NEW YORK, Radar Jember - Seusai kemenangan bersejarah di UFC 322, Islam Makhachev tak hanya merayakan gelar baru , dia menyampaikan ambisi besar yang membuat publik terpukau.
Dalam acara pascapertarungan, ia menantang untuk menggelar pertarungan berikutnya di White House.
“Mimpi saya besar,” kata Makhachev setelah diumumkan sebagai juara welter.
Ia menyebut bahwa ini adalah momen yang telah bekerja keras dia persiapkan seumur hidup.
Pernyataan “Open the White House, I’m coming” yang disampaikan Makhachev bukan sekadar retorika belaka, banyak pihak menilainya sebagai sinyal bahwa dia ingin menciptakan event spektakuler yang melampaui standar UFC biasa.
Beberapa analis menafsirkan bahwa ambisi White House itu bisa menjadi strategi promosi besar, sekaligus menegaskan status Makhachev sebagai ikon global MMA, bukan hanya juara dua sabuk.
Namun wacana pertarungan di Gedung Putih juga memunculkan tantangan besar: urusan izin resmi, keamanan, dan logistik tentu bukan hal mudah.
Banyak yang mempertanyakan apakah proposal itu realistis dalam waktu dekat.
Meski demikian, promotor UFC kemungkinan akan membuka pintu negosiasi jika Makhachev tetap mengusung ide tersebut.
Nama besar dan daya tarik media bisa menjadikannya proyek besar dengan potensi komersial tinggi.
Bagi Makhachev, ini bukan sekadar soal gelar – ini soal warisan.
Setelah sukses menjadi juara dua divisi, dia tampak ingin menancapkan jejak tidak hanya di oktagon, tapi juga di panggung sejarah.
Mimpi White House itu juga bisa menjadi motivasi tambahan bagi lawan-lawan berikutnya.
Bayangkan, siapa pun yang menantang bisa jadi bagian dari momen bersejarah di dunia MMA.
Beberapa penggemar pun menyambut ambisi Makhachev dengan antusias.
Mereka melihatnya sebagai langkah visioner, memperlihatkan bahwa Makhachev tidak puas sekadar menyabet sabuk, tetapi mengukir legenda.
Jika ambisi ini menjadi kenyataan, maka pertarungan Makhachev berikutnya bisa menjadi salah satu acara paling ikonik dalam sejarah UFC, dan mungkin menjadi titik balik dalam cara promosi event MMA di masa depan. (faq)
Editor : M. Ainul Budi