Radar Jember - Dalam wawancara bersama media Italia, mantan pembalap MotoGP, Loris Reggiani, membahas berbagai isu di MotoGP 2025.
Mulai dari performa mengecewakan Pecco Bagnaia hingga loyalitas Fabio Quartararo.
Namun, komentarnya paling tajam diarahkan kepada Marc Marquez.
Terutama terkait kontroversi besar yang melibatkan Valentino Rossi satu dekade lalu.
“Musim 2015 mengubah segalanya. Marquez telah melecehkan dunia balap motor. Musim itu mendiskualifikasi dia bukan hanya sebagai pembalap, tapi juga sebagai manusia,” tegas Reggiani, dikutip Radar Jember dari laman Motosan.
Ia mengaku dulunya adalah penggemar berat Marquez, bahkan lebih suka dibanding Rossi.
Namun, insiden 2015 membuatnya kecewa berat.
Reggiani menilai Marquez tak pernah meminta maaf dan itu membuatnya layak mendapat cemoohan dari publik.
“Saya dulu lebih suka Marquez ketimbang Rossi. Tapi sebagai manusia, dia kehilangan banyak hal. Tak heran kalau dia dicemooh. Satu permintaan maaf saja sudah cukup, bahkan kalau itu dilakukan sepuluh tahun setelahnya,” lanjutnya.
Reggiani juga membantah keras tuduhan bahwa Rossi menendang Marquez dalam MotoGP Malaysia 2015, yang jadi awal konflik.
“Rossi tidak pernah menendang Marquez. Bahkan Dorna pun tidak menyatakan itu. Tidak mungkin secara fisik menendang motor 150 kg yang sedang berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, Rossi sebenarnya pantas menjadi juara dunia saat itu.
Ia memimpin klasemen hampir sepanjang musim dan tampil lebih konsisten, meski Jorge Lorenzo akhirnya memenangkan lebih banyak balapan.
“Lorenzo memang menang lebih banyak seri, tapi Rossi lebih konsisten. Kalau tiga balapan terakhir berjalan normal, Rossi akan jadi juara dunia, di usia 36 tahun,” samgbungnya.
Kritik untuk Bagnaia dan pujian untuk Gresini
Berpindah ke musim 2025, Reggiani mengaku kecewa dengan performa Pecco Bagnaia yang tampak tertekan di bawah bayang-bayang rekan setimnya, Marc Marquez.
Baca Juga: Morbidelli Ungkap Peran Besar Valentino Rossi, tapi Juga Berutang Budi kepada Marc Marquez
“Masalahnya bukan karena Bagnaia tidak menang, tapi dia bahkan tidak bisa finis kedua. Itu mengecewakan,” katanya.
Sebaliknya, ia memberi pujian untuk tim-tim satelit Ducati.
Menurutnya, Gresini Racing tampil lebih impresif dari VR46, bahkan dengan line-up Alex Marquez dan rookie Fermin Aldeguer.
“Gresini menunjukkan keseriusan dan kompetensi. Bahkan tampil lebih baik dari VR46 yang seharusnya jadi tim satelit unggulan Ducati,” ungkap Reggiani.
Reggiani juga mengaku terkesan dengan Fabio Quartararo yang tetap setia bersama Yamaha meski tim sedang terpuruk.
“Saya romantik. Saya suka pembalap yang loyal pada merek. Fabio memberi sinyal bagus. Beberapa pole, podium di sprint race,” ucapnya.
Namun, untuk Maverick Vinales, dia tak bisa menyembunyikan kebingungannya.
“Dia membingungkan. Saat diharapkan tampil bagus, dia hilang. Tapi ketika dianggap habis, dia bikin kejutan. Saya kira Acosta atau Binder akan tampil lebih baik di KTM,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh