karena, tanpa bekal yang cukup, maka banyak orang tua yang membiarkan penggunaan HP pada anak tanpa dilakukan pengawasan dan pembatasan secara ketat,” jelasnya.

Akibatnya, anak bisa saja mengonsumsi video-video yang memang bukan tayangan selayaknya masuk begitu saja. “Anak bisa cenderung untuk meniru. Namanya juga anak-anak, kan memang cenderung untuk meniru. Tapi, mereka belum paham dampaknya bagaimana,” kata Sumariyati, kemarin.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur Kabupaten Bondowoso dari Januari hingga Mei masih tinggi. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso, terdapat tujuh kasus kekerasan yang dilaporkan.

Satu kasus pelecehan seksual hingga menyebabkan kehamilan. Serta satu kasus pencabulan juga sampai menyebabkan kehamilan. Sedangkan lima kasus lainnya adalah kasus pencabulan, tapi tidak sampai menyebabkan kehamilan. Ironisnya, dari lima kasus yang disebutkan, satu kasus di antaranya pelaku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas enam.

Sumariyati, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB Bondowoso, mengatakan, tingginya kasus pelecehan seksual banyak disebabkan penggunaan gawai dan media sosial secara bebas oleh anak. Sebab, menurutnya, penggunaan gawai pada anak memiliki pengaruh yang sangat besar. “Orang tua seharusnya memiliki bekal dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Karena, tanpa bekal yang cukup, maka banyak orang tua yang membiarkan penggunaan HP pada anak tanpa dilakukan pengawasan dan pembatasan secara ketat,” jelasnya.

Akibatnya, anak bisa saja mengonsumsi video-video yang memang bukan tayangan selayaknya masuk begitu saja. “Anak bisa cenderung untuk meniru. Namanya juga anak-anak, kan memang cenderung untuk meniru. Tapi, mereka belum paham dampaknya bagaimana,” kata Sumariyati, kemarin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/