Pernah menggunakan sabun berbahan organik? Jika belum, mungkin sabun olahan ini patut dicoba. Berbahan dasar limbah sayuran dan buah-buahan, sabun ini sangat alami, karena tanpa bahan kimia. Tak hanya sebagai sabun, bahkan juga untuk terapi kesehatan.
SABUN berbahan dasar kimia mungkin sudah banyak ditemukan di hampir setiap rumah. Meski harganya masih terjangkau, namun ada upaya-upaya atau inovasi orang dalam membuat sabun yang lebih ekonomis dan mudah digunakan. Seperti sabun organik berbahan dasar kulit buah-buahan dan sayur-sayuran yang dibuat oleh para siswa ini.
Saat itu, para siswa SDN 01 Sukorambi bekerja secara kelompok menuangkan hasil bahan organik limbah sayuran dan buah-buahan yang telah lama difermentasi, ke dalam botol-botol dan cetakan kecil untuk sabun. Cairan berwarna pekat hitam kehijauan itu merupakan hasil fermentasi sekitar empat bulan lalu.
Para siswa dipandu guru pendamping memfermentasikan limbah sayur dan buah itu dengan campuran air hujan. Proses fermentasi itu juga untuk menciptakan alkohol alami dan menciptakan warna alami dari sabun. Setelah proses fermentasi, cairan menghasilkan air dan ampas yang bisa dimanfaatkan untuk terapi kesehatan.
"Yang digunakan untuk sabun itu pada cairannya, yang dituangkan ke cetakan. Kalau ampasnya itu banyak diminta lansia, untuk terapi jantung, bahkan luka bakar ditetesi air fermentasi ini bisa sembuh," kata Valleria Grossi, pegiat lingkungan yang memandu praktik pembuatan sabun saat itu, Rabu (13/12).
Dalam proses pencetakan sabun itu, Grossi menambahkan soda api untuk memadatkan dari sifat cair menjadi padat, dan ditambah minyak kelapa sebagai campuran, agar pemadatannya sempurna dengan persentase tertentu. "Setelah dicetak ke cetakan kecil ini, kita tinggal diamkan, sekitar 1-2 bulan lagi. Kemudian, sabun sudah bisa dipakai. Jadi, hasilnya nanti mirip sabun yang biasa dipakai di hotel-hotel itu. Itu kan juga sabun eco-enzim seperti ini," kata Grossi.
Perempuan yang juga tergabung dalam Himpunan Pegiat Adiwiyata Jember itu mengisahkan insiatif dirinya melakukan inovasi pembuatan sabun. Tepatnya saat badai pandemi 2020 lalu, yang saat itu membatasi aktivitas masyarakat ke luar rumah. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga banyak orang yang kesulitan, termasuk untuk kebutuhan mandi.
Dari situ, Grossi terpikir bagaimana sekiranya tetap produktif di rumah dan bugar tanpa kepikiran membeli sabun mandi di luar rumah. Di saat bersamaan, dia sempat bergabung dalam komunitas di Ledokombo yang juga fokus membuat produk industri rumahan.
"Awalnya saya membuat sabun pandan. Pernah diikutkan lomba dan juara. Lalu bikin karbol (kapur barus). Jadi, sebelum sabun ini sudah ada beberapa produk yang saya buat, tapi orang banyak tertarik ke sabun. Jadi, saya putuskan fokus bikin sabun ini saja. Wong kita bangun tidur saja sudah cari sabun," katanya.
Tak hanya bisa digunakan untuk mandi maupun cuci muka, sabun itu dianggap Grossi juga sebagai bentuk kampanye lingkungan atas timbulan sampah yang salah satunya disumbang oleh limbah sayuran dan buah-buahan.
Sementara untuk pangsa pasarnya, Grossi tak terlalu melihat pasar. Meski telah memiliki izin edar atau NIB, Grossi tak terlalu memikirkan bagaimana produknya bisa laku keras di pasaran. "Untuk jualnya, masih sekitar gereja-gereja, atau saat sosialisasi seperti ini, di sekolah-sekolah, mengedukasi siswa. Kalau untuk produksi sampai ke luar daerah masih belum. Baru sekitar Jember saja," kata perempuan asal Kaliurang itu.
Grossi menambahkan, kandungan sabun organik berbahan dasar limbah sayur dan buah itu sudah banyak diteliti mahasiswa di berbagai perguruan tinggi maupun oleh ahli kesehatan. Hasilnya, kandungan dan manfaatnya besar. Selain digunakan sebagai sabun, cairan hasil fermentasi juga dapat digunakan sebagai terapi kesehatan, menetralisasi bau tak sedap, mengusir serangga di rumah, obat tetes atau oles untuk luka bakar, dan beberapa khasiat lainnya.
Kepala SDN 01 Sukorambi Sudarwati mengatakan, di lingkungan sekitar sekolah banyak wali siswa yang menanam sayuran. Sehingga produksi limbah sayur-sayuran itu memang cukup besar.
Karena itu, ia sengaja mengajak siswa untuk mengolah limbah sayuran di sekitar sekolahnya itu menjadi olahan sabun. "Minimal anak-anak bisa lebih peduli terhadap lingkungan, dengan membuat produk inovasi seperti sabun ini, sehingga mereka lebih kreatif," pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital