alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Sudah Level 1, Pengusaha Hotel dan Restoran Masih Belum Stabil

Okupansi Hotel dan Restoran di Bawah 30 Persen

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengizinkan sejumlah aktivitas dilakukan dan berbagai lini bisnis beroperasi, tingkat okupansi hotel dan restoran masih di bawah 30 persen. Hal itu sesuai hasil evaluasi dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bondowoso yang dilakukan setiap akhir bulan.

Ketua PHRI Bondowoso Slamet Agus Darminto menerangkan, meski tren kasus Covid-19 menurun, namun para pengusaha hotel dan restoran tetap harus waspada dan tidak lengah agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus Covid-19. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan satgas penanganan Covid-19 kabupaten. “Jadi, setiap minggunya masih fluktuatif. Kami mengevaluasinya tiap akhir bulan,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/09)

Secara umum, kondisi tersebut menyebabkan sebagian pihak hotel mengurangi sedikit karyawannya. Namun, sebagian lagi memberlakukan pengurangan waktu kerja tanpa harus mem-PHK karyawan. “Tapi, tergantung yang bersangkutan. Kalau karyawan tidak keberatan seperti itu. Kalau keberatan, ya, diberi pilihan, apakah bertahan atau bagaimana,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Diakuinya, para pengusaha memang mengalami syok akibat pukulan pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu. Namun, dia memastikan sampai saat ini tidak ada laporan hotel maupun restoran yang gulung tikar akibat pandemi.

Meskipun demikian, lanjut dia, para pengusaha hotel dan restoran perlu mendapatkan pendampingan dari pemerintah setempat agar tetap termotivasi. “Apalagi akhir-akhir ini dari level 3 sudah masuk ke level 1. Kita nggak bisa hanya bersandar kepada pemerintah untuk menggiatkan pariwisata. Kita sendiri harus punya upaya agar mereka bisa stay lebih lama di Bondowoso,” bebernya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengizinkan sejumlah aktivitas dilakukan dan berbagai lini bisnis beroperasi, tingkat okupansi hotel dan restoran masih di bawah 30 persen. Hal itu sesuai hasil evaluasi dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bondowoso yang dilakukan setiap akhir bulan.

Ketua PHRI Bondowoso Slamet Agus Darminto menerangkan, meski tren kasus Covid-19 menurun, namun para pengusaha hotel dan restoran tetap harus waspada dan tidak lengah agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus Covid-19. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan satgas penanganan Covid-19 kabupaten. “Jadi, setiap minggunya masih fluktuatif. Kami mengevaluasinya tiap akhir bulan,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/09)

Secara umum, kondisi tersebut menyebabkan sebagian pihak hotel mengurangi sedikit karyawannya. Namun, sebagian lagi memberlakukan pengurangan waktu kerja tanpa harus mem-PHK karyawan. “Tapi, tergantung yang bersangkutan. Kalau karyawan tidak keberatan seperti itu. Kalau keberatan, ya, diberi pilihan, apakah bertahan atau bagaimana,” paparnya.

Diakuinya, para pengusaha memang mengalami syok akibat pukulan pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu. Namun, dia memastikan sampai saat ini tidak ada laporan hotel maupun restoran yang gulung tikar akibat pandemi.

Meskipun demikian, lanjut dia, para pengusaha hotel dan restoran perlu mendapatkan pendampingan dari pemerintah setempat agar tetap termotivasi. “Apalagi akhir-akhir ini dari level 3 sudah masuk ke level 1. Kita nggak bisa hanya bersandar kepada pemerintah untuk menggiatkan pariwisata. Kita sendiri harus punya upaya agar mereka bisa stay lebih lama di Bondowoso,” bebernya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengizinkan sejumlah aktivitas dilakukan dan berbagai lini bisnis beroperasi, tingkat okupansi hotel dan restoran masih di bawah 30 persen. Hal itu sesuai hasil evaluasi dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bondowoso yang dilakukan setiap akhir bulan.

Ketua PHRI Bondowoso Slamet Agus Darminto menerangkan, meski tren kasus Covid-19 menurun, namun para pengusaha hotel dan restoran tetap harus waspada dan tidak lengah agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus Covid-19. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan satgas penanganan Covid-19 kabupaten. “Jadi, setiap minggunya masih fluktuatif. Kami mengevaluasinya tiap akhir bulan,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/09)

Secara umum, kondisi tersebut menyebabkan sebagian pihak hotel mengurangi sedikit karyawannya. Namun, sebagian lagi memberlakukan pengurangan waktu kerja tanpa harus mem-PHK karyawan. “Tapi, tergantung yang bersangkutan. Kalau karyawan tidak keberatan seperti itu. Kalau keberatan, ya, diberi pilihan, apakah bertahan atau bagaimana,” paparnya.

Diakuinya, para pengusaha memang mengalami syok akibat pukulan pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu. Namun, dia memastikan sampai saat ini tidak ada laporan hotel maupun restoran yang gulung tikar akibat pandemi.

Meskipun demikian, lanjut dia, para pengusaha hotel dan restoran perlu mendapatkan pendampingan dari pemerintah setempat agar tetap termotivasi. “Apalagi akhir-akhir ini dari level 3 sudah masuk ke level 1. Kita nggak bisa hanya bersandar kepada pemerintah untuk menggiatkan pariwisata. Kita sendiri harus punya upaya agar mereka bisa stay lebih lama di Bondowoso,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/