JEMBER, RADARJEMBER.ID- Ketika akan melakukan perjalanan dari Jember ke Banyuwangi melalui Jalur Gumitir, tanjakan curam dan tikungan tajam tidak bisa dihindari.
Hal tersebut membuat pengendara harus lebih berhati-hati dalam berkendara.
Selain kondisi medan yang ekstrem, rambu lalu lintas masih sangat minim.
Bahkan banyak yang rusak. Ditambah kaca cembung yang biasa diletakkan di tikungan nihil.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, awalnya setiap tikungan terdapat kaca cembung, agar pengendara bisa melihat kendaraan dari arah berlawanan.
Namun, karena ulah oknum tidak bertanggung jawab, benda tersebut dirusak bahkan dicuri ketika keadaan sepi.
Begitu juga dengan rambu lalu lintas yang dipasang oleh pihak terkait. Banyak yang dirusak, dicuri, bahkan dibuang oleh oknum tak bertanggung jawab.
Akibatnya, rambu yang tersisa kondisinya banyak yang usang, sehingga sulit bahkan tidak dapat dibaca dengan baik oleh pengendara.
Tantangan bagi pengendara yang akan melintas di Jalur Gumitir dimulai dari tikungan pertama. Tepatnya di samping makam Habib Ali.
Lalu lalang kendaraan besar pengangkut barang juga pasti dijumpai di tempat tersebut.
Tantangan kedua adalah tikungan di KM 34, bersebelahan dengan Mrawan Cafe and Resto. Banyak kendaraan yang mengalami kecelakaan di tempat tersebut.
“Kalau dulu di sana (tikungan Mrawan Cafe and Resto, Red) banyak truk yang guling. Kalau sekarang sudah enggak,” kata Muhammad Nurhadi, relawan Gumitir.
Tikungan yang harus diwaspadai lainnya berada di KM 36 atau lebih dikenal dengan sebutan tikungan Mbah Singo.
Dalam beberapa waktu terakhir, banyak kendaraan yang mengalami kecelakaan di tempat itu.
Kecelakaan yang terjadi biasanya tunggal. Disebabkan rem blong dan kelalaian pengendara. Selain itu, kondisi jalannya juga sempit dan miring.
Tempat lain yang juga harus diwaspadai adalah di KM 37 dan KM 38. Adanya pengendara yang mendahului di tikungan dan marka panjang membuat pengendara lain harus lebih waspada.
Sebab, tindakan itu bisa menjadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas. “Sopir-sopir itu kadang tetap nyalip meski di tikungan,” ucap pria yang akrab disapa Cak Mat itu.
Ketika melintas di jalur itu, pengendara juga akan menjumpai masyarakat di pinggir jalan yang melambai-lambaikan tangannya. Mereka biasanya disebut dengan awe-awe.
Keberadaannya cukup membantu, apalagi kaca cembung di tikungan tajam hampir tidak ada. Namun, jangan heran jika melihat awe-awe yang hanya meminta-minta. (jum/c2/ham)
Editor : Alvioniza