LAS VEGAS, Radar Jember - Justin Gaethje dikenal sebagai salah satu petarung paling eksplosif dalam sejarah UFC.
Gaya bertarungnya yang agresif dan penuh risiko menjadikannya favorit penggemar sejak awal kemunculannya di pentas MMA dunia.
Karier profesional Gaethje dimulai di kancah regional sebelum namanya melesat saat bergabung dengan World Series of Fighting.
Di organisasi tersebut, ia tampil dominan dan meraih gelar juara kelas ringan.
Masuk ke UFC, Gaethje langsung mencuri perhatian lewat laga-laga brutal yang nyaris selalu berakhir dengan bonus.
Setiap penampilannya identik dengan pertukaran serangan sengit dan determinasi tinggi.
Puncak kariernya datang ketika ia meraih sabuk interim kelas ringan UFC setelah mengalahkan Tony Ferguson.
Kemenangan itu memperkuat statusnya sebagai salah satu penantang terkuat di divisi tersebut.
Meski demikian, perjalanan Gaethje tidak selalu mulus.
Ia harus menelan kekalahan dari sejumlah juara dan mantan juara, namun tetap bangkit dan kembali ke papan atas.
Gaethje dikenal tidak menghindari tantangan.
Ia kerap menerima laga berisiko tinggi dan menghadapi lawan-lawan dengan gaya bertarung beragam.
Di luar oktagon, Gaethje tampil lugas dan jujur dalam menyampaikan pandangannya.
Ia kerap menyebut setiap pertarungan sebagai momen berharga dalam kariernya.
Seiring bertambahnya usia, Gaethje mulai mengubah pendekatan bertarungnya menjadi lebih terukur, tanpa meninggalkan ciri khas agresif yang melekat padanya.
Pengalaman panjang di laga besar membuat Gaethje tetap diperhitungkan, meski menghadapi lawan yang lebih muda dan lapar prestasi.
Kini, ia berdiri di persimpangan karier, menjadikan setiap laga sebagai peluang terakhir untuk kembali menggapai sabuk juara.
Editor : M. Ainul Budi