Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesaksian Korban Selamat Tragedi Kanjuruhan, Loncat Keluar Tribun

Safitri • Senin, 3 Oktober 2022 | 20:13 WIB
Photo
Photo
MALANG, RADARJEMBER.ID – Yang terakhir ada di ingatan Afrizal Wisnu adalah gas air mata dan disemburkan ke arah tribun 12 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Mata remaja 16 tahun itu terasa perih, hidungnya juga tiba-tiba kesulitan bernapas.

BACA JUGA: Dua Warga Jember Meninggal Jadi Korban Kerusuhan Kanjuruhan, Satu Kritis

“Pas sadar, saya sudah tiduran di kamar rumah sakit,” kata siswa kelas XI salah satu SMK di Malang, Jawa Timur, saat ditemui Jawa Pos di RSUD dr Saiful Anwar, Kota Malang, kemarin  Minggu (2/10).

Begitu gas air mata datang, Wisnu tidak sadarkan diri. “Saya semaput, Mas. Saya tidak tahu siapa yang nolong sampai ke rumah sakit. Katanya sih ditolong sama anak Aremania Pasuruan,” bebernya.

Setelah sadar, Wisnu tidak langsung pulang. Kondisinya memang sudah sehat. Tapi, dia masih menunggu kabar dari temannya. “Ada teman dari Probolinggo yang ikut lihat. Tapi, sampai sekarang belum tahu kabarnya,” beber Wisnu.

Hatinya belum tenang. Dia sampai menunggu di kamar jenazah rumah sakit tempat dia dirawat. Muhammad Ilham adalah pasien yang bersebelahan dengan Wisnu. Bedanya, dia berasal dari Tulungagung, kota di sisi selatan Jawa Timur.

Mamad, begitu dia akrab disapa, berangkat dengan tujuh temannya dengan menggunakan motor.  “Begitu (gas air mata) ditembak, pandangan saya langsung kabur. Lihat apa-apa nggak jelas,” ungkap remaja 17 tahun itu.

Mamad langsung cepat-cepat keluar. Dia sempat berdesakan. Tapi kemudian meloncat menuju jalur ambulans. “Begitu sampai di luar, saya diberi air mineral. Nggak tahu dikasih siapa. Saya langsung cuci muka, minum, alhamdulillah selamat,” kata Mamad.

Bagaimana dengan tujuh teman lainnya? Satu di antaranya meninggal dunia. “Saya nggak sempat memikirkan kondisi teman-teman. Pas ada gas air mata, semua sudah mencar (berpencar),” tambah Mamad.

Faiz Alfikri tak seberuntung Wisnu dan Mamad. Dia menjadi salah seorang korban meninggal tragedi Kanjuruhan yang menelan total korban jiwa terkonfirmasi 125 orang. Kemarin pagi, sang kakek, Guntur Widya, datang ke RSUD dr Saiful Anwar dengan mata sembab.

“Padahal, cucuku itu jarang lihat Arema di stadion. Paling kalau lihat ya pas laga besar saja seperti lawan Persebaya. Ya Allah, kok jadi gini sekarang,” ucapnya saat ditemui Jawa Pos. Raut wajahnya berubah garang ketika membahas penyebab kematian sang cucu.

Nadanya agak tinggi. Dia menyalahkan gas air mata ditembakkan polisi. “Polisi itu gimana sih? Mau menyelesaikan masalah kok malah menimbulkan korban. Apa memang seperti itu cara polisi menyelesaikan masalah di stadion?” kata pria 57 tahun itu.

Faiz adalah cucu pertama Guntur. Dia terpukul. Karena itu, dia berharap ada pihak  bertanggung jawab atas insiden kali ini. “Bagaimana ini Pak Kapolri penyelesaiannya? Kalau tidak bisa mengamankan laga, seharusnya laga itu tidak usah diberi izin sekalian,” tegas Guntur.

Jenazah para korban itu datang kemarin pagi di RSUD dr Saiful Anwar. Dan, 17 di antaranya belum teridentifikasi. Beberapa orang yang merasa kehilangan keluarganya langsung menuju kamar jenazah.

Tapi, mereka tidak bisa masuk. Pihak rumah sakit kemudian mengeluarkan 17 foto jenazah belum teridentifikasi. Mereka yang merasa kehilangan langsung menyerbu foto itu. Begitu melihat salah satu foto, tangis Supiati langsung pecah.

Di gambar itu, ada foto keponakannya yang sudah terbujur kaku. Dia melihat foto jenazah itu dengan saksama, lalu mencocokkan dengan foto kelulusan keponakannya. ’’Ya Allah, iyo iki ponakanku. Kok iso ngene (Ya Allah, ini keponakanku. Kok bisa jadi begini?’’ kata dia.(*).

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Alfian Rizal/Jawa Pos

Sumber berita:jawapos.com

  Editor : Safitri
#Sepak Bola #Tragedi Kanjuruhan