alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Harga Telur Jeblok, Peternak Jual Ayam hingga Kurangi Kualitas Pakan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Bondowoso banyak yang mengeluh dan harus bersiap menghadapi kerugian. Pasalnya, saat ini harga telur ayam dari para peternak anjlok. Bahkan mencapai Rp 16 ribu hingga 17 ribu per kilogram.

Hal tersebut membuat sejumlah peternak terpaksa melakukan afkir dini, atau memisahkan ayam peliharaannya untuk kemudian dijual atau dipotong. Walaupun, harga itu sebenarnya telah mengalami peningkatan selama beberapa hari terakhir, dari harga sebelumnya yang lebih anjlok hingga menyentuh Rp 14 ribu per kilogram.

Namun, harga tersebut dinilai masih jauh di bawah harga normal telur ayam. Pada harga normal biasanya harga telur berkisar di angka Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Hal itu diungkapkan oleh Wiwit, salah satu peternak ayam di Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, harga telur saat ini masih belum seimbang dengan harga pakan yang dinilai semakin melambung tinggi. “Harga ini belum stabil dengan harga pakan. Kalau stabilnya dengan harga pakan itu, ya, Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilo,” ujarnya.

Dia menerangkan, turunnya harga telur ini berbanding terbalik dengan harga pakan yang terus naik. Harga pakan setelah dicampur Rp 4 ribu lebih per kilogram. Sementara, saat ini harga pakan naik menjadi Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogram. “Hingga tak ada hasil sama sekali. Peternak rugi, anjlok semua,” tutur wanita dengan jumlah ternak ayamnya yang mencapai 1.500 ekor ini.

Wanita yang telah bergelut dengan usaha ternak ayam selama 11 tahun ini mengaku terpaksa menurunkan kualitas pakan. Yakni mencari konsentrat ayam dengan protein paling rendah karena harganya juga lebih murah. Meski demikian, dia mengaku sengaja tidak melakukan afkir dini. Sebab, menurut dia, jika saat ini afkir, maka ke depan saat mendatangkan ayam lagi harus mengeluarkan modal lebih besar.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Bondowoso banyak yang mengeluh dan harus bersiap menghadapi kerugian. Pasalnya, saat ini harga telur ayam dari para peternak anjlok. Bahkan mencapai Rp 16 ribu hingga 17 ribu per kilogram.

Hal tersebut membuat sejumlah peternak terpaksa melakukan afkir dini, atau memisahkan ayam peliharaannya untuk kemudian dijual atau dipotong. Walaupun, harga itu sebenarnya telah mengalami peningkatan selama beberapa hari terakhir, dari harga sebelumnya yang lebih anjlok hingga menyentuh Rp 14 ribu per kilogram.

Namun, harga tersebut dinilai masih jauh di bawah harga normal telur ayam. Pada harga normal biasanya harga telur berkisar di angka Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Hal itu diungkapkan oleh Wiwit, salah satu peternak ayam di Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso.

Menurut dia, harga telur saat ini masih belum seimbang dengan harga pakan yang dinilai semakin melambung tinggi. “Harga ini belum stabil dengan harga pakan. Kalau stabilnya dengan harga pakan itu, ya, Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilo,” ujarnya.

Dia menerangkan, turunnya harga telur ini berbanding terbalik dengan harga pakan yang terus naik. Harga pakan setelah dicampur Rp 4 ribu lebih per kilogram. Sementara, saat ini harga pakan naik menjadi Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogram. “Hingga tak ada hasil sama sekali. Peternak rugi, anjlok semua,” tutur wanita dengan jumlah ternak ayamnya yang mencapai 1.500 ekor ini.

Wanita yang telah bergelut dengan usaha ternak ayam selama 11 tahun ini mengaku terpaksa menurunkan kualitas pakan. Yakni mencari konsentrat ayam dengan protein paling rendah karena harganya juga lebih murah. Meski demikian, dia mengaku sengaja tidak melakukan afkir dini. Sebab, menurut dia, jika saat ini afkir, maka ke depan saat mendatangkan ayam lagi harus mengeluarkan modal lebih besar.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Bondowoso banyak yang mengeluh dan harus bersiap menghadapi kerugian. Pasalnya, saat ini harga telur ayam dari para peternak anjlok. Bahkan mencapai Rp 16 ribu hingga 17 ribu per kilogram.

Hal tersebut membuat sejumlah peternak terpaksa melakukan afkir dini, atau memisahkan ayam peliharaannya untuk kemudian dijual atau dipotong. Walaupun, harga itu sebenarnya telah mengalami peningkatan selama beberapa hari terakhir, dari harga sebelumnya yang lebih anjlok hingga menyentuh Rp 14 ribu per kilogram.

Namun, harga tersebut dinilai masih jauh di bawah harga normal telur ayam. Pada harga normal biasanya harga telur berkisar di angka Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Hal itu diungkapkan oleh Wiwit, salah satu peternak ayam di Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso.

Menurut dia, harga telur saat ini masih belum seimbang dengan harga pakan yang dinilai semakin melambung tinggi. “Harga ini belum stabil dengan harga pakan. Kalau stabilnya dengan harga pakan itu, ya, Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilo,” ujarnya.

Dia menerangkan, turunnya harga telur ini berbanding terbalik dengan harga pakan yang terus naik. Harga pakan setelah dicampur Rp 4 ribu lebih per kilogram. Sementara, saat ini harga pakan naik menjadi Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogram. “Hingga tak ada hasil sama sekali. Peternak rugi, anjlok semua,” tutur wanita dengan jumlah ternak ayamnya yang mencapai 1.500 ekor ini.

Wanita yang telah bergelut dengan usaha ternak ayam selama 11 tahun ini mengaku terpaksa menurunkan kualitas pakan. Yakni mencari konsentrat ayam dengan protein paling rendah karena harganya juga lebih murah. Meski demikian, dia mengaku sengaja tidak melakukan afkir dini. Sebab, menurut dia, jika saat ini afkir, maka ke depan saat mendatangkan ayam lagi harus mengeluarkan modal lebih besar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/