BRASIL, Radar Jember - Alex “Poatan” Pereira bukan sekadar petarung; ia simbol dari transisi sempurna antara dua dunia keras — kickboxing dan MMA.
Lahir di São Paulo, Brasil, Pereira dikenal dengan postur menjulang 193 sentimeter dan kekuatan pukulan yang luar biasa.
Julukannya, Poatan, yang berarti “tangan batu” dalam bahasa suku Tupi-Guarani, bukanlah isapan jempol belaka.
Catatan profesional Pereira di MMA adalah 13 kemenangan dan 3 kekalahan, sebagian besar diraih melalui KO.
Sebelum masuk UFC, ia mendominasi ring kickboxing dengan dua sabuk juara dunia di GLORY, memperlihatkan teknik striking tingkat tinggi yang jarang tertandingi.
Ketenarannya di UFC mulai melejit setelah mengalahkan Israel Adesanya pada 2022.
Pertarungan itu menjadi titik balik, karena dalam waktu relatif singkat Pereira berhasil menembus jajaran elite, bahkan menjadi juara di dua kelas berbeda — middleweight dan light-heavyweight.
Namun perjalanan Poatan tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat dikritik karena dianggap terlalu cepat mendapat perebutan gelar, tapi bukti di atas oktagon menutup semua keraguan itu.
Kemenangan-kemenangannya terjadi bukan karena keberuntungan, melainkan ketajaman strategi dan eksekusi teknik luar biasa.
Pada UFC 320 Oktober lalu, Pereira mengukir sejarah lain dengan menghancurkan Magomed Ankalaev hanya dalam waktu 2 menit.
Satu pukulan kanan kerasnya menjadi headline di berbagai media dunia, mempertegas bahwa Poatan berada di level tersendiri dalam urusan striking.
Namun kemenangan itu meninggalkan luka fisik. X-ray setelah laga menunjukkan adanya retakan di tulang kaki kiri akibat tendangan keras yang ia lontarkan.
Cedera itu memaksanya absen beberapa pekan dari latihan intensif, sebelum kembali menjalani program pemulihan yang ketat bersama timnya di Connecticut.
Meskipun begitu, semangat tandingnya tak pernah padam.
Pereira dikenal sebagai petarung disiplin dengan rutinitas yang sederhana namun keras — latihan pagi di gym pribadinya, sesi cardio di luar ruangan, dan meditasi spiritual khas budaya Brasil yang ia anut.
Dalam berbagai wawancara, ia mengaku tak terlalu memikirkan popularitas atau status juara.
“Saya hanya ingin bertarung dan membuktikan diri setiap kali masuk oktagon,” ujarnya dalam sesi media terakhir di Las Vegas.
Kalimat itu menggambarkan sisi rendah hati dari seorang pemukul paling berbahaya di UFC saat ini.
Kini, menjelang UFC 321, Alex Pereira di prediksi akan menghadapi ujian baru dari petarung Rusia yang tak terkalahkan, Azamat Murzakanov.
Laga ini bukan sekadar pertarungan perebutan sabuk, melainkan ujian terhadap ketahanan fisik dan psikologis Poatan setelah cedera.
Apakah tangan batu dari Brasil masih akan sanggup menghentikan badai serangan Murzakanov?
Jawabannya akan ditentukan oleh seberapa kuat ia mempertahankan keseimbangan antara pengalaman, teknik, dan insting mematikan yang selama ini menjadi ciri khasnya. (faq)
Editor : M. Ainul Budi