Ya, dari tangan manis petenis putri inilah nama kabupaten berlogo tembakau tersebut harus diperhitungkan. Lantas, bagaimana mengolah kemampuan atlet tenis putri?
Siang kemarin (17/9), penampilan petenis putri Jember yang telah lolos seleksi cabor tenis lapangan untuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim berbeda. Mereka lebih fresh dan lebih kece. Mahkota petenis putri yaitu rambut diubah sedikit dengan tambahan warna. Ada yang ditambah warna merah dan pirang. Tapi, juga ada yang memilih untuk berhijab, salah satunya yaitu Fauziah Azzahro.
Pada ajang Porprov Jatim 2019 lalu, perempuan 21 tahun ini mempersembahkan medali emas di nomor ganda putri bersama Chofifah Indar Paraswati. Dia bisa tampil oke karena terus konsisten latihan. Tantangan menjadi petenis putri untuk siap bermain di bawah terik matahari juga diakui oleh Fauziah. “Sempat takut hitam. Ya, memang begitu. Sampai sekarang, ya, masih,” terangnya.
Perasaan ini mulai muncul ketika sudah memasuki bangku SMA dan kuliah. Apalagi gadis yang akrab disapa Uzi ini sering menghabiskan waktu dengan berlatih di bawah terik matahari.
Menurutnya, hal itu juga wajar dan normal bagi perempuan. Meski demikian, Uzi akhirnya bisa melawan rasa takut hitam dan memilih tetap berlatih walau di terik matahari, karena sudah telanjur meniti prestasi di dunia tenis. “Kalau takut hitam dan tidak mau latihan lagi, ya eman. Karena waktu kecil dulu telah menghabiskan waktu untuk berlatih. Jadi, ya, sayang untuk berhenti, hanya karena takut kulit hitam,” ungkapnya.
Masa-masa tersebut telah dilewati oleh Fauziah. Hingga kini dia terus berlatih bersama skuad tim tenis lapangan Kabupaten Jember yang disiapkan untuk Porprov Jatim 2022. Justru, menurut dia, berlatih di bawah terik matahari lebih memperkuat ketahanan fisiknya. “Apalagi saat ini pandemi, orang rajin-rajin berjemur. Kami atlet tenis sudah jadi sarapan kalau berdiri di bawah sinar matahari,” terangnya.
Sementara itu, pelatih tenis Jember, Heri Riono, mengatakan, untuk melatih atlet putri perlu ada kreasi sedikit ketimbang melatih atlet putra. Dia mengaku, saat petenis putri itu masuk SMA dan kuliah, mulai muncul fase kesulitan melatih. Sebab, kata dia, dalam fase tersebut atlet putri cenderung mulai tidak disiplin dalam latihan. “Jadwal latihannya pukul 14.00, datangnya pukul 16.00. Ya, berbagai alasan, mulai tugas sekolah dan lainnya,” ungkapnya.
Melihat kondisi seperti itu, Heri melakukan treatment sedikit keras kepada anak didiknya. “Kalau latihan pukul 14.00 siang tidak hadir, ya, dimajukan pukul 12.00 siang. Tambah panas lagi,” ungkapnya. Walau begitu, Heri juga tidak melulu keras dalam latihan. “Kadang bercanda, keras, dan ada pendekatan lainnya. Agar atlet ini tidak takut sama pelatih. Kalau keras terus, ya, takut,” kelakarnya.
Dia mengaku, saat petenis putri itu memasuki akhir masa SMP hingga awal SMA, pendekatan dilakukan lewat orang tua atlet. Alasannya serupa seperti yang disampaikan Uzi. Takut hitam lantaran sering latihan di bawah sinar matahari. Untuk itu, Heri juga terus memberikan motivasi untuk petenis putri.
Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Jember Soetriono mengatakan, petenis putri di Jember secara prestasi sangat hebat dan rutin mempersembahkan medali di Porprov. Menurutnya, hal itu karena ada pelatih yang sabar bagaimana mengolah atlet putri, yaitu Heri dan Andik.
Dia tak menampik jika untuk petenis putri tantangan terbesar adalah waktu masuk SMA dan kuliah, atau telah mengenal lawan jenis. “Artinya, perempuan lebih ingin tampil cantik dan takut hitam,” pungkasnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Ivona