“Kalau belajar skateboard, terpenting adalah ikhlaskan tubuh itu terjatuh,” ucapnya Rahadian Azhari Maulana, Ketua Djember Skateboard. Perkataan tersebut selalu diucapkan terlebih dahulu kepada orang tua bila ingin anaknya belajar papan luncur. “Kalau anak mau bisa belajar skateboard, orang tua harus ikhlas anaknya terjatuh,” imbuhnya.
Tidak hanya untuk anak-anak, kalau dia masih awam, meski dewasa laki-laki atau perempuan, harus rela bergelimpangan di atas lantai atau aspal. Menurut dia, hal itu adalah proses yang harus dilalui. Sebab, permainan ini menitikberatkan pada koordinasi tubuh untuk mencapai keseimbangan.
Agar tidak sampai berakibat fatal, maka para pemain harus memakai alat pelindung diri. Mulai dari helm, pelindung lutut, dan siku. “Kalau pakai sepatu itu wajib. Jadi, bermain skateboard itu harus bersepatu,” ungkapnya.
Selain itu, juga ada teknik terjatuh agar aman. Salah satu contohnya, bila bermain di tempat ketinggian atau meluncur dari tempat tinggi dan terjatuh, maka lebih baik menjatuhkan lutut yang diberi pelindung terlebih dahulu. Sebab, ketika lutut dulu, maka tubuh akan terguling. “Kalau terjatuh dan terguling itu tidak masalah. Terpenting kalau jatuh jangan menahan dengan kekuatan yang dimiliki. Relakan dan pasrah saja,” ucapnya.
Dia menjelaskan, di Jember, skater perempuan memang sedikit. Problemnya, kata dia, perempuan itu cenderung malu bertanya. “Mau mencoba dan belajar skateboard, malu duluan. Kalau di kota besar, orangnya cuek-cuek,” tuturnya. Sementara itu, bila skater cewek bertanya ke cowok, juga serba repot. Karena terkadang yang cowok baper duluan.
Secara umum, dia menambahkan, dengan banyaknya tutorial bermain skateboard di YouTube, sejatinya memberikan banyak gambaran bagaimana bermain papan luncur yang benar. Walau begitu, tetap ada minusnya bagi skater pemula. “Bagi pemula harus matangkan dulu teknik ollie,” jelasnya. Ollie adalah cara skater untuk jumping.
Sementara itu, Winda Handarini mengatakan, dirinya mulai tertarik bermain skateboard sejak lama. “Waktu sekolah sebenarnya sudah tertarik, tapi belum tahu bagaimana caranya,” terang mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) ini.
Puncaknya sekitar setahun lalu. Persisnya setelah perempuan 21 tahun ini kerap melihat video skateboard. Akhirnya, dia memberanikan berlatih olahraga papan luncur. “Ternyata sepupu kenal sama anak skater Jember. Akhirnya ada jalan untuk berlatih bersama,” ucapnya.
Dia mengaku, saat kali pertama berlatih juga merelakan tubuhnya terjatuh. Bahkan, meski sampai bengkak, Winda tetap berlatih, karena memang ingin mahir bermain skateboard. Dia mengaku, hingga setahun lamanya berlatih, dirinya masih tetap berlatih ollie. “Kalau ollie sih bisa, tapi belum mahir. Ini masih terus belajar,” terangnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih
Editor : Ivona