NEW YORK, Radar Jember - Khamzat Chimaev kembali memanaskan atmosfer dunia mixed martial arts (MMA).
Petarung kelas menengah UFC itu secara terbuka melontarkan provokasi kepada pendukung Alex Pereira, menyusul wacana duel besar yang berpotensi terjadi di ajang bertajuk UFC White House.
Provokasi tersebut langsung menyedot perhatian publik dan memicu perdebatan luas di kalangan penggemar.
Melalui media sosial, Chimaev menyindir Pereira dan basis pendukungnya dengan nada menantang.
Ia menyebut bahwa White House akan menjadi panggung pembuktian sesungguhnya, bukan hanya soal gelar juara, tetapi juga tentang keberanian menghadapi lawan paling berbahaya di UFC saat ini.
Chimaev menilai Pereira terlalu berhati-hati dalam memilih lawan.
Menurutnya, seorang juara sejati tidak boleh menghindar dari tantangan besar, terlebih jika pertarungan tersebut dinilai mampu menciptakan sejarah baru dalam olahraga tarung bebas.
Pernyataan itu sontak memantik reaksi keras dari penggemar Pereira.
Banyak yang menilai Chimaev hanya mencari sensasi, sementara sebagian lainnya menganggap provokasi tersebut sah sebagai bagian dari perang psikologis jelang pertarungan elite.
Karakter Chimaev yang vokal dan agresif memang kerap menjadi magnet kontroversi.
Ia dikenal sebagai petarung yang tak ragu melontarkan pernyataan tajam demi membangun tensi, sekaligus menjaga namanya tetap berada di pusat pemberitaan.
Di sisi lain, Alex Pereira memilih bersikap lebih tenang.
Hingga kini, petarung asal Brasil tersebut belum memberikan tanggapan langsung atas tantangan Chimaev, meski rumor mengenai rencana besar UFC White House terus berkembang.
Sejumlah analis MMA menilai provokasi ini bukan tanpa tujuan.
Selain membangun hype, Chimaev dinilai ingin menekan UFC agar memasukkan duel tersebut ke dalam kartu utama ajang White House.
UFC sendiri belum mengumumkan secara resmi daftar pertarungan.
Namun tingginya respons publik menunjukkan bahwa duel Chimaev kontra Pereira memiliki nilai jual yang sangat besar.
Jika pertarungan itu benar-benar terwujud, UFC White House bukan hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga simbol rivalitas, ego, dan ambisi dua petarung paling dominan di era modern UFC.(faq)
Editor : M. Ainul Budi