alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Petani Bondowoso Minim Ikuti Program Asuransi Usaha Tanaman Padi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Risiko gagal panen bagi para petani tentu cenderung akan lebih besar di musim seperti sekarang. Mirisnya, para petani di Bondowoso masih minim yang mengikuti program Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Tidak banyak petani yang mengasuransikan tanaman padi milik mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono menyebut, hingga saat ini baru 10 persen dari seluruh petani yang mengikuti program AUTP. Sementara, sisanya belum mau untuk bergabung.

Menurut dia, mereka keberatan untuk membayar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawahnya. “Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi. Karena ternak itu selama satu tahun. Kalau padi usianya tiga bulan,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walaupun demikian, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. “Kami proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen,” lanjut Hendri.

Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, dia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal Pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.

“Kami pahami bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan,” terangnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Risiko gagal panen bagi para petani tentu cenderung akan lebih besar di musim seperti sekarang. Mirisnya, para petani di Bondowoso masih minim yang mengikuti program Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Tidak banyak petani yang mengasuransikan tanaman padi milik mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono menyebut, hingga saat ini baru 10 persen dari seluruh petani yang mengikuti program AUTP. Sementara, sisanya belum mau untuk bergabung.

Menurut dia, mereka keberatan untuk membayar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawahnya. “Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi. Karena ternak itu selama satu tahun. Kalau padi usianya tiga bulan,” jelasnya.

Walaupun demikian, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. “Kami proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen,” lanjut Hendri.

Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, dia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal Pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.

“Kami pahami bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan,” terangnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Risiko gagal panen bagi para petani tentu cenderung akan lebih besar di musim seperti sekarang. Mirisnya, para petani di Bondowoso masih minim yang mengikuti program Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Tidak banyak petani yang mengasuransikan tanaman padi milik mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono menyebut, hingga saat ini baru 10 persen dari seluruh petani yang mengikuti program AUTP. Sementara, sisanya belum mau untuk bergabung.

Menurut dia, mereka keberatan untuk membayar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawahnya. “Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi. Karena ternak itu selama satu tahun. Kalau padi usianya tiga bulan,” jelasnya.

Walaupun demikian, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. “Kami proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen,” lanjut Hendri.

Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, dia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal Pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.

“Kami pahami bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/