Radar Jember - Duel panas antara Jeka Saragih dan Joo Sang Yoo di ajang UFC 316 tak hanya menyuguhkan pertarungan cepat, namun juga membuka mata publik tentang potensi besar petarung-petarung Asia di pentas bela diri campuran dunia.
Di balik laga 28 detik itu, tersimpan perjalanan panjang dua sosok yang berasal dari latar belakang berbeda namun punya tujuan sama: menjadi yang terbaik di UFC.
Jeka Saragih merupakan putra daerah asal Simalungun, Sumatra Utara.
Ia lahir pada 1 Januari 1995 dan memulai karier bela diri dari bawah, berjuang di kejuaraan lokal dan nasional sebelum akhirnya mendapat kesempatan tampil di ajang Road to UFC 2022.
Di ajang itu, Jeka berhasil mencuri perhatian setelah mencetak kemenangan KO spektakuler dan melaju hingga final.
Pada November 2023, Jeka mencatat sejarah sebagai petarung Indonesia pertama yang meraih kemenangan di UFC, usai menumbangkan Lucas Alexander melalui TKO.
Kemenangan itu membuat namanya meroket dan disambut antusias oleh publik tanah air.
Namun, langkahnya mulai diuji saat ia harus menerima kekalahan dari Westin Wilson pada Juni 2024 lewat teknik submission.
Satu tahun berselang, Jeka kembali naik Oktagon menghadapi petarung tak terkalahkan asal Korea Selatan, Joo Sang Yoo, dalam partai preliminary UFC 316.
Sayangnya, harapan publik Indonesia harus pupus setelah Jeka tumbang hanya dalam waktu 28 detik akibat hook kiri telak dari sang lawan.
Kekalahan tersebut menjadi yang kedua bagi Jeka di UFC dari total tiga penampilan.
Di sisi lain, Joo Sang Yoo datang ke UFC membawa rekor sempurna dan reputasi besar di negaranya.
Ia dikenal dengan julukan “Zombie Jr”, merujuk pada gaya bertarung agresif seperti seniornya dari Korea, Chan Sung Jung alias "The Korean Zombie."
Joo memulai karier profesionalnya di dunia MMA dengan kemenangan demi kemenangan, dan terus menjaga rekor tak terkalahkannya hingga saat ini menjadi 9-0-0.
Kemenangan atas Jeka Saragih menjadi debut manis bagi Joo di UFC.
Ia langsung mencuri perhatian publik dan media setelah berhasil menyelesaikan laga hanya dalam hitungan detik.
Bahkan, analis UFC Daniel Cormier menyebut gaya pukulan kirinya menyerupai legenda UFC, Conor McGregor.
Namun, Joo merespons dengan santai, “Bukan, ini Joo Sang Yoo,” sambil tersenyum.
Dari sembilan kemenangan yang ditorehkan, empat di antaranya diraih pada ronde pertama, membuktikan bahwa petarung asal Korea Selatan ini bukan sekadar sensasi sesaat.
Ketenangannya saat bertarung, dikombinasikan dengan kecepatan dan akurasi serangan, membuat Joo Sang Yoo diprediksi akan menjadi ancaman baru di divisi bulu UFC.
Kisah Jeka dan Joo memperlihatkan dua sisi perjalanan petarung Asia yang kini mulai unjuk gigi di panggung dunia.
Jeka dengan semangat pionir dari Indonesia yang tengah meniti jalan terjal, dan Joo dengan langkah mantap sebagai bintang baru dari Korea.
Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa Asia kini bukan sekadar pelengkap, tapi mulai jadi pusat perhatian di UFC. (faq)
Editor : M. Ainul Budi