JEMBER, RADARJEMBER.ID- Gumitir menjadi jalur satu-satunya yang langsung menghubungkan Jember dengan Banyuwangi.
Medan sempit, berkelok, dan menanjak membuat jalur tersebut rawan kecelakaan. Tak jarang, kendaraan bermuatan besar oleng dan masuk jurang, atau kendaraan kecil mengalami kecelakaan.
Kecelakaan atau jatuhnya kendaraan ke jurang tentunya akan mengganggu lalu lintas di sepanjang Jalur Gumitir. Terlebih saat proses evakuasi dilakukan.
Kanit Laka Lantas Polres Jember Iptu Edy Purwanto menjelaskan, demi menghindari kemacetan saat evakuasi berlangsung, kepolisian melakukan sosialisasi terlebih dahulu.
Imbauan agar pengguna jalan untuk sementara waktu tidak melintas di jalur nasional tersebut saat proses evakuasi sedang dilakukan.
Baik dari arah Jember maupun Banyuwangi.
Dua atau tiga hari sebelumnya, pengumuman dilakukan di media sosial serta meneruskan informasi tersebut melalui Polresta Banyuwangi, Polres Situbondo, dan Polres Bondowoso.
“Untuk tidak melintasi jalur (Gumitir, Red) pada saat proses evakuasi, karena biasanya dilakukan penutupan jalan,” terang Edy.
Menurutnya, lamanya evakuasi bergantung pada kedalaman kendaraan masuk jurang.
Disebutkan, bisa enam hingga delapan jam. Dalam rentan waktu itu jalan ditutup sementara.
Proses evakuasi pada kendaraan yang masih bisa dilakukan menggunakan alat berat yang dimiliki satlantas, tambahnya, bisa langsung dilaksanakan.
Namun, jika peralatan tidak memungkinkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemilik kendaraan untuk menyewa crane atau derek manual.
“Lihat jatuhnya kendaraan seperti apa,” katanya.
Edy menyebut, setidaknya ada tiga kejadian kendaraan masuk jurang pada 2023 dan satu kali pada awal tahun ini.
Medan ekstrem di Jalur Gumitir membuat pengendara harus ekstra hati-hati.
Memasang rambu-rambu peringatan yang mudah terbaca adalah bagian langkah antisipasi yang dilakukan satlantas.
Dia menyampaikan, kerja sama dilakukan dengan berbagai OPD terkait. Seperti Dinas Perhubungan, Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air, satpol PP, serta muspika wilayah setempat.
Polisi juga kerap melakukan patroli ke tempat-tempat rawan kecelakaan atau pelanggaran lalu lintas.
“Yang sering terjadi, pengguna jalan melanggar, sehingga terjadi kecelakaan,” ungkapnya.
Koordinasi juga dilakukan dengan warga yang berdomisili di wilayah Gumitir.
Dijelaskan, warga setempat membentuk sebuah wadah relawan penanggulangan bencana.
Selain membantu saat terjadi pohon tumbang dan longsor, relawan tersebut juga turut membantu kepolisian dalam melakukan evakuasi. “Dalam proses evakuasi kami juga melibatkan relawan,” pungkasnya. (sil/c2/nur)
Editor : Alvioniza