Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kontroversi Pembukaan Olimpiade Paris 2024 Penyelenggara Meminta Maaf atas Dugaan Parodi “Last Supper” Atau "Perjamuan Terakhir"

Radar Digital • Rabu, 31 Juli 2024 | 21:57 WIB
Sumber foto: Instagram Resmi Paris Olympics 2024
Sumber foto: Instagram Resmi Paris Olympics 2024

 

Radar Jember – Panitia penyelenggara Olimpiade Paris 2024 menyampaikan permohonan maaf kepada umat Katolik dan kelompok Kristen lainnya setelah menimbulkan kontroversi dalam upacara pembukaan Olimpiade Paris 2024.

Sebuah adegan dalam acara tersebut menampilkan pertunjukan yang dinilai memparodikan lukisan terkenal Leonardo da Vinci, "Perjamuan Terakhir," yang memicu kemarahan dari berbagai pihak.

Adegan yang diperdebatkan tersebut menampilkan drag queen, model transgender, dan seorang penyanyi telanjang yang didandani sebagai Dewa Anggur Yunani, Dionysus.

Pertunjukan tersebut berlangsung di tepi Sungai Seine dan dianggap melecehkan oleh Gereja Katolik dan kelompok konservatif di seluruh dunia.

“Jelas tidak pernah ada niat untuk tidak menghormati kelompok agama mana pun. Upacara pembukaan tersebut bertujuan untuk merayakan toleransi komunitas,” kata juru bicara Paris 2024, Anne Descamps, dalam sebuah konferensi pers.

“Kami percaya bahwa tujuan ini telah tercapai. Namun, jika ada yang merasa tersinggung, kami sangat menyesal.” Lanjutnya.

 

Adegan tersebut juga menimbulkan reaksi dari pejabat gereja.

Uskup Agung Charles Scicluna dari Malta menyatakan kekecewaannya dan menyebut adegan tersebut sebagai penghinaan terhadap umat Kristen.

Ia bahkan menghubungi duta besar Prancis di Malta untuk menyampaikan keluhan resmi.

Uskup Agung Charles menulis dalam sebuah pesan yang dibagikan di media social

"Saya ingin menyampaikan rasa kecewa dan kekecewaan besar saya atas penghinaan terhadap kami umat Kristen selama upacara pembukaan ... ketika sekelompok artis drag meniru Perjamuan Terakhir Yesus."

Sementara itu, Hugo Bardin, seorang seniman drag yang tampil dalam adegan tersebut, merasa kecewa atas permintaan maaf dari Paris 2024.

“Permintaan maaf berarti mengakui bahwa ada kesalahan, dan bahwa Anda dengan sengaja melakukan sesuatu untuk menyakiti, padahal tidak demikian,” kata Bardin.

“Yang mengganggu orang bukanlah karena kita mereproduksi lukisan ini, tetapi karena orang-orang queer yang melakukannya.” Sambungnya.

Thomas Jolly, direktur artistik di balik upacara pembukaan yang flamboyan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menyinggung perasaan siapa pun atau untuk meniru "Perjamuan Terakhir".

Ia menjelaskan bahwa adegan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan pesta pagan yang berhubungan dengan dewa-dewa Olympus.

“Kalian tidak akan pernah menemukan keinginan untuk merendahkan siapa pun, dalam karya saya” ujar Jolly kepada BFMTV.

“Kami ingin berbicara tentang keberagaman. Keberagaman berarti bersama-sama. Kami ingin memasukkan semua orang, sesederhana itu.”

Sementara itu, panitia menyatakan bahwa survei yang dilakukan oleh kelompok survei Harris menunjukkan bahwa masyarakat Prancis secara umum memberikan respons positif terhadap upacara pembukaan tersebut.

Prancis dikenal dengan warisan Katolik yang kaya, namun juga memiliki tradisi panjang dalam hal sekularisme dan anti-klerikalisme.

Penistaan agama dianggap legal dan bagi banyak orang merupakan pilar penting dari kebebasan berbicara.

Meskipun demikian, gereja Katolik di Prancis mengkritik upacara tersebut dan menyebutnya mengandung unsur ejekan dan olok-olok terhadap Kekristenan.

Beberapa komentator menyebut kontroversi ini sebagai contoh terbaru dari perang budaya abad ke-21 yang dipicu oleh siklus berita 24 jam dan media sosial.

Namun, pihak penyelenggara Olimpiade tetap berdiri pada pendirian mereka bahwa acara tersebut dimaksudkan untuk merayakan inklusivitas dan toleransi.

Reaksi keras juga datang dari pemimpin politik internasional, seperti Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, yang berbicara tentang "kekosongan moral Barat".

Sementara itu, Matteo Salvini, pemimpin partai Liga sayap kanan di Italia, menggambarkan segmen tersebut sebagai "hina".

Di tengah kontroversi ini, penyelenggara tetap berharap bahwa acara Olimpiade ini dapat menjadi platform untuk menyampaikan pesan-pesan inklusivitas dan persatuan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

 

Editor : Radar Digital
#Olimpiade Paris 2024