Baca Juga : Gangguan Pendengaran Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Pelatih klub Children Basketball, di Kabupaten Jember, Devita Putri Christanti, mengungkapkan, dalam pelatihan usia dini harus memiliki teknik khusus. "Mini basket ada tekniknya sendiri," kata Devi, Jumat (18/3).
Nah, perbedaan teknik inilah yang menjadi salah satu semangat permainan mini basket serta yang membedakan dengan senior basket. Jadi, anak tetap bisa bermain mulai bangun tidur sampai tidur kembali, dan yang ada dalam pikirannya adalah bermain.
Maka dari itu, wajar apabila bermain merupakan salah satu prinsip dasar dalam pendidikan anak usia dini. Salah satunya prinsip permainan yang tepat untuk mengajarkan anak, yakni dari aktivitas olahraga.
Bola basket sendiri merupakan olahraga yang dimainkan secara beregu dan membutuhkan teknik khusus ketika memainkannya. Mulai dari dribbling, passing, shooting, laying up, dan berbagai teknik lainnya. Teknik-teknik tersebut memberikan banyak manfaat bagi kesehatan fisik siapa pun yang memainkannya. Maka dari itu, tak salah jika memperkenalkan olahraga ini kepada anak sejak usia dini.
Pada dasarnya usia dini merupakan masa bermain. Kendati demikian, pihaknya memodifikasi pelatihan dengan sistem bermain. Alhasil, anak-anak merasa enjoy dan bisa menyerap materi yang disampaikan.
Dalam mini basket, Devita menekankan pentingnya proses yang terjadi ketika anak bermain. Pendidikan bola basket untuk anak usia dini merupakan wadah untuk menanamkan fundamental permainan bola basket yang benar. Namun, tetap dengan peraturan yang lebih sederhana ketimbang senior basket.
"Prinsipnya, mini basket itu bermain, tidak melelahkan, kompetitif (bukan dalam pertandingan, Red), semua bermain, peraturan sederhana, mengedepankan etika dan fair play, serta menyenangkan," kata Devi.
Teknik dasar yang dilakukan pada umumnya sama, yang membedakan yaitu dari porsi latihan. Bahkan bola yang digunakan juga berbeda. Untuk usia dini sekitar kelas satu sampai tiga SD menggunakan ukuran bola tiga. "Tentu saja agar genggaman bola lebih efektif," katanya.
Teknik dasar bagi usia dini yaitu cara memegang bola. Selanjutnya, teknik passing dan cara memantulkan bola. Berikutnya cara memainkan bola dengan passing juga dribbling.
Klub yang bermarkas di Lapangan Serbaguna Kaliwates tersebut sedikit demi sedikit melangsungkan sparing dengan klub lain. "Kami kemarin ke luar, sparing dengan anak-anak Malang. Di samping kami bermain, juga melatih mental para pemain muda ini," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sparing ke luar kota merupakan langkah awal yang baik untuk perkembangan mental para pemain usia dini. Sementara itu, asisten pelatih tim basket putri Jember untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim, Sya’roni, mengatakan, dalam melatih pebasket usia dini tentu diberi hal yang menyenangkan. “Harus dibuat senang,” paparnya.
Menu latihannya pun dribble dan passing. “Jangan buru-buru shooting dulu,” jelasnya. Bila terus latihan dribble, maka secara otomatis juga melatih shooting. “Karena gerakan dribble juga melatih otot pergelangan tangan. Pergelangan tangan juga membantu untuk kekuatan shooting,” terangnya.
Hal yang tak kalah penting, kata dia, yakni peran orang tua. “Orang tua harus sabar antar jemput. Selain itu, juga pemenuhan gizi, karena usia dini itu masa pertumbuhan. Biasakan pula makan sayur dan buah,” terangnya.
Bila anak sudah ingin berlatih bola basket, maka orang tua juga support. “Orang tua juga jangan buru-buru anaknya prestasi. Prestasi itu proses, bahkan kekalahan dalam bertanding itu juga proses,” terangnya.
Sya’roni, yang juga membentuk klub basket CBB, menjelaskan, usia paling muda untuk mengawali berlatih bola basket adalah kelas 1 SD. “Terpenting buat mereka senang,” pungkasnya.
Jurnalis : mg2
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Editor : Safitri