alexametrics
23.3 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Tiap Tahun Ribuan Warga Terdampak

Ironis, di era digital saat ini, kesulitan air bersih masih menghantui sebagian warga Bondowoso. Masih sekitar 160 ribu warga Bondowoso yang berada di pinggiran kesulitan air bersih. Tiap kemarau, mereka tergantung dari dropping air bersih dari BPBD Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tiap masuk musim kemarau, ribuan warga Bondowoso kesulitan mendapatkan air bersih. Sumber-sumber mata air yang selama ini jadi andalan mereka mengering. Kalaupun ada, sumur air yang masih ada airnya jumlah tidak banyak.

Oleh karena itu, tiap tahun mereka mengandalkan dropping air bersih dari pemerintah yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso. Dari data BPBD Bondowoso, ribuan warga yang tersebar di 24 desa di 16 kecamatan di Kota Tape kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, ada yang harus berjalan beberapa kilo meter untuk mendapatkan air bersih.

Untuk itu, BPBD Bondowoso tiap tahun menyediakan armada mobil tangki untuk dropping air bersih ke daerah yang kesulitan air bersih. Bahkan, BPBD sudah mengatur jadwal dropping air bersih di desa-desa yang masih kesulitan air bersih. “Sedikitnya dua armada tangki masing-masing berisi 10 ribu air kita kerahkan untuk dropping air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Kukuh Triyatmoko.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai kebutuhan warga yang kesulitan air bersih. “Kita tidak hanya dropping air, tetapi juga berupaya menyediakan tandon air sebagai tempat penampungan warga,” ujarnya.

Dengan cara itu, selain mendapatkan air bersih secara langsung, warga juga bisa mendapatkan air bersih dari tandon air yang ada. Dia menjelaskan, dropping air tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Kita dropping sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Sebab, jumlah penduduk di masing-masing wilayah yang kesulitan air bersih tidak sama.

Tahun 2020 ini, kemarau di Bondowoso sudah terjadi sejak bulan April. Diperkirakan berakhir sampai Oktober 2020. Namun, kemarau saat ini sifatnya basah, sehingga di tengah musim kemarau terkadang turun hujan. Seperti hujan yang terjadi beberapa minggu lalu.

Adi Sunaryadi, Sekretaris BPBD, menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain sejatinya sudah berupaya keras untuk menanggulangi masalah tersebut. “Upaya untuk mengatasi sudah dilakukan pemerintah. Ada juga relawan membantu,” ujarnya.

Namun, karena keterbatasan dana dan sulitnya medan, rata-rata yang kekurangan air berada di daerah pegunungan. Sebab, banyak warga Bondowoso yang tinggal di lereng Pegunungan Argopuro, gunung Ijen, atau gunung Raung. “Pemerintah tidak menyerah, tetap dicarikan solusi agar tidak tergantung dropping air dari BPBD,” ujarnya.

Berharap Jadi Prioritas Pemerintah

 

Masalah kesulitan air bersih sudah bertahun-tahun dialami ribuan warga Bondowoso. Namun, sampai saat ini masih belum ada penyelesaiannya. Untuk itu, mereka sangat berharap masalah tersebut jadi prioritas pemerintah daerah. Agar mereka tidak tergantung dari dropping air bersih BPBD Bondowoso.

“Kami ingin masalah ini segera berakhir. Agar kami tidak lagi kesulitan air seperti ini. Masalah ini sudah puluhan tahun, selalu kami alami,” ujar Anto, salah satu warga Ceper kepada wartawan. Dia menjelaskan, sejatinya ada sumber air di Ceper, tetapi sangat terbatas. Sehingga warga gantian ambil air ke sumber tersebut. Itu pun sangat minim.

Menurut dia, ada sejumlah warga terpaksa minum air hujan yang telah ditampung beberapa bulan lalu di tandon-tandon yang disediakan. “Kalau untuk diminum gak dimasak, langsung dikonsumsi,” ujarnya.

Santoso, Kepala Desa Botolinggo, mengatakan bahwa tidak hanya warga Dusun Ceper yang kesulitan air bersih. Tetapi juga warga Kedawung Timur, Kedawung Tengah, dan Kedawung Barat. Mereka sering antre ke sumber air untuk mendapatkan air bersih. “Warga yang antre menunggu kadang sampai tidur di sumber air,” ujarnya.

Selama ini, sambungnya, ada warga yang pakai tandon dan bikin kolam untuk menampung air saat musim hujan. “Tetapi, saat musim kemarau air habis sehingga tetap bergantung pada dropping air,” imbuhnya.

Dia berharap, ada program pemerintah untuk mengatasi masalah kesulitan air warganya. “Kami harap ada perhatian pemerintah,” ujarnya. Dengan bantuan pemerintah, akan ada solusi mengatasi masalah tersebut. Sebab, diperkirakan membutuhkan dana yang besar untuk mengatasinya.

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menggagas program penyulingan air di Dusun Cemper, Desa Botolinggo. Hal tersebut sebagai jalan keluar agar di daerah tersebut tidak dilanda kekeringan hebat ketika musim kemarau tiba. “Di Botolinggo perlu ke depan akan dibangun program penyulingan air sungai menjadi air bersih,” ujar Wabup Irwan Bachtiar.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tiap masuk musim kemarau, ribuan warga Bondowoso kesulitan mendapatkan air bersih. Sumber-sumber mata air yang selama ini jadi andalan mereka mengering. Kalaupun ada, sumur air yang masih ada airnya jumlah tidak banyak.

Oleh karena itu, tiap tahun mereka mengandalkan dropping air bersih dari pemerintah yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso. Dari data BPBD Bondowoso, ribuan warga yang tersebar di 24 desa di 16 kecamatan di Kota Tape kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, ada yang harus berjalan beberapa kilo meter untuk mendapatkan air bersih.

Untuk itu, BPBD Bondowoso tiap tahun menyediakan armada mobil tangki untuk dropping air bersih ke daerah yang kesulitan air bersih. Bahkan, BPBD sudah mengatur jadwal dropping air bersih di desa-desa yang masih kesulitan air bersih. “Sedikitnya dua armada tangki masing-masing berisi 10 ribu air kita kerahkan untuk dropping air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Kukuh Triyatmoko.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai kebutuhan warga yang kesulitan air bersih. “Kita tidak hanya dropping air, tetapi juga berupaya menyediakan tandon air sebagai tempat penampungan warga,” ujarnya.

Dengan cara itu, selain mendapatkan air bersih secara langsung, warga juga bisa mendapatkan air bersih dari tandon air yang ada. Dia menjelaskan, dropping air tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Kita dropping sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Sebab, jumlah penduduk di masing-masing wilayah yang kesulitan air bersih tidak sama.

Tahun 2020 ini, kemarau di Bondowoso sudah terjadi sejak bulan April. Diperkirakan berakhir sampai Oktober 2020. Namun, kemarau saat ini sifatnya basah, sehingga di tengah musim kemarau terkadang turun hujan. Seperti hujan yang terjadi beberapa minggu lalu.

Adi Sunaryadi, Sekretaris BPBD, menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain sejatinya sudah berupaya keras untuk menanggulangi masalah tersebut. “Upaya untuk mengatasi sudah dilakukan pemerintah. Ada juga relawan membantu,” ujarnya.

Namun, karena keterbatasan dana dan sulitnya medan, rata-rata yang kekurangan air berada di daerah pegunungan. Sebab, banyak warga Bondowoso yang tinggal di lereng Pegunungan Argopuro, gunung Ijen, atau gunung Raung. “Pemerintah tidak menyerah, tetap dicarikan solusi agar tidak tergantung dropping air dari BPBD,” ujarnya.

Berharap Jadi Prioritas Pemerintah

 

Masalah kesulitan air bersih sudah bertahun-tahun dialami ribuan warga Bondowoso. Namun, sampai saat ini masih belum ada penyelesaiannya. Untuk itu, mereka sangat berharap masalah tersebut jadi prioritas pemerintah daerah. Agar mereka tidak tergantung dari dropping air bersih BPBD Bondowoso.

“Kami ingin masalah ini segera berakhir. Agar kami tidak lagi kesulitan air seperti ini. Masalah ini sudah puluhan tahun, selalu kami alami,” ujar Anto, salah satu warga Ceper kepada wartawan. Dia menjelaskan, sejatinya ada sumber air di Ceper, tetapi sangat terbatas. Sehingga warga gantian ambil air ke sumber tersebut. Itu pun sangat minim.

Menurut dia, ada sejumlah warga terpaksa minum air hujan yang telah ditampung beberapa bulan lalu di tandon-tandon yang disediakan. “Kalau untuk diminum gak dimasak, langsung dikonsumsi,” ujarnya.

Santoso, Kepala Desa Botolinggo, mengatakan bahwa tidak hanya warga Dusun Ceper yang kesulitan air bersih. Tetapi juga warga Kedawung Timur, Kedawung Tengah, dan Kedawung Barat. Mereka sering antre ke sumber air untuk mendapatkan air bersih. “Warga yang antre menunggu kadang sampai tidur di sumber air,” ujarnya.

Selama ini, sambungnya, ada warga yang pakai tandon dan bikin kolam untuk menampung air saat musim hujan. “Tetapi, saat musim kemarau air habis sehingga tetap bergantung pada dropping air,” imbuhnya.

Dia berharap, ada program pemerintah untuk mengatasi masalah kesulitan air warganya. “Kami harap ada perhatian pemerintah,” ujarnya. Dengan bantuan pemerintah, akan ada solusi mengatasi masalah tersebut. Sebab, diperkirakan membutuhkan dana yang besar untuk mengatasinya.

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menggagas program penyulingan air di Dusun Cemper, Desa Botolinggo. Hal tersebut sebagai jalan keluar agar di daerah tersebut tidak dilanda kekeringan hebat ketika musim kemarau tiba. “Di Botolinggo perlu ke depan akan dibangun program penyulingan air sungai menjadi air bersih,” ujar Wabup Irwan Bachtiar.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tiap masuk musim kemarau, ribuan warga Bondowoso kesulitan mendapatkan air bersih. Sumber-sumber mata air yang selama ini jadi andalan mereka mengering. Kalaupun ada, sumur air yang masih ada airnya jumlah tidak banyak.

Oleh karena itu, tiap tahun mereka mengandalkan dropping air bersih dari pemerintah yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso. Dari data BPBD Bondowoso, ribuan warga yang tersebar di 24 desa di 16 kecamatan di Kota Tape kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, ada yang harus berjalan beberapa kilo meter untuk mendapatkan air bersih.

Untuk itu, BPBD Bondowoso tiap tahun menyediakan armada mobil tangki untuk dropping air bersih ke daerah yang kesulitan air bersih. Bahkan, BPBD sudah mengatur jadwal dropping air bersih di desa-desa yang masih kesulitan air bersih. “Sedikitnya dua armada tangki masing-masing berisi 10 ribu air kita kerahkan untuk dropping air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Kukuh Triyatmoko.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai kebutuhan warga yang kesulitan air bersih. “Kita tidak hanya dropping air, tetapi juga berupaya menyediakan tandon air sebagai tempat penampungan warga,” ujarnya.

Dengan cara itu, selain mendapatkan air bersih secara langsung, warga juga bisa mendapatkan air bersih dari tandon air yang ada. Dia menjelaskan, dropping air tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Kita dropping sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Sebab, jumlah penduduk di masing-masing wilayah yang kesulitan air bersih tidak sama.

Tahun 2020 ini, kemarau di Bondowoso sudah terjadi sejak bulan April. Diperkirakan berakhir sampai Oktober 2020. Namun, kemarau saat ini sifatnya basah, sehingga di tengah musim kemarau terkadang turun hujan. Seperti hujan yang terjadi beberapa minggu lalu.

Adi Sunaryadi, Sekretaris BPBD, menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain sejatinya sudah berupaya keras untuk menanggulangi masalah tersebut. “Upaya untuk mengatasi sudah dilakukan pemerintah. Ada juga relawan membantu,” ujarnya.

Namun, karena keterbatasan dana dan sulitnya medan, rata-rata yang kekurangan air berada di daerah pegunungan. Sebab, banyak warga Bondowoso yang tinggal di lereng Pegunungan Argopuro, gunung Ijen, atau gunung Raung. “Pemerintah tidak menyerah, tetap dicarikan solusi agar tidak tergantung dropping air dari BPBD,” ujarnya.

Berharap Jadi Prioritas Pemerintah

 

Masalah kesulitan air bersih sudah bertahun-tahun dialami ribuan warga Bondowoso. Namun, sampai saat ini masih belum ada penyelesaiannya. Untuk itu, mereka sangat berharap masalah tersebut jadi prioritas pemerintah daerah. Agar mereka tidak tergantung dari dropping air bersih BPBD Bondowoso.

“Kami ingin masalah ini segera berakhir. Agar kami tidak lagi kesulitan air seperti ini. Masalah ini sudah puluhan tahun, selalu kami alami,” ujar Anto, salah satu warga Ceper kepada wartawan. Dia menjelaskan, sejatinya ada sumber air di Ceper, tetapi sangat terbatas. Sehingga warga gantian ambil air ke sumber tersebut. Itu pun sangat minim.

Menurut dia, ada sejumlah warga terpaksa minum air hujan yang telah ditampung beberapa bulan lalu di tandon-tandon yang disediakan. “Kalau untuk diminum gak dimasak, langsung dikonsumsi,” ujarnya.

Santoso, Kepala Desa Botolinggo, mengatakan bahwa tidak hanya warga Dusun Ceper yang kesulitan air bersih. Tetapi juga warga Kedawung Timur, Kedawung Tengah, dan Kedawung Barat. Mereka sering antre ke sumber air untuk mendapatkan air bersih. “Warga yang antre menunggu kadang sampai tidur di sumber air,” ujarnya.

Selama ini, sambungnya, ada warga yang pakai tandon dan bikin kolam untuk menampung air saat musim hujan. “Tetapi, saat musim kemarau air habis sehingga tetap bergantung pada dropping air,” imbuhnya.

Dia berharap, ada program pemerintah untuk mengatasi masalah kesulitan air warganya. “Kami harap ada perhatian pemerintah,” ujarnya. Dengan bantuan pemerintah, akan ada solusi mengatasi masalah tersebut. Sebab, diperkirakan membutuhkan dana yang besar untuk mengatasinya.

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menggagas program penyulingan air di Dusun Cemper, Desa Botolinggo. Hal tersebut sebagai jalan keluar agar di daerah tersebut tidak dilanda kekeringan hebat ketika musim kemarau tiba. “Di Botolinggo perlu ke depan akan dibangun program penyulingan air sungai menjadi air bersih,” ujar Wabup Irwan Bachtiar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/