23.2 C
Jember
Monday, 30 January 2023

Dorong Pemberitaan Ramah Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

TAMANSARI, Radar Ijen – Pemberitaan ramah anak memang harus dilakukan oleh semua jurnalis. Hal tersebut sesuai dengan konferensi internasional untuk menjaga tumbuh kembang anak dari berbagai peristiwa yang merugikan. Bahkan Dewan Pers sudah membuat pedoman terkait pemberitaan tersebut sejak 2019 lalu.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Djoko Tetuko, Dewan Penasihat PWI Jatim, menyampaikan, pedoman tersebut dibuat menyusul adanya sistem peradilan anak yang terdapat pasal, larangan menyebut nama anak, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku tindak pidana atau kejahatan lainnya. “Untuk mengingatkan kepada awak media, kebebasan pers apa pun, harus melindungi tumbuh kembang anak,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk itu, pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA) sudah diatur dalam kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan. Dengan itu, harapannya anak yang berkaitan dengan perilaku negatif tetap dapat dilindungi dalam pemberitaan. Namun, bukan berarti masyarakat tidak boleh mendapatkan informasi. “Tetap boleh dapat informasi, tapi harus dikemas sedemikian rupa menjadi ramah,” tegasnya.

- Advertisement -

TAMANSARI, Radar Ijen – Pemberitaan ramah anak memang harus dilakukan oleh semua jurnalis. Hal tersebut sesuai dengan konferensi internasional untuk menjaga tumbuh kembang anak dari berbagai peristiwa yang merugikan. Bahkan Dewan Pers sudah membuat pedoman terkait pemberitaan tersebut sejak 2019 lalu.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Djoko Tetuko, Dewan Penasihat PWI Jatim, menyampaikan, pedoman tersebut dibuat menyusul adanya sistem peradilan anak yang terdapat pasal, larangan menyebut nama anak, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku tindak pidana atau kejahatan lainnya. “Untuk mengingatkan kepada awak media, kebebasan pers apa pun, harus melindungi tumbuh kembang anak,” katanya.

Untuk itu, pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA) sudah diatur dalam kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan. Dengan itu, harapannya anak yang berkaitan dengan perilaku negatif tetap dapat dilindungi dalam pemberitaan. Namun, bukan berarti masyarakat tidak boleh mendapatkan informasi. “Tetap boleh dapat informasi, tapi harus dikemas sedemikian rupa menjadi ramah,” tegasnya.

TAMANSARI, Radar Ijen – Pemberitaan ramah anak memang harus dilakukan oleh semua jurnalis. Hal tersebut sesuai dengan konferensi internasional untuk menjaga tumbuh kembang anak dari berbagai peristiwa yang merugikan. Bahkan Dewan Pers sudah membuat pedoman terkait pemberitaan tersebut sejak 2019 lalu.

BACA JUGA : Rezha Repri Pratama, Wasit Arum Jeram Lisensi Nasional

Djoko Tetuko, Dewan Penasihat PWI Jatim, menyampaikan, pedoman tersebut dibuat menyusul adanya sistem peradilan anak yang terdapat pasal, larangan menyebut nama anak, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku tindak pidana atau kejahatan lainnya. “Untuk mengingatkan kepada awak media, kebebasan pers apa pun, harus melindungi tumbuh kembang anak,” katanya.

Untuk itu, pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA) sudah diatur dalam kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan. Dengan itu, harapannya anak yang berkaitan dengan perilaku negatif tetap dapat dilindungi dalam pemberitaan. Namun, bukan berarti masyarakat tidak boleh mendapatkan informasi. “Tetap boleh dapat informasi, tapi harus dikemas sedemikian rupa menjadi ramah,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca