radar jember - Manchester United kembali mendapat sorotan tajam usai menelan kekalahan secara memalukan di kandang sendiri, Old Trafford.
Dalam lanjutan Premier League yang digelar Minggu malam (20/4/2025), skuad muda racikan Ruben Amorim dipaksa bertekuk lutut oleh Wolverhampton Wanderers dengan skor tipis 0-1.
Pertandingan yang awalnya dimanfaatkan Amorim sebagai ajang pembuktian pemain muda justru berubah menjadi titik kritis.
Gol tunggal Pablo Sarabia lewat eksekusi tendangan bebas yang apik pada menit ke-77 menjadi mimpi buruk bagi ribuan pendukung MU yang memadati stadion.
Eksperimen yang Belum Berbuah Manis
Dalam upaya membangun ulang fondasi tim, Amorim menurunkan beberapa wajah baru, termasuk Tyler Fredricson yang menjalani debut di jantung pertahanan.
Namun kepercayaan besar yang diberikan pelatih asal Portugal itu belum mampu dibayar dengan penampilan gemilang. Pertahanan MU masih terlihat rapuh, dan kekompakan antar lini tampak belum terbangun dengan solid.
"Ini bagian dari proses," ujar Amorim dalam konferensi pers usai laga. "Kami memberi menit bermain pada pemain-pemain muda karena itu penting untuk jangka panjang. Tapi tentu saja, kami juga menginginkan hasil yang lebih baik."
MU dan Rekor Buruk yang Terulang
Hasil ini memperpanjang catatan kelam Manchester United di musim 2024/2025. Mereka kini sudah menelan 15 kekalahan di Premier League rekor terburuk sejak era Liga Primer Inggris dimulai pada tahun 1992.
Lebih buruk lagi, delapan di antaranya terjadi di kandang sendiri, menyamai catatan negatif pada musim 1962/63.
Sektor serangan pun masih menjadi sorotan. Meskipun mendominasi penguasaan bola dan menciptakan sejumlah peluang, efektivitas di depan gawang masih menjadi masalah besar. Dengan hanya mencetak 38 gol dari 33 pertandingan liga, produktivitas tim sangat jauh dari standar klub besar Inggris.
Amorim menolak menyalahkan individu seperti Rasmus Højlund yang kerap dikritik karena tumpulnya lini depan. “Masalah ini bukan milik satu pemain. Ini pekerjaan rumah kolektif. Kami harus menyelesaikannya bersama-sama, tegasnya.”
Mentalitas Jadi Sorotan
Lebih dari sekadar statistik, yang paling mengkhawatirkan dari performa MU belakangan ini adalah mentalitas tim. Para pemain terlihat kurang percaya diri dan cenderung panik ketika mendapat tekanan dari lawan. Dalam beberapa momen, inisiatif menyerang yang dibangun dengan baik justru berakhir tanpa penyelesaian matang.
Pelatih berusia 40 tahun itu juga mengisyaratkan bahwa target utama sekarang bukan lagi perebutan tiket ke Eropa, melainkan pemulihan identitas permainan yang sempat hilang.
Sisa Musim Jadi Penentu Masa Depan
Dengan hanya lima pertandingan tersisa di liga, Manchester United masih tertahan di papan tengah klasemen.
Tekanan kini semakin besar menjelang laga-laga krusial, termasuk semifinal Liga Europa melawan wakil Spanyol, Athletic Bilbao.
Jika MU gagal bangkit, musim ini bisa menjadi salah satu yang paling mengecewakan dalam sejarah klub.
Namun terlepas dari segala kritik, Amorim tetap tenang. “Saya datang ke sini untuk membangun proyek jangka panjang. Ini bukan tentang satu pertandingan, satu musim, atau satu hasil. Ini tentang menciptakan masa depan untuk klub ini. Saya percaya, dan para pemain juga harus percaya.”
Kekalahan melawan Wolves mungkin akan dikenang sebagai satu momen pahit dalam era baru Manchester United, tetapi di balik semua itu, proses pembentukan kembali karakter dan kekompakan tim masih terus berjalan. Tantangan berat menanti, dan hanya waktu yang bisa menjawab apakah Amorim mampu mengembalikan kejayaan Setan Merah yang tengah hilang arah.
Editor : M. Ainul Budi