Radar Jember – Legenda MotoGP asal Brasil, Alex Barros, melontarkan kritik pedas terhadap manajemen Ducati dalam menangani dua pembalap top mereka: Marc Marquez dan Pecco Bagnaia.
Ia menyebut bahwa suasana internal Ducati saat ini membuat Bagnaia terisolasi dan kehilangan arah.
Sementara, Marc Marquez justru meroket dengan performa dominan di musim 2025.
Sejak kedatangan Marc Marquez ke tim pabrikan Ducati Lenovo, performa Bagnaia, yang merupakan juara dunia dua kali, kian merosot.
Barros menilai bahwa Ducati gagal menciptakan keseimbangan dan memberi dukungan yang layak kepada Bagnaia.
“Kamu punya pembalap hebat seperti Bagnaia. Bukan yang terbaik menurut saya, tapi dia setara dengan Jorge Martin. Kalau kamu membiarkan dia seperti sekarang, maka musimnya akan tetap gelap,” ujar Barros, dikutip Radar Jember dari laman Motosan.
Motor Ducati GP25 Tak Lebih Baik dari GP24?
Barros juga menyinggung soal performa motor.
Menurutnya, Desmosedici GP25 tidak jauh lebih unggul dari GP24.
Bahkan beberapa pembalap dengan motor 2024 justru tampil lebih baik daripada mereka yang memakai versi terbaru.
“GP25 bukan motor yang lebih baik dari GP24. Hanya punya karakter berbeda, dan hanya Marquez yang tahu cara memanfaatkannya. Seperti era Stoner dengan motor 2007, hanya dia yang bisa menaklukkannya,” jelas Barros.
Barros menggambarkan suasana di garasi Ducati sebagai lingkungan yang tidak sehat untuk pembalap seperti Bagnaia.
“Dia terlihat sedih dan terasing. Semua orang senang saat Marquez menang, tapi tak ada yang menempatkan diri di posisi Bagnaia. Kalau musim depan motor tetap sama, dia bisa saja pergi karena sudah tidak tahu harus apa lagi,” tegasnya.
Kritik Tajam untuk Manajemen Ducati
Barros tak ragu menyalahkan manajemen Ducati, terutama CEO Claudio Domenicali, atas krisis yang dialami Bagnaia.
“Ducati tidak berubah. Orang-orang di dalamnya masih sama. Mereka tak tahu cara mengelola pembalap,” ketusnya.
“Saya pernah di sana, saya tahu apa yang mereka lakukan. Mereka sudah membakar banyak pembalap selama 20 tahun terakhir,” sambungnya,
Menurut Barros, kehadiran Marquez sendiri sebenarnya secara tidak langsung memperkuat tekanan kepada Bagnaia.
“Marquez memperbesar tekanan itu, meski tanpa sengaja. Valentino Rossi dulu juga tahu cara bermain seperti itu. Tapi ujungnya, keputusan tetap di tangan manajemen, bukan pembalap. Kalau besok Marc pergi, Ducati bakal panik,” kata Barros menyentil kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Ancaman krisis di Ducati?
Barros mengakhiri komentarnya dengan pesan yang tajam: jika Ducati tak melakukan perubahan dalam cara mereka memperlakukan dan mendukung pembalap, maka bukan tak mungkin krisis internal akan meledak jika Marquez memutuskan hengkang.
“Kalau kamu hanya mempertahankan pembalap untuk memenuhi kontrak, maka kamu kehilangan arah. Ducati harus berubah, atau mereka akan kehilangan segalanya,” punkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh