KOTAKULON, Radar Ijen - Tak disangka, ternyata Bondowoso memiliki nama besar di bidang olahraga domino, terutama di wilayah Pulau Jawa. Tak heran jika pada gelaran kompetisi domino tingkat provinsi pada 20 Juli lalu, Bondowoso berhasil memborong kuota semifinal yang mencakup empat meja. Final pun tak dipertandingkan.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Bondowoso Muhammad Taufik Zarkasih pada Sabtu (3/8) lalu. Pria yang biasa disapa Taufik tersebut mengatakan, Bondowoso mengirim 32 pasang atlet domino. Event tersebut diikuti sekitar 200 pasang atlet domino dari seluruh kota di Jawa Timur.
Dia menjelaskan, Bondowoso berhasil menyapu bersih peserta di babak semifinal. Bahkan Taufik mengaku, juara satu sampai empat diserahkan kepada kontingen Bondowoso yang lolos ke semifinal tanpa tanding. "Pada babak perempat final, satu meja diisi atlet Bondowoso. Sehingga satu tiket semifinal dikantongi," tuturnya.
Sementara, di tiga meja lainnya, seluruhnya diisi atlet Bondowoso yang masing-masing melawan atlet Surabaya, Tangerang, dan Balikpapan. "Dan semuanya lolos semifinal. Terus karena di semifinal semuanya Bondowoso, akhirnya tidak dipertandingkan, karena semua juaranya yang satu sampai empat itu dari Bondowoso," tutur Taufik.
Taufik menjelaskan, total hadiah yang para atletnya dapat dari event tingkat provinsi tersebut senilai sekitar Rp 17 juta. Dari hasil event yang diselenggarakan oleh Pordi Jawa Timur itu, Taufik semakin optimistis giliran Bondowoso menjadi tuan rumah gelaran domino pada Oktober nanti.
Pria asli Bondowoso itu menjelaskan, Bondowoso memiliki potensi yang besar di bidang olahraga domino, meskipun cabang ini belum masuk dalam naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). "Se-Bondowoso ada 400 lebih anggota Pordi Bondowoso. Tersebar di 19 gardu di tujuh kecamatan. Setiap gardu anggotanya beragam. Mulai dari 10 sampai 45 anggota," tutur Taufik.
Taufik juga menjelaskan, selama ini Pordi Bondowoso mengadakan liga setiap satu bulan sekali. Bukan hanya untuk mengasah kemampuan atlet, tetapi juga mempererat tali persaudaraan. "Yang terpenting, tujuan Pordi adalah menyosialisasikan bahwa permainan domino bukan fasilitas perjudian, melainkan olahraga resmi," pungkasnya. (hlb/c2/bud)
Editor : Radar Digital