alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Permintaan Dispensasi karena Hamil di Luar Nikah di Bondowoso Meningkat

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka Permintaan Dispensasi Nikah di Kabupaten Bondowoso ternyata masih banyak. Bahkan, di tengah pandemi permintaan tersebut mengalami peningkatan drastis. Walaupun demikian, ternyata tidak semua permintaan dapat dikabulkan oleh Pengadilan Agama Bondowoso.

Irman Fadli, Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Bondowoso, menyebutkan, angka dispensasi nikah di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan di tengah pandemi ini. Pasalnya, dari 2019 hingga 2021 angkanya terus memperlihatkan peningkatan. Untuk tahun 2019, sebanyak 299 perkara. Kemudian, melonjak drastis pada tahun berikutnya, yakni sebanyak 1077 perkara. Sementara, untuk tahun ini, hingga akhir September sudah ada sejumlah 802 perkara.

Latar belakang meningkatnya dispensasi nikah ditemui banyak faktor. Di antaranya, setelah adanya revisi undang-undang pernikahan. Salah satu perubahan undang-undang tersebut mengatur usia minimal wanita bisa menikah. Saat ini usia minimal perempuan untuk bisa menikah 19 tahun, dari sebelumnya hanya 16 tahun. “Kan biasanya umur 16 sudah nikah perempuan itu. Karena ada kenaikan ini, akhirnya mereka ramai-ramai ke pengadilan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kasus kehamilan di luar pernikahan juga masih banyak terjadi. Hal itu juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka dispensasi nikah. Selain itu, kedua calon pengantin sudah dirasa dekat dalam jangka waktu lama. Karenanya, orang tua mereka memiliki inisiatif untuk menikahkan anaknya. “Jadi, karena kultur juga. Kultur kalau orang itu sudah dekat, gak mau lagi dilepas,” katanya.

Walaupun demikian, tidak semua permintaan dispensasi nikah dapat dikabulkan. Misalnya, karena pertimbangan fisik yang dinilai belum mampu. “Kan ada juga yang di bawah usia 16 tahun mengajukan. Kalau di bawah 16 tahun, kita tolak,” tegasnya.

Ternyata, pengajuan dispensasi nikah di bawah umur 16 tahun juga masih banyak ditemui. Bahkan jumlahnya mencapai 25 persen. “Yang banyak di atas 16 tahun. Di bawah 19 tahun,” ungkapnya.

Pj Sekretaris Daerah Bondowoso Soekaryo mengatakan, banyak problem yang menyebabkan pernikahan dini di Bondowoso cukup tinggi. “Yaitu adanya kemiskinan, rendahnya kesadaran terhadap pendidikan, dan kesadaran terhadap kesehatan,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka Permintaan Dispensasi Nikah di Kabupaten Bondowoso ternyata masih banyak. Bahkan, di tengah pandemi permintaan tersebut mengalami peningkatan drastis. Walaupun demikian, ternyata tidak semua permintaan dapat dikabulkan oleh Pengadilan Agama Bondowoso.

Irman Fadli, Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Bondowoso, menyebutkan, angka dispensasi nikah di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan di tengah pandemi ini. Pasalnya, dari 2019 hingga 2021 angkanya terus memperlihatkan peningkatan. Untuk tahun 2019, sebanyak 299 perkara. Kemudian, melonjak drastis pada tahun berikutnya, yakni sebanyak 1077 perkara. Sementara, untuk tahun ini, hingga akhir September sudah ada sejumlah 802 perkara.

Latar belakang meningkatnya dispensasi nikah ditemui banyak faktor. Di antaranya, setelah adanya revisi undang-undang pernikahan. Salah satu perubahan undang-undang tersebut mengatur usia minimal wanita bisa menikah. Saat ini usia minimal perempuan untuk bisa menikah 19 tahun, dari sebelumnya hanya 16 tahun. “Kan biasanya umur 16 sudah nikah perempuan itu. Karena ada kenaikan ini, akhirnya mereka ramai-ramai ke pengadilan,” ujarnya.

Kasus kehamilan di luar pernikahan juga masih banyak terjadi. Hal itu juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka dispensasi nikah. Selain itu, kedua calon pengantin sudah dirasa dekat dalam jangka waktu lama. Karenanya, orang tua mereka memiliki inisiatif untuk menikahkan anaknya. “Jadi, karena kultur juga. Kultur kalau orang itu sudah dekat, gak mau lagi dilepas,” katanya.

Walaupun demikian, tidak semua permintaan dispensasi nikah dapat dikabulkan. Misalnya, karena pertimbangan fisik yang dinilai belum mampu. “Kan ada juga yang di bawah usia 16 tahun mengajukan. Kalau di bawah 16 tahun, kita tolak,” tegasnya.

Ternyata, pengajuan dispensasi nikah di bawah umur 16 tahun juga masih banyak ditemui. Bahkan jumlahnya mencapai 25 persen. “Yang banyak di atas 16 tahun. Di bawah 19 tahun,” ungkapnya.

Pj Sekretaris Daerah Bondowoso Soekaryo mengatakan, banyak problem yang menyebabkan pernikahan dini di Bondowoso cukup tinggi. “Yaitu adanya kemiskinan, rendahnya kesadaran terhadap pendidikan, dan kesadaran terhadap kesehatan,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka Permintaan Dispensasi Nikah di Kabupaten Bondowoso ternyata masih banyak. Bahkan, di tengah pandemi permintaan tersebut mengalami peningkatan drastis. Walaupun demikian, ternyata tidak semua permintaan dapat dikabulkan oleh Pengadilan Agama Bondowoso.

Irman Fadli, Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Bondowoso, menyebutkan, angka dispensasi nikah di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan di tengah pandemi ini. Pasalnya, dari 2019 hingga 2021 angkanya terus memperlihatkan peningkatan. Untuk tahun 2019, sebanyak 299 perkara. Kemudian, melonjak drastis pada tahun berikutnya, yakni sebanyak 1077 perkara. Sementara, untuk tahun ini, hingga akhir September sudah ada sejumlah 802 perkara.

Latar belakang meningkatnya dispensasi nikah ditemui banyak faktor. Di antaranya, setelah adanya revisi undang-undang pernikahan. Salah satu perubahan undang-undang tersebut mengatur usia minimal wanita bisa menikah. Saat ini usia minimal perempuan untuk bisa menikah 19 tahun, dari sebelumnya hanya 16 tahun. “Kan biasanya umur 16 sudah nikah perempuan itu. Karena ada kenaikan ini, akhirnya mereka ramai-ramai ke pengadilan,” ujarnya.

Kasus kehamilan di luar pernikahan juga masih banyak terjadi. Hal itu juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka dispensasi nikah. Selain itu, kedua calon pengantin sudah dirasa dekat dalam jangka waktu lama. Karenanya, orang tua mereka memiliki inisiatif untuk menikahkan anaknya. “Jadi, karena kultur juga. Kultur kalau orang itu sudah dekat, gak mau lagi dilepas,” katanya.

Walaupun demikian, tidak semua permintaan dispensasi nikah dapat dikabulkan. Misalnya, karena pertimbangan fisik yang dinilai belum mampu. “Kan ada juga yang di bawah usia 16 tahun mengajukan. Kalau di bawah 16 tahun, kita tolak,” tegasnya.

Ternyata, pengajuan dispensasi nikah di bawah umur 16 tahun juga masih banyak ditemui. Bahkan jumlahnya mencapai 25 persen. “Yang banyak di atas 16 tahun. Di bawah 19 tahun,” ungkapnya.

Pj Sekretaris Daerah Bondowoso Soekaryo mengatakan, banyak problem yang menyebabkan pernikahan dini di Bondowoso cukup tinggi. “Yaitu adanya kemiskinan, rendahnya kesadaran terhadap pendidikan, dan kesadaran terhadap kesehatan,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/