Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rois Guru Olahraga Kantongi Lisensi Wasit Tinju Dunia

Safitri • Kamis, 16 Februari 2023 | 23:18 WIB
Terlihat dalam foto Muhammad Rois ketika menjadi wasit di atas ring. Dia satu-satunya wasit tinju berlatar belakang pendidik.
Terlihat dalam foto Muhammad Rois ketika menjadi wasit di atas ring. Dia satu-satunya wasit tinju berlatar belakang pendidik.
SURABAYA,RADARJEMBER.ID - Pria bernama Muhammad Rois itu, kini sudah tidak muda lagi. Berada di atas ring pun sudah jarang dia lakukan sekarang. Kecuali saat ada laga besar. Sebab, Muhammad Rois kini lebih banyak menjadi supervisor wasit tinju.

BACA JUGA : Selama 20 Tahun Rumah Yutriana Dipenuhi Sampah

Tugasnya adalah mengawasi semua perangkat pertandingan. Untuk menjaga kebugaran, berlari dan skipping rutin dilakukan. Selain menjaga fisik, kakinya juga dituntut harus tetap lincah ketika di atas ring.

Tubuh lelaki itu tetap terjaga di usia mengijak 58 tahun tentu sangat membantu profesinya itu. Rois punya cara sendiri untuk melerai petinju. Menurut dia, kalau salah cara, risiko bisa fatal. Bukan berhasil melerai, malah KO terkena pukulan.

Apalagi bila laga dipimpin partai tinju amatir. Sebab, pukulannya tidak terkontrol. ’’Kalau wasit kepukul ya sering. Alhamdulillah, saya belum pernah.”kata Rosid.Baju terciprat darah petinju sudah biasa dialami Rois.

Termasuk mencium bau keringat petinju. Semuanya dijalani secara profesional. Pria kelahiran Sidoarjo tersebut mengungkapkan, tidak dimungkiri, aroma keringat di atas ring itu berbeda. Apalagi saat memimpin pertandingan petinju dari negara tertentu.

Ada prinsip dipegang Rois. Apa pun dialami di ring tidak boleh diungkapkan. Tidak boleh ada perkataan rasis. Bicara pun hanya sewajarnya. Hal itu pulalah membuat Rois mengantongi lisensi dari International Boxing Federation (IBF) dan World Boxing Organization (WBO).

Rois menuturkan, sebetulnya bahasa Inggrisnya kurang bagus. Tapi, kalau sekadar ngomong masih bisa. Nah, di atas ring tidak butuh banyak bicara. Paling di awal saja saat tes. Itu pun bisa diakali dengan banyak cara. Terlebih, pada 2000-an proses mendapat lisensi itu tidak rumit.

Kariernya menjadi wasit tinju dimulai dari membaca koran ini, Jawa Pos. Persisnya di halaman Olahraga pada 1989. Dia masih ingat betul persyaratan apa saja. Misalnya, wajib sarjana dan usianya minimal 25 tahun. ”Saat itu usia saya belum genap 25 tahun.”imbuh Rois.

Waktu itu, ada ratusan calon wasit ikut pelatihan. Seleksi pun terjadi. Dari ratusan orang tersebut, hanya tersisa lima orang. Tahun 2000-an perjalanan internasional itu dimulai. Mulai ke Filipina, Thailand, hingga Korea Selatan dia jalani.

Partai kejuaraan WBO dan IBF pun dia pimpin. Kenangan manis juga diingatnya. Tepatnya saat bertugas di Filipina. Tak tanggung-tanggung, dua kejuaraan WBO dan IBF dia pimpin dalam waktu sepekan.

Soal bayaran jangan ditanya. Satu kali partai, dia bisa mendapat USD 1.000 atau minimal Rp 15 juta. ”Ini kalau di luar negeri dan kejuaraannya besar.”terang alumnus IKIP Negeri Surabaya (kini Unesa) angkatan 1988 itu.

Kenangan pahit pun pernah dirasakan Rois. Pada 2008, dia bertugas ke Thailand. Pertandingan sudah berakhir. Sayangnya, saat itu terjadi peristiwa politik. Rois akhirnya tidak bisa pulang. Seminggu dia berada di Bangkok.

Untungnya, semua biaya ditanggung promotor. Dia pun kembali ke tanah air setelah dijemput pesawat untuk rombongan WNI. Guru SMPN 60 Surabaya itu mengatakan, setelah memimpin pertandingan, komunikasi dengan kedua petinju dibatasi.

Meskipun, sering juga makan bersama kedua petinju lengkap dengan luka masing-masing di wajah. ”Sekadar makan tapi tidak komunikasi, ini wujud profesional.”ucap Rois. Wasit tinju berlisensi internasional berasal dari guru aktif masih jarang dan cuma Rois. (*)

Editor : Winardyasto HariKirono

Foto:M.Rois untuk Jawa Pos

Sumber Berita:jawapos.com

  Editor : Safitri
#TINJU