Radar Jember - Marc Marquez benar-benar memegang kendali penuh klasemen MotoGP 2025 setelah 12 seri.
Dengan jarak 120 poin dari rival terdekat, delapan kemenangan grand prix, dan 11 kemenangan sprint race, musim ini praktis sudah jadi miliknya, kecuali bencana besar menimpa.
Rider Ducati Lenovo berusia 32 tahun itu bahkan diprediksi bisa mengunci gelar di Sirkuit Mandalika, Indonesia, pada 3–5 Oktober, atau paling lambat di Motegi, Jepang.
Jika performa stabilnya (rata-rata 31,75 poin per pekan) berlanjut, ia akan meraih gelar ketujuh di kelas utama, menyamai rekor Valentino Rossi.
Musim Terbaik dalam Karier?
Performa 2025 mengingatkan pada dominasinya bersama Honda di 2019, tahun ketika ia menang 12 kali dan unggul 151 poin—margin terbesar di era modern.
Bedanya, kini Marquez melakukannya setelah cedera parah pada 2020, di usia yang lebih matang, dan di tengah persaingan yang lebih rapat.
Rivalnya pun tak banyak memberi perlawanan berarti.
Adiknya, Alex Marquez, sempat memimpin klasemen di awal musim.
Tapi, gagal meraih banyak kemenangan.
Pecco Bagnaia, rekan setimnya, justru kesulitan beradaptasi dengan motor Desmosedici GP25.
Membandingkan dengan Para Legenda
Valentino Rossi (2005): 11 kemenangan, podium di 16 dari 17 balapan, unggul 147 poin.
Casey Stoner (2007): 10 kemenangan di atas Ducati yang bukan motor terbaik saat itu, unggul 125 poin.
Jorge Lorenzo (2010): 9 kemenangan, unggul 138 poin meski rival utama cedera.
Dari segi motor, GP25 bukan mesin Ducati terbaik.
Motor ini hanya menang sekali di luar tangan Marquez.
Namun, seperti di 2019, ia mampu “menutup lubang” kelemahan motor.
Sesuatu yang diakui Bagnaia tidak bisa ia lakukan.
Editor : Imron Hidayatullahh