KIRGISTAN, Radar Jember - Nama Dmitry Bivol kian harum di dunia tinju internasional setelah sukses merebut kembali status juara tak terbantahkan di kelas light heavyweight.
Kemenangan atas Artur Beterbiev pada Februari lalu membuatnya kini menguasai seluruh sabuk utama: WBA, WBC, IBF, dan WBO.
Bivol lahir di Tokmok, Kirgistan, pada 18 Desember 1990.
Ia mulai mengenal tinju sejak usia enam tahun dan menorehkan prestasi cemerlang di level amatir. Bahkan, termasuk meraih dua gelar juara dunia junior serta medali di berbagai ajang internasional.
Karier profesionalnya dimulai pada 2014.
Dalam waktu singkat, ia sudah menggebrak dengan merebut gelar WBA setelah menumbangkan Trent Broadhurst lewat KO di ronde pertama.
Sejak itu, namanya terus naik sebagai salah satu petinju paling konsisten.
Bivol bukanlah petinju dengan rasio KO mencolok.
Dari 24 kemenangan profesional, hanya 12 yang diraih lewat KO.
Namun, gaya bertarungnya yang rapi, penuh perhitungan, dan minim celah menjadikannya lawan tangguh bagi siapa pun.
Salah satu momen paling bersejarah adalah saat ia mengalahkan bintang besar Canelo Alvarez pada 2022.
Kemenangan angka mutlak itu menegaskan reputasi Bivol sebagai petinju dengan strategi brilian dan kemampuan bertahan luar biasa.
Dengan tinggi badan 183 cm dan gaya orthodox, Bivol memanfaatkan jangkauan serta pergerakan kaki untuk mendikte lawan.
Ia kerap mengandalkan kombinasi jab cepat dan pukulan lurus yang efektif untuk meraih poin.
Di usia 34 tahun, Bivol dianggap sedang berada pada puncak kariernya.
Banyak yang meyakini, jika mampu menaklukkan Beterbiev sekali lagi, namanya akan sejajar dengan legenda tinju Rusia yang pernah berjaya di panggung dunia. (faq)
Editor : M. Ainul Budi