Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesaksian Tour Leader Bus Maut Rombongan RS Bina Sehat Jember di Probolinggo: Rem Blong, Jeritan Doa, hingga Benturan Keras!

Sidkin • Selasa, 16 September 2025 | 13:30 WIB
Grafis kecelakaan bus rombongan RS Bina Sehat Jember di Jalur Bromo, Probolinggo.
Grafis kecelakaan bus rombongan RS Bina Sehat Jember di Jalur Bromo, Probolinggo.

Radar Jember - Jerit panik dan doa terdengar nyaring di dalam bus pariwisata itu begitu.

Di jalanan menurun Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Probolinggo, laju bus semakin tak terkendali, begitu rem tak berfungsi.

Klakson meraung panjang.

Para penumpang berdoa dan saling berpegangan.

Hingga benturan keras menghentikan segalanya.

Brak! Beberapa orang terlempar dari dalam bus ke jalan.

Bodi depan kanan bus menabrak pembatas jalan.

Roda kanan masuk selokan dan meluncur ke bawah.

Laju bus baru berhenti ketika menabrak jalan cor dan pagar rumah warga.

Kaca bus bagian kanan dan depan pecah.

Penumpang terlempar tak beraturan hingga ada yang keluar bus.

Kursi-kursi copot. Teriakan dan tangisan bercampur jadi satu.

Detik-detik kejadian itu terekam jelas di benak Hoiril Hilmansyah, tour leader wisata rombongan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember tersebut.

Dia merupakan salah satu korban selamat dari tragedi kecelakaan bus di Jalur Wisata Bromo, Probolinggo, Minggu (14/9).

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Hilman menceritakan, seusai dari Bromo, rombongan rekreasi kembali ke penginapan.

Lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Sedianya mereka akan makan siang di WBK Probolinggo.

Namun, sekitar dua kilometer keluar dari penginapan, tiba-tiba terdengar bunyi aneh.

Jedak,” kata dia menirukan suara itu.

Seharusnya, kata dia, tidak ada bunyi seperti itu.

Lalu, saat sopir menginjak kopling, transmisinya juga tidak masuk.

Awalnya, bus masih melaju normal.

Tapi begitu menuruni jalan curam di kawasan jatian, kecepatan bertambah tak terkendali.

Melihat itu, Hilman yang berada di depan langsung menarik temannya ke belakang.

Dia memperkirakan dari 40 kilometer per jam melonjak hingga hampir 100 kilometer per jam.

Bahri, sang sopir, lanjutnya, berusaha menginjak rem maupun menarik handbrake, namun semua tidak berfungsi.

“Pak Bahri tidak panik di awal, tapi begitu bus makin kencang, beliau panik. Penumpang pun ikut panik dan berteriak ‘Ya Allah, Ya Allah’. Ada juga yang salawat dengan keras,” kenang Hilman dengan suara berat.

Di antara kepanikan itu, sopir berusaha menghindari motor dan mobil yang melaju searah di depannya.

Klakson dibunyikan terus-menerus.

Namun di tikungan, sopir tak mampu mengendalikannya.

Bus menabrak pembatas jalan, plengsengan, hingga jalan cor dan menghantam pagar rumah warga.

Bus juga menabrak sepeda motor milik kurir setempat tepat di depan pagar rumah tersebut.

Benturan keras membuat bagian depan bus ringsek, kursi copot, penumpang terlempar, beberapa bahkan terjepit di antara kursi.

Hilman yang berada di tengah terlempar ke depan dan terjatuh.

“Kejadiannya sangat cepat. Saya terlempar ke depan menimpa teman. Pecahan kaca menancap di tangan dan serpihan kaca mengenai leher. Kaki saya terjepit kursi,” tuturnya.

Dia melihat ada penumpang yang sudah tak sadarkan diri.

Sejumlah penumpang terlempar dari kursi hingga keluar bus.

Hilman yang terjepit, mengeluarkan kakinya lalu turun.

“Saya sempat bantu evakuasi penumpang dari dalam bus dan ikut juga ke puskesmas,” imbuhnya.

Hilman mengatakan, sebelum berangkat, bus terlihat baik-baik saja.

Akan tetapi, bus sempat tak kuat menanjak pada malam sebelum kejadian.

Meski demikian, hal itu tak menjadi masalah.

Bus tetap bisa naik hingga penginapan.

Memang, lanjut Hilman, mereka hendak berwisata di kawasan Bromo.

Ada sejumlah tujuan, yakni melihat sunrise Bromo, Pasir Berbisik, Gunung Batok, dan Lembah Watangan. 

Rombongan yang sebelumnya dipenuhi canda tawa setelah menikmati indahnya Bromo, kini hanya jadi luka.

Mereka tak pernah membayangkan perjalanan pulang yang seharusnya singgah untuk makan siang bersama, justru berakhir dalam duka.

Musibah di Lumbang itu menjadi luka mendalam.

Bukan hanya bagi keluarga besar RS Bina Sehat Jember, tetapi juga bagi masyarakat yang kehilangan anak, orang tua, dan sahabat terbaik mereka.

Perjalanan wisata yang semula diniatkan untuk mempererat kebersamaan, justru meninggalkan cerita pilu yang akan selalu dikenang. (kin/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #RS Bina Sehat Jember #jalur wisata bromo #Laka Bus #RSBS