alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Kasus DBD Meninggi di Wilayah Perbatasan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso turun selama dua bulan terakhir. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat, daerah perbatasan menjadi penyumbang terbanyak kasus DBD tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Haris Ahmadi, Programer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Dinkes Bondowoso. “Sangat berhubungan dengan geografis ya. Kami sudah cross-check ke teman-teman Situbondo. Situbondo naik. Ternyata, di Bondowoso yang berbatasan dengan Situbondo, yang dulunya sedikit, sekarang tinggi,” terangnya.

Lebih lanjut, Haris menambahkan, Kecamatan Cermee yang berbatasan dengan Situbondo menjadi daerah tertinggi bersama dengan Kecamatan Prajekan, Klabang, dan Tapen. Bahkan, jumlah DBD di sana mengalahkan kawasan kota dengan 16 kasus atau naik 10 kasus dibanding tahun lalu. “Kota saja sedikit. Mungkin hanya lima kasus,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ditambahkannya, total penderita DBD di Kota Tape sepanjang 2020 sebanyak 91 kasus. Tahun ini, selama dua bulan terakhir turun menjadi 63 kasus. Perinciannya, pada Januari 2020 terdapat 34 kasus. Kemudian, naik pada bulan berikutnya menjadi 57 kasus. Adapun Januari 2021, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut sebanyak 48 kasus. Bulan berikutnya, angkanya turun menjadi 15 kasus.

“Tidak hanya di tempat-tempat lembap, namun di hampir semua daerah berisiko terserang DBD. Terutama di tempat-tempat yang tergenang air seperti ember bekas, wadah asah pisau, dan lain-lain,” paparnya.

Meski disebutnya turun, Dinkes tetap berupaya untuk menekan angka kasus DBD. Yakni dengan melaksanakan program Grebek Jentik secara bergilir tiap hari. Hal itu untuk mengedukasi masyarakat bahwa jentik nyamuk berbahaya dan bisa menyebabkan demam berdarah.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso turun selama dua bulan terakhir. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat, daerah perbatasan menjadi penyumbang terbanyak kasus DBD tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Haris Ahmadi, Programer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Dinkes Bondowoso. “Sangat berhubungan dengan geografis ya. Kami sudah cross-check ke teman-teman Situbondo. Situbondo naik. Ternyata, di Bondowoso yang berbatasan dengan Situbondo, yang dulunya sedikit, sekarang tinggi,” terangnya.

Lebih lanjut, Haris menambahkan, Kecamatan Cermee yang berbatasan dengan Situbondo menjadi daerah tertinggi bersama dengan Kecamatan Prajekan, Klabang, dan Tapen. Bahkan, jumlah DBD di sana mengalahkan kawasan kota dengan 16 kasus atau naik 10 kasus dibanding tahun lalu. “Kota saja sedikit. Mungkin hanya lima kasus,” lanjutnya.

Ditambahkannya, total penderita DBD di Kota Tape sepanjang 2020 sebanyak 91 kasus. Tahun ini, selama dua bulan terakhir turun menjadi 63 kasus. Perinciannya, pada Januari 2020 terdapat 34 kasus. Kemudian, naik pada bulan berikutnya menjadi 57 kasus. Adapun Januari 2021, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut sebanyak 48 kasus. Bulan berikutnya, angkanya turun menjadi 15 kasus.

“Tidak hanya di tempat-tempat lembap, namun di hampir semua daerah berisiko terserang DBD. Terutama di tempat-tempat yang tergenang air seperti ember bekas, wadah asah pisau, dan lain-lain,” paparnya.

Meski disebutnya turun, Dinkes tetap berupaya untuk menekan angka kasus DBD. Yakni dengan melaksanakan program Grebek Jentik secara bergilir tiap hari. Hal itu untuk mengedukasi masyarakat bahwa jentik nyamuk berbahaya dan bisa menyebabkan demam berdarah.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) di Bondowoso turun selama dua bulan terakhir. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat, daerah perbatasan menjadi penyumbang terbanyak kasus DBD tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Haris Ahmadi, Programer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Dinkes Bondowoso. “Sangat berhubungan dengan geografis ya. Kami sudah cross-check ke teman-teman Situbondo. Situbondo naik. Ternyata, di Bondowoso yang berbatasan dengan Situbondo, yang dulunya sedikit, sekarang tinggi,” terangnya.

Lebih lanjut, Haris menambahkan, Kecamatan Cermee yang berbatasan dengan Situbondo menjadi daerah tertinggi bersama dengan Kecamatan Prajekan, Klabang, dan Tapen. Bahkan, jumlah DBD di sana mengalahkan kawasan kota dengan 16 kasus atau naik 10 kasus dibanding tahun lalu. “Kota saja sedikit. Mungkin hanya lima kasus,” lanjutnya.

Ditambahkannya, total penderita DBD di Kota Tape sepanjang 2020 sebanyak 91 kasus. Tahun ini, selama dua bulan terakhir turun menjadi 63 kasus. Perinciannya, pada Januari 2020 terdapat 34 kasus. Kemudian, naik pada bulan berikutnya menjadi 57 kasus. Adapun Januari 2021, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut sebanyak 48 kasus. Bulan berikutnya, angkanya turun menjadi 15 kasus.

“Tidak hanya di tempat-tempat lembap, namun di hampir semua daerah berisiko terserang DBD. Terutama di tempat-tempat yang tergenang air seperti ember bekas, wadah asah pisau, dan lain-lain,” paparnya.

Meski disebutnya turun, Dinkes tetap berupaya untuk menekan angka kasus DBD. Yakni dengan melaksanakan program Grebek Jentik secara bergilir tiap hari. Hal itu untuk mengedukasi masyarakat bahwa jentik nyamuk berbahaya dan bisa menyebabkan demam berdarah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/