alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kasus HIV/AIDS di Bondowoso Menurun tapi Tak Menghilang

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kewaspadaan terhadap penyakit HIV/AIDS harus tetap ditingkatkan. Pasalnya, masalah tersebut di berbagai daerah selalu menjadi permasalahan klasik yang tetap ada hingga saat ini. Tidak luput Kabupaten Bondowoso. Sepanjang 2021, sudah ada puluhan kasus yang terdata.

Meski demikian, kasus tersebut ternyata sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen dari catatan Yayasan Pemberdayaan Intensif Kesehatan Masyarakat (Yapikma) Kabupaten Bondowoso, sejak 2017 lalu hingga kemarin (1/12) sudah ada 536 kasus HIV/AIDS yang terjadi di Bumi Ki Ronggo ini.

Ketua Yapikma Kabupaten Bondowoso Siwin Soliha menyebut, kasus baru pada tahun ini sudah sebanyak 74 kasus. Tambahan kasus baru tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2020. Pada tahun tersebut, jumlah kasusnya mencapai 120 kasus, dihitung berdasarkan tanggal yang sama. “Tahun 2021 yang meninggal 25 kasus. Rata-rata usia produktif. Tapi, ada juga yang lanjut usia,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya juga menjelaskan, kasus HIV/AIDS pada tahun ini paling tinggi ada di Kecamatan Cermee, Sumber Wringin, dan Kecamatan Prajekan. “Tahun lalu Sumber Wringin yang tinggi, sekarang bergeser,” katanya.

Menurut Siwin, penyebab tertinggi kasus adalah hubungan seks, dan banyak kasus dibawa oleh warga yang pulang kerja dari luar kota. “Misalnya warga cerai dengan istrinya. Terus tinggal di Bali. Dari Bali mereka pulang dan menikah lagi, dan bawa oleh-oleh. Masih seputaran hubungan seks,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kasus yang disebabkan karena hubungan sesama jenis juga ada di Bondowoso. “Ada juga yang membawa virus itu dari luar negeri. Dari ibu ke bayi juga ada,” bebernya.

Sementara, untuk penanganan sejauh ini, kata dia, selain dari Yapikma juga ada Pokja TB HIV yang juga bergerak di bidang pendampingan, penjangkauan, dan distribusi obat. “Tahun ini kami terbentur Covid-19, sehingga klinik mobile itu tidak bisa kami laksanakan. Kami memiliki pelayanan di beberapa kecamatan,” paparnya.

Pihaknya juga menegaskan, sebenarnya HIV/AIDS tidak mudah menular. Berbeda dengan Covid-19 atau TBC bisa menular melalui percikan air ludah. Penularannya, kata dia, hanya melalui darah, cairan tubuh, dan air susu ibu (ASI). “Itu pun kalau sudah mengonsumsi ARV (antiretroviral, Red) lebih dari satu tahun serta viral load atau kisaran jumlah partikel virus dilakukan pemeriksaan. Maka insyaallah jika bisa memiliki anak, anaknya negatif HIV,” tegasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kewaspadaan terhadap penyakit HIV/AIDS harus tetap ditingkatkan. Pasalnya, masalah tersebut di berbagai daerah selalu menjadi permasalahan klasik yang tetap ada hingga saat ini. Tidak luput Kabupaten Bondowoso. Sepanjang 2021, sudah ada puluhan kasus yang terdata.

Meski demikian, kasus tersebut ternyata sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen dari catatan Yayasan Pemberdayaan Intensif Kesehatan Masyarakat (Yapikma) Kabupaten Bondowoso, sejak 2017 lalu hingga kemarin (1/12) sudah ada 536 kasus HIV/AIDS yang terjadi di Bumi Ki Ronggo ini.

Ketua Yapikma Kabupaten Bondowoso Siwin Soliha menyebut, kasus baru pada tahun ini sudah sebanyak 74 kasus. Tambahan kasus baru tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2020. Pada tahun tersebut, jumlah kasusnya mencapai 120 kasus, dihitung berdasarkan tanggal yang sama. “Tahun 2021 yang meninggal 25 kasus. Rata-rata usia produktif. Tapi, ada juga yang lanjut usia,” ujarnya.

Dirinya juga menjelaskan, kasus HIV/AIDS pada tahun ini paling tinggi ada di Kecamatan Cermee, Sumber Wringin, dan Kecamatan Prajekan. “Tahun lalu Sumber Wringin yang tinggi, sekarang bergeser,” katanya.

Menurut Siwin, penyebab tertinggi kasus adalah hubungan seks, dan banyak kasus dibawa oleh warga yang pulang kerja dari luar kota. “Misalnya warga cerai dengan istrinya. Terus tinggal di Bali. Dari Bali mereka pulang dan menikah lagi, dan bawa oleh-oleh. Masih seputaran hubungan seks,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kasus yang disebabkan karena hubungan sesama jenis juga ada di Bondowoso. “Ada juga yang membawa virus itu dari luar negeri. Dari ibu ke bayi juga ada,” bebernya.

Sementara, untuk penanganan sejauh ini, kata dia, selain dari Yapikma juga ada Pokja TB HIV yang juga bergerak di bidang pendampingan, penjangkauan, dan distribusi obat. “Tahun ini kami terbentur Covid-19, sehingga klinik mobile itu tidak bisa kami laksanakan. Kami memiliki pelayanan di beberapa kecamatan,” paparnya.

Pihaknya juga menegaskan, sebenarnya HIV/AIDS tidak mudah menular. Berbeda dengan Covid-19 atau TBC bisa menular melalui percikan air ludah. Penularannya, kata dia, hanya melalui darah, cairan tubuh, dan air susu ibu (ASI). “Itu pun kalau sudah mengonsumsi ARV (antiretroviral, Red) lebih dari satu tahun serta viral load atau kisaran jumlah partikel virus dilakukan pemeriksaan. Maka insyaallah jika bisa memiliki anak, anaknya negatif HIV,” tegasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kewaspadaan terhadap penyakit HIV/AIDS harus tetap ditingkatkan. Pasalnya, masalah tersebut di berbagai daerah selalu menjadi permasalahan klasik yang tetap ada hingga saat ini. Tidak luput Kabupaten Bondowoso. Sepanjang 2021, sudah ada puluhan kasus yang terdata.

Meski demikian, kasus tersebut ternyata sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen dari catatan Yayasan Pemberdayaan Intensif Kesehatan Masyarakat (Yapikma) Kabupaten Bondowoso, sejak 2017 lalu hingga kemarin (1/12) sudah ada 536 kasus HIV/AIDS yang terjadi di Bumi Ki Ronggo ini.

Ketua Yapikma Kabupaten Bondowoso Siwin Soliha menyebut, kasus baru pada tahun ini sudah sebanyak 74 kasus. Tambahan kasus baru tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2020. Pada tahun tersebut, jumlah kasusnya mencapai 120 kasus, dihitung berdasarkan tanggal yang sama. “Tahun 2021 yang meninggal 25 kasus. Rata-rata usia produktif. Tapi, ada juga yang lanjut usia,” ujarnya.

Dirinya juga menjelaskan, kasus HIV/AIDS pada tahun ini paling tinggi ada di Kecamatan Cermee, Sumber Wringin, dan Kecamatan Prajekan. “Tahun lalu Sumber Wringin yang tinggi, sekarang bergeser,” katanya.

Menurut Siwin, penyebab tertinggi kasus adalah hubungan seks, dan banyak kasus dibawa oleh warga yang pulang kerja dari luar kota. “Misalnya warga cerai dengan istrinya. Terus tinggal di Bali. Dari Bali mereka pulang dan menikah lagi, dan bawa oleh-oleh. Masih seputaran hubungan seks,” paparnya.

Selain itu, kata dia, kasus yang disebabkan karena hubungan sesama jenis juga ada di Bondowoso. “Ada juga yang membawa virus itu dari luar negeri. Dari ibu ke bayi juga ada,” bebernya.

Sementara, untuk penanganan sejauh ini, kata dia, selain dari Yapikma juga ada Pokja TB HIV yang juga bergerak di bidang pendampingan, penjangkauan, dan distribusi obat. “Tahun ini kami terbentur Covid-19, sehingga klinik mobile itu tidak bisa kami laksanakan. Kami memiliki pelayanan di beberapa kecamatan,” paparnya.

Pihaknya juga menegaskan, sebenarnya HIV/AIDS tidak mudah menular. Berbeda dengan Covid-19 atau TBC bisa menular melalui percikan air ludah. Penularannya, kata dia, hanya melalui darah, cairan tubuh, dan air susu ibu (ASI). “Itu pun kalau sudah mengonsumsi ARV (antiretroviral, Red) lebih dari satu tahun serta viral load atau kisaran jumlah partikel virus dilakukan pemeriksaan. Maka insyaallah jika bisa memiliki anak, anaknya negatif HIV,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/