radar jember - Kepergian Megawati Hangestri dari panggung voli Korea tidak hanya meninggalkan ruang kosong di lini serang Red Sparks, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar bagi Indonesia, siapa penerusnya? Di tengah euforia “Efek Megatron”, muncul kekhawatiran akan minimnya regenerasi atlet voli putri Indonesia yang siap tampil di level internasional.
Megawati adalah contoh nyata keberhasilan individu dalam menembus kompetisi luar negeri.
Namun, keberhasilannya justru menyoroti satu masalah besar ketergantungan pada segelintir nama tanpa cadangan talenta yang setara.
Tak banyak atlet muda yang saat ini diproyeksikan mampu mengisi sepatu besar yang ditinggalkan Megawati di kancah global.
Kurangnya pembinaan usia dini menjadi akar dari persoalan ini. Di banyak daerah, fasilitas latihan belum memadai, pelatih belum bersertifikasi, dan akses terhadap kompetisi berskala nasional masih sangat terbatas.
Banyak bibit muda tersebar di penjuru Indonesia, namun terhambat oleh minimnya dukungan struktural.
“Banyak anak-anak daerah yang sebenarnya punya potensi, tapi tidak ada jalur pembinaan yang jelas. Tidak semua bisa pindah ke kota besar demi latihan,” ujar Yuni, pelatih voli junior di Jawa Tengah.
Peran klub dan sekolah saat ini menjadi krusial dalam menjaring bakat. Namun, tidak semua sekolah memiliki program ekstrakurikuler voli yang serius.
Sementara di level klub, hanya segelintir yang punya sistem scouting (pencarian bakat) dan pembinaan jangka panjang seperti yang dilakukan klub-klub di luar negeri.
Federasi Bola Voli Indonesia (PBVSI) pun diharapkan tidak hanya fokus pada kompetisi Proliga, tetapi juga mulai membangun sistem pembinaan terstruktur dari tingkat daerah.
Turnamen usia muda yang berjenjang, pelatihan pelatih secara nasional, serta insentif untuk pembinaan jangka panjang perlu segera digalakkan.
“Salah satu masalah di Indonesia adalah pelatnas sifatnya instan, tidak ada sistem development yang kuat dari usia dini sampai dewasa,” kata Andri Widjaja, pengamat olahraga.
Sistem pelatihan yang ada sekarang dinilai terlalu berorientasi pada hasil cepat. Atlet muda sering kali “dibakar” untuk target jangka pendek, alih-alih dikembangkan secara berkelanjutan.
Padahal, membangun pemain kelas dunia butuh waktu bertahun-tahun, bukan hanya satu musim kompetisi.
Kisah Megawati seharusnya tidak berhenti sebagai inspirasi semata, tapi menjadi pemicu reformasi dalam tata kelola pembinaan atlet voli putri.
Regenerasi tidak boleh hanya bergantung pada bakat alami, tapi harus didukung sistem yang jelas, profesional, dan berkelanjutan.
Jika tidak, maka voli Indonesia hanya akan sesekali bersinar dan kembali tenggelam menunggu bintang baru yang belum tentu muncul tepat waktu.
Penulis: Anik Kholifatul Imania
Editor : M. Ainul Budi