Pandangan tajam dengan napas diatur sedemikian rupa menjadi ciri khas dalam membidik sasaran. Ini agar tangan pemanah tidak banyak goyang. Sekali hentak, anak panah melesat cepat ke arah target. Begitulah yang setiap kali dilakukan oleh Bernadeta Verrel Vania. Ketika bertemu dengan Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini, wajah seriusnya seketika berubah dengan senyum bahagia. Sebab, anak panahnya mengenai sasaran pada lingkaran berwarna kuning.
Perempuan 20 tahun ini tengah serius untuk kembali mendalami latihan panahan setelah sekian lama tidak aktif di dunia archery. Verrel sejatinya mulai menggeluti panahan sudah lama. Sekitar 2016–2017 lalu. “Setelah itu vakum dan baru dua minggu ini belajar lagi,” terangnya.
Dua pekan kembali pegang busur dan anak panah membuat ketenangan dan ketajaman membidik kembali seperti dulu. “Karena dasarnya sudah punya, jadi bisa cepat. Dulu, ya, butuh waktu,” paparnya.
Sebelum memulai kembali dengan panahan, Verrel berlatih menguatkan otot tangannya dengan power resistance band atau sebuah karet yang biasanya untuk yoga dan gym. Hal itu dilakukan agar lebih mudah menarik dan menahan busur panah.
Awal mulai berlatih, 2016 lalu, gadis berparas menawan ini mengaku, awalnya cukup berat menjalani latihan panahan. Butuh kekuatan, terutama dari sisi lengan dan bahu. Bahkan, ketika pertama kali latihan, Verrel sempat tak memiliki cukup kekuatan untuk menarik busur yang dia genggam. “Dulu, ya, melenceng dari target. Menarik saja tidak kuat,” ungkapnya.
Agar tangan dan jarinya kuat, kala itu Verrel melatih dengan pull-up dan push-up. “Tapi, push up-nya hanya diam setengah. Tidak naik turun,” terangnya. Latihan fisik seperti itu bisa memperkuat lengan dan bahu. Jadi, bisa lebih kuat menarik busur dan anak panah.
Sekitar tiga bulan Verrel baru bisa mengoptimalkan busur panah. Bahkan, kala itu, sebelum menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember, dia juga sempat mengikuti ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda).
Dia memilih panahan sebagai olahraga yang digeluti, karena sejak kecil memang suka panahan. Meski cita-citanya itu baru terwujud saat duduk di bangku SMA. “Dulu saya kira enteng, ternyata untuk menarik busur juga susah. Setelah bisa, ya, menikmati,” tuturnya.
Sementara itu, Donny Frisky Anto, pelatih panahan dari Lilies Handayani Srikandi Archery School (LHSAS) Jember, menjelaskan, untuk bisa bermain panahan, setidaknya butuh tiga bulan latihan. “Dari pengalaman melatih remaja putri dari nol sampai siap kejuaraan, itu dilatih sekitar tiga bulan,” terangnya.
Awalnya, setiap hari latihan dan satu sampai dua hari libur latihan. Dia juga mencontohkan Jihan Olivia, Ning Jember, yang berlatih panahan dari nol hingga mahir dan bisa mengikuti kompetisi. Dia harus latihan intensif selama tiga bulan.
Menurutnya, olahraga panahan ada banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Salah satunya meningkatkan koordinasi antara tangan, mata, dan keseimbangan. Juga meningkatkan fokus, kesabaran, hingga ketenangan.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih
Editor : Ivona