alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Termasuk Penghasil Kopi Terbaik, Bondowoso Optimalkan Pembinaan Petani

Mobile_AP_Rectangle 1

“Mulai dari perawatan tanahnya, pembersihan gulma dan ranting yang tidak produktif. Selain itu, tetap petik merah dan dirawat sesuai SOP yang ada. Semata-mata menjaga kualitas. Karena kalau kualitas menurun, kita juga yang rugi,” bebernya.

Selain pangsa pasar lemah, lanjut dia, harga jual kopi juga menurun. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau mencapai harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Dikonfirmasi terkait upaya pemkab untuk menghidupkan kembali BRK, dia menegaskan menyambut baik upaya tersebut. Sebab, menurutnya, BRK itulah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Bahkan, ia menilai hal itu sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, dia juga mengaku, sebagai petani kopi, sejauh ini ia mengaku tetap menjalankan amanah untuk mendukung program BRK. “Karena amanah wajib dilaksanakan, dan kalau tidak kita laksanakan, yang rugi kita sendiri,” tegasnya.

Sebagai informasi, brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun, di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir. Hal menjadi PR Pemkab Bondowoso agar tetap terus memberikan pembinaan untuk petani kopi di Bondowoso.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

“Mulai dari perawatan tanahnya, pembersihan gulma dan ranting yang tidak produktif. Selain itu, tetap petik merah dan dirawat sesuai SOP yang ada. Semata-mata menjaga kualitas. Karena kalau kualitas menurun, kita juga yang rugi,” bebernya.

Selain pangsa pasar lemah, lanjut dia, harga jual kopi juga menurun. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau mencapai harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Dikonfirmasi terkait upaya pemkab untuk menghidupkan kembali BRK, dia menegaskan menyambut baik upaya tersebut. Sebab, menurutnya, BRK itulah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Bahkan, ia menilai hal itu sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” imbuhnya.

Selain itu, dia juga mengaku, sebagai petani kopi, sejauh ini ia mengaku tetap menjalankan amanah untuk mendukung program BRK. “Karena amanah wajib dilaksanakan, dan kalau tidak kita laksanakan, yang rugi kita sendiri,” tegasnya.

Sebagai informasi, brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun, di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir. Hal menjadi PR Pemkab Bondowoso agar tetap terus memberikan pembinaan untuk petani kopi di Bondowoso.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

“Mulai dari perawatan tanahnya, pembersihan gulma dan ranting yang tidak produktif. Selain itu, tetap petik merah dan dirawat sesuai SOP yang ada. Semata-mata menjaga kualitas. Karena kalau kualitas menurun, kita juga yang rugi,” bebernya.

Selain pangsa pasar lemah, lanjut dia, harga jual kopi juga menurun. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau mencapai harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Dikonfirmasi terkait upaya pemkab untuk menghidupkan kembali BRK, dia menegaskan menyambut baik upaya tersebut. Sebab, menurutnya, BRK itulah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Bahkan, ia menilai hal itu sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” imbuhnya.

Selain itu, dia juga mengaku, sebagai petani kopi, sejauh ini ia mengaku tetap menjalankan amanah untuk mendukung program BRK. “Karena amanah wajib dilaksanakan, dan kalau tidak kita laksanakan, yang rugi kita sendiri,” tegasnya.

Sebagai informasi, brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun, di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir. Hal menjadi PR Pemkab Bondowoso agar tetap terus memberikan pembinaan untuk petani kopi di Bondowoso.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/