AUSTRALIA, Radar Jember - Kekalahan JDM dari Islam Makhachev di UFC 322 menjadi titik balik besar dalam karier sang juara kelas welter.
Setelah lima ronde dominasi penuh dari Makhachev, JDM harus menyerahkan sabuk juara.
Para analis MMA menyoroti bahwa kelemahan JDM paling jelas terletak pada pertarungan bawah.
Makhachev menunjukkan bahwa dia bisa membawa duel ke lantai secara konsisten, dan JDM belum bisa memberikan jawaban yang memadai.
Salah satu strategi jangka panjang yang bisa diambil JDM adalah memperkuat pertahanan takedown dan meningkatkan scramble-nya.
Jika dia bisa membalikkan posisi di lantai, masa depan bisa masih sangat cerah.
Tim pelatih mungkin akan menyesuaikan camp latihan: menambahkan sesi wrestling intensif, sparring dengan pegulat elite, dan drill pertahanan takedown agar JDM lebih siap menghadapi tekanan grappler seperti Makhachev.
Namun, bukan berarti JDM sama sekali tak punya peluang dalam strike.
Dia tetap dikenal sebagai striker fatal, dan kombinasi pukulan tubuh serta variasi jarak bisa menjadi senjata utamanya untuk pertarungan berikutnya.
Secara mental, kekalahan ini bisa menjadi ujian besar.
Tapi banyak pengamat MMA yang optimis: rekor dan performa sebelumnya menunjukkan bahwa JDM punya tekad dan kapasitas untuk bangkit lebih kuat.
Manajemen JDM kemungkinan kini akanmempertimbangkan matchup ulang dengan petarung berperingkat tinggi, agar dia kembali relevan di divisi welter dan memperjuangkan sabuk lagi.
Beberapa pihak juga melihat peluang JDM bisa turun kelas, tergantung bagaimana timnya menilai kekuatan fisik dan stamina jika tetap di kelas welter.
Evaluasi semacam itu bisa menentukan masa depan jangka menengah.
Dukungan dari penggemar pun masih besar.
Di media sosial, banyak yang percaya kalau JDM bisa menggunakan kekalahan ini sebagai momentum untuk memperbaiki aspek-aspek lemah dalam gaya pertarungannya.
“If Islam gets takedowns it is over … but there are enough unknowns … this is way more interesting than the usual striker vs wrestler,” tulis seorang penggemar.
Jika JDM mampu melakukan rekonstruksi teknis dan mental seperti yang diharapkan, kekalahan ini bisa menjadi batu loncatan daripada akhir dari perjalanan kariernya. (faq)